“Bukankah batu itu berasal dari sini, dari planet Zenus?” Charge menyambar percakapan, mau tidak mau ia juga terjerat kebingungan yang sama karena Charge pun mendengar cerita Elon saat di dasar jurang itu.
“Bagian itu memang benar, Tuan Charge. Yang aku maksud, jika kalian ingin meneliti kedua batu itu, kalian harus datang langsung ke sumbernya. Sumbernya adalah daerah pegunungan Vellmont, terletak di barat daya Zenus. Jauh dari istana ini.”
Ekspresi yang terukir di wajah keduanya seolah mengatakan: “Oh, jadi begitu.”
“Kau benar ingin pergi ke tempat itu?” Ada sedikit nada peringatan terselip dalam pertanyaan Raja Genos dan dua manusia itu tidak mengerti apa artinya.
Tidak ada diskusi, tanpa pikir panjang, hanya ada tekad. Nada suaranya mantap penuh keyakinan. “Aku akan ke sana!”
“Aku akan menemaninya,” sambung Charge. Orang tua itu setia kawan juga.
“Baiklah, besok pagi aku akan mengirim seseorang, dia akan mengantar kalian ke sana.”
Di dalam hati Cloud bersorak girang begitu mendengarnya.
“Jendral, antar mereka ke tempat peristirahatan. Setelah ini kau bisa kembali ke markas untuk melatih para prajurit,” perintah raja tak terbantahkan.
“Akan kulaksanakan, Yang Mulia.” Elon sang jendral setia tentu akan menurut. Mengantar Cloud Charge ke tempatnya adalah hal sepele.
Yang Mulia Raja Genos akhirnya benar-benar meninggalkan ketiganya di ruangan itu, ia kembali menduduki singgasana, di sana telah menunggu beberapa orang kepercayaan yang akan ia tugaskan untuk menyelesaikan beberapa hal.
“Ayo, kalian perlu istirahat,” ajak Elon.
Mereka bertiga beriringan menuju tempat peristirahatan.
“Kau yakin benar-benar akan pergi ke Vellmont, Cloud?” Elon membuka percakapan. Sepertinya tempat peristirahatan itu cukup jauh di sudut istana yang luas ini.
“Aku akan pergi! Aku perlu tahu apa yang akan direncanakan pemerintah terhadap batu itu.” Tekad Cloud telah bulat sempurna.
“Kau bisa saja tidak pernah kembali. Kita tidak tahu ancaman seperti apa yang akan menyambutmu di sana.” Elon hanya mengkhawatirkan dua manusia itu.
Tentu saja jika Charge dan Cloud tidak kembali ke Bumi dan malah mati di planet kelabu semua perjuangannya selama ini akan berakhir sia-sia, namun jika tidak pergi, ia tidak tahu bagaimana akan melanjutkan hidup. Petualangan ini menjeratnya erat, tidak mungkin membiarkan Cloud lari begitu saja karena itu berkaitan dengan Sodda temannya yang berharga.
“Aku hidup dari ancaman, satu dua ancaman lagi tidak masalah untukku. Aku tidak takut.” Ia tidak akan membiarkan dirinya mati konyol di tanah asing.
“Tenang saja, Elon, aku akan menjaga anak muda ini.” Charge menyahut enteng.
“Sungguh? Mungkin kau harus menggendongnya jika ada makhluk jahat mengejar kalian, Charge.” Si kelabu ini bisa melucu juga rupanya. Cloud terkikik lucu.
“Hei, hei, aku bisa melakukan apa pun kecuali berlari. Jangan remehkan orang tua ini, Elon.” Maksudnya Charge adalah bertani dan membuat barang-barang kuno di rumahnya.
“Baiklah, Charge, aku percaya.”
Justru Charge yang tidak percaya dengan kalimat Elon, itu jelas kalimat kosong agar percakapan tidak penting itu segera berakhir. Dasar alien kelabu itu.
“Ternyata berpijak di tanah sendiri membuatmu berubah menyebalkan, ya.” Charge bersungut-sungut kesal. Ia memang sudah tua tapi orang tua itu berjiwa muda. Charge telah memutuskan tidak akan kalah di tanah kelabu.
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di tempat peristirahatan, sebuah ruangan luas dengan jendela-jendela besar yang menampilkan hutan kelabu bernaung di bawah langit biru, menyajikan keindahan dalam suasana suram. Dua ranjang yang hanya dilapisi kain tipis tertangkap mata mereka.
“Ini tempatnya. Kalian akan bermalam di sini hingga besok utusan Yang Mulia datang.” Elon mempersilakan mereka menggunakan segala yang ada di ruangan sesuai kebutuhan mereka.
Di saat-saat tenang seperti ini mereka mulai menyadari bau tidak sedap menguar dari tubuh mereka masing-masing. Charge dan Cloud perlu mandi dan berganti pakaian, tapi melihat kontur tubuh penduduk Zenus sepetinya tidak akan ada yang bisa memberikan mereka pakaian.
“Di sini ada air?” Cloud mengendus-endus sekitaran tangan dan bajunya, merasakan badannya lengket oleh keringat, apalagi sejak pertempuran di dasar jurang itu.
“Walaupun kami tidak perlu mandi tapi air di sini bersih dan melimpah.” Informasi baru, penduduk di sini tidak pernah merasakan yang namanya mandi karena tubuh mereka tidak seperti manusia yang mengeluarkan keringat bau?
“Kalian perlu mandi dan pakaian, bukan?” Peka sekali makhluk kelabu ini.
“Dan makanan manusia,” imbuh Charge kelaparan. Makanan terakhir yang masuk ke perutnya adalah camilan yang ia bagikan dengan Cloud saat mengobrol di kamar rumahnya.
“Tentu saja.” Elon berjalan ke sudut ruangan itu. Lalu tiba-tiba sebuah pintu muncul dari tembok yang tadinya polos bahkan tidak terdapat goresan satu senti pun. Pintu itu muncul begitu saja.
“Kalian ingat saat di gua tanganku memanjang hingga mampu melilit kalian yang di luar gua? Unsur setiap partikel dari semua benda di sini sama seperti tubuh kami, kami bisa mengubahnya seperti apa pun kemauan kami. Karena kalian butuh kamar mandi, jadi sudah kusiapkan.” Gagang pintu kamar mandi dicekalnya, memperlihatkan ruangan kecil di dalam sana pada mereka. Cloud mulai berpikir bahwa tempat itu keren.
“Dan yang di atas meja itu adalah makanan.”
Dahi Cloud dan Charge mengernyit aneh. Meja berwarna kelabu itu—seperti semua benda di planet ini—bertatakan wadah-wadah bundar yang isinya apel, anggur, pisang, dan semangka yang juga lagi-lagi berwarna abu-abu. Buah-buahan itu sungguh bisa dimakan? Charge memetik salah satu anggur dari tangkainya, mengamati buah itu, warnanya membuat sedikit enggan dimakan, tapi ia tidak punya pilihan lain. Charge perlahan mengunyah buah anggur, dan tidak buruk. Rasanya sama saja seperti anggur yang pernah ia makan.
“Selamat beristirahat, aku akan ke markas menemui para prajuritku.”
“Baiklah, terima kasih banyak, Elon.”
“Tidak masalah, Cloud.”
“Kau tidak akan ikut mendampingi kami besok?”
“Yang mulia tidak memerintahkanku ikut bersama kalian, tapi dia akan mengirimkan orang yang cocok untuk perjalanan kali ini.”
“Baiklah.”
Diam-diam Charge memasang telinganya lebar-lebar, mulutnya penuh, tangannya aktif memasukkan buah ke dalam mulutnya. Air muka Charge berubah muram mendengar Elon tidak akan ikut bersama mereka. Makhluk yang menemani kepengecutannya di dalam gua saat Cloud bertarung sendirian.
Elon berpamitan pada Charge juga tentunya. “Kalian harus selalu hati-hati dan saling menjaga satu sama lain.” Elon pun meninggalkan mereka.
Sisa waktu tenang mereka manfaatkan sebaik mungkin, Cloud menggunakan kamar mandi lebih dulu, Charge masih menikmati makanannya. Besok mereka menghadapi petualangan baru, pergi ke tempat asing lagi dan mencari jawaban lain, kondisi tubuh harus prima karena mereka tidak tahu apa yang mungkin mereka hadapi di luar sana.
Berjam-jam telah terlewati lagi. Keesokan harinya seseorang menjemput Cloud dan Charge menemui Raja Genos.
Seperti biasa sang raja duduk tenang di singgasana. Di sana telah menunggu satu lagi makhluk sejenis mereka, makhluk kelabu perempuan di Zenus.
“Dia Retch, ajudan kepercayaanku. Retch seperti yang kukatakan, kau akan mengawal Cloud dan Charge menuju pegunungan Vellmont, menemani mereka mencari jawabannya.”
Retch membungkuk khas hamba setia. “Akan aku laksanakan, Yang Mulia.”
Babak baru petualangan Cloud pun siap dimulai.
***
Segala keperluan dan perbekalan Retch siapkan dengan baik demi memenuhi perintah rajanya, ia akan menemani dua mandi menuju pegunungan Vellmont untuk menyelidiki Eracles dan Volenthium.
“Semuanya sudah siap, kita bisa berangkat sekarang,” ujar Ratch.
“Kita menggunakan mobil terbang berbentuk elips ini?” Cloud takjub menatap kendaraan yang mengapung satu meter dari tanah tersebut.
“Apa itu mobil terbang? Ini pesawat rendah, disebut begitu karena hanya mampu melayang di ketinggian kurang dari lima puluh meter,” kata Retch menjelaskan.
Ketika para ilmuan di Bumi berbondong-bondong menciptakan mobil terbang yang hemat listrik lah, atau mobil terbang berkecepatan ratusan kilometer per jam, atau mobil listrik yang mampu menampung bobot ribuan kilogram, di Zenus mereka sudah berkali lipat lebih maju. Mungkin era mobil terbang itu telah tertinggal ratusan tahun di belakang.
“Ini keren.” Begitu ungkapnya melihat interior di dalam pesawat itu. Luasnya kabinnya sekitar 3x4 meter, pastilah pesawat ini diciptakan dengan struktur dan unsur rumit pada mesinnya.
“Biasa saja,” timpal Retch. Tentu saja baginya biasa saja, tapi untuk makhluk primitif ukuran manusia itu, pesawat rendah ini hal yang mampu membuat mata mereka berbinar terkagum-kagum.
“Baiklah, ayo berangkat!” Antusiasme Cloud menjemput petualangan baru, dadanya berdetak dua kali lipat, ia gugup—atau mungkin sedikit takut?—sekaligus bersemangat.
Suara mesin pesawat bergaung lembut—hampir tidak akan jika telinga tidak difokuskan untuk mendengarnya—juga hampir tidak ada guncangan dalam pesawat, mereka bagaikan menginjak tanah yang stabil pun saat pesawat sudah melayang puluhan meter di atas permukaan tanah.
“Barat daya pegunungan Vellmont,” gumam Retch mengutak-atik beberapa tombol di kursi kemudi.
“Seberapa jauh pegunungan Vellmont?” Charge mempertanyakan jarak.
“Pesawat ini bukan pesawat luar angkasa, perkiraan kita akan sampai empat jam kemudian.” Dan Ratch menjawabnya dengan waktu, tidak nyambung, tapi itu jawaban yang sepadan jadi ia tidak akan marah. Charge asumsikan tiga jam lamanya itu untuk ribuan kilometer jauhnya. Jika planet ini diumpakan Bumi, maka pesawat mereka akan melewati beberapa benua. Ya, otak Charge memutuskan untuk berpikir seperti itu.
“Kau sudah pernah pergi sana sebelumnya?” Deretan pertanyaan itu ia keluarkan bukan karena penasaran, tapi hanya untuk membunuh bosan saja.
“Sebelumnya aku hanya pernah menginjakkan kaki di pegunungan Utara untuk suatu tugas lain.” Artinya Retch belum pernah ke Vellmont sebelumnya. Oke, Charge mengerti jadi ia tidak akan marah.
Beberapa kalimat berlalu lagi dengan cepat, orang itu tipe yang mudah akrab dengan orang lain rupanya.
Cloud tidak tertarik memerhatikan atau menganalisis percakapan mereka atau memikirnya lebih jauh karena ia sedang bergelut dengan pikirannya sendiri saat ini, ada sesuatu yang mengganjal di kepalanya.
Mimpi buruk Cloud semalam menghantuinya hingga pagi ini, dalam mimpi itu ia melihat tubuh Charge bagaikan diguyur darah, Charge tidak sadarkan diri, dadanya tidak bergerak sedikit pun untuk mengambil napas, dalam keadaan hening itu Cloud mendengar bunyi degup jantung Charge yang makin lama makin lemah, lalu berhenti total, di dalam mimpi buruk itu Cloud melihat Charge mati mengenaskan dan sebilah pisau berlumuran darah digenggamnya kuat, baju serta tubuhnya yang terkena cipratan darah Charge. Cloud bermimpi ia dengan tega membunuh Charge tanpa alasan.
***