2

1002 Words
"Hati-hati." Sodda membantu Cloud duduk di kursi. "Kamu tidak mau memandikan?" tanya Cloud, tersenyum jail. "Tidak akan pernah sampai ribuan tahun! Aku pe-rem-pu-an!" Sodda membuang muka sambil bersedekap. Cloud terkekeh dari kursi yang membawanya menuju ke kamar mandi. Soda tersenyum memandang Cloud menjauh, kemudian melinting lengan baju dan berjalan ke dapur. "Spicy Bowl, kurasa cocok untuk sarapannya," ujar Sodda. Sodda, android kesepuluh hasil kreasi Cloud, memang sangat mirip dengan manusia. Perilaku, sifat, bahkan kegemaran Sodda, seperti perempuan pada umumnya. Walaupun ia tidak menyantap makanan manusia, memasak merupakan hobinya. Keahlian memasak Sodda tak perlu diragukan. Ia selalu meracik bumbu dengan takaran sempurna. Hasilnya membuat Cloud kecanduan.... "Tolong isi lagi." Cloud menyodorkan piring kosong. "Aku senang kamu makan banyak seperti ini. Tapi harus diimbangi dengan berolahraga," tukas Sodda, mengisi piring Cloud. Cloud mengangguk repetitif. "Ya, ya, ya...." Sodda menghela udara mendengar jawaban Cloud, kemudian menjinjing tasnya. "Aku mau ke luar sebentar." "Kerja?" Sodda mengangguk. "Kalau aku tidak bekerja, siapa yang membayar sewa unit bulanan kita? Tidak apa-apa, 'kan, kalau kutinggal?" "Jangan khawatir, aku sudah biasa." Sodda tersenyum tipis. "Kalau butuh bantuanku, hubungi saja. Aku hanya membersihkan beberapa unit di apartemen sebelah, jadi bisa segera pulang kalau kamu butuh aku." Baru saja membuka pintu, dilihatnya seorang perempuan cantik berdiri di depan unit. Perempuan itu berambut cokelat sepunggung. Wajahnya oval dan memiliki sepasang pupil safir, hidung pipih dan mancung, serta bibir yang tipis. Sodda tampak kesal melihat kedatangannya. "Untuk apa kamu ke sini, Summer? Ingin memaksa Cloud lagi?" "Memangnya aku tidak boleh mengunjungi sahabatku?!" jawab Summer, ketus. Sodda berjalan melewati Summer sembari menjinjing tas. "Asal tidak membuat masalah." Summer menggerutu. "Dasar android usang." Sodda memang tidak menyukai Summer. Ia mencurigai Summer berniat buruk pada Cloud. Meskipun Summer selalu bersikap baik pada Cloud, itu sama sekali tidak mengubah pandangannya. Kalau Sodda manusia, mungkin perasaannya lebih tepat disebut "cemburu", tetapi Sodda adalah android yang tidak diprogram untuk memiliki perasaan itu. Satu hal yang pasti, roda-roda gigi dalam dadanya berderit ketika bertemu Summer. *** Sodda menyesap rokok dalam-dalam lalu mengembuskan asapnya. Begitulah kebiasaan Sodda saat roda-roda gigi dalam dadanya berderit. Rokoknya tidak sama dengan manusia. Tidak mengandung bahan buruk, juga tidak banyak bermanfaat. Hanya satu manfaat dari rokok khusus android tersebut: melumasi mesin dengan asapnya. "Belakangan ini perempuan jalang itu sering sekali datang! Menyebalkan!" Sodda mematikan rokok, kemudian masuk ke dalam Apartemen Red Chili. Ia menyusuri koridor sampai tiba di depan lift. Sambil bersedekap, jemarinya mengetuk-ngetuk ringan lengan sebelah kiri. Setelah cukup lama menunggu akhirnya pintu lift terbuka. "Selamat datang. Hendak ke lantai berapa, Nona?" Pertanyaan itu terdengar dari speaker di pojok-pojok ruangan lift. "Lantai 25," perintah Sodda. "Segera." Lift bergetar pelan sebelum akhirnya bergerak ke atas. Tak lama kemudian, ia berhenti. "Anda telah sampai, Manquer." "Terima kasih." Ketika mau melangkah ke luar, pintu lift kembali tertutup. "Kenapa?" "Tip, Nona." Bola mata Sodda berputar. "Untuk apa? Lift sepertimu juga tidak bisa beli ke toko." "Aku akan meminta tolong perawat lift membelikanku rokok." "Aku tidak ada uang. Ini saja." Sodda mengeluarkan sebatang rokok dari kantung baju, lalu memasukkannya ke dalam lubang di samping pintu lift. "Penumpang lift pasti menggerutu karena asap rokokmu." "Aku akan merokok saat sedang menjalani perawatan harian." "Ya, ya, ya..., terserah. Sekarang buka pintumu." Pintu lift bergeser ke samping. "Terima kasih, Nona." Sodda melangkah sembari menggeleng-geleng. "Lift zaman sekarang benar-benar keterlaluan." Usai melewati beberapa unit, Sodda berhenti di depan pintu bernomor 258. Tangannya mengusap hologram di dinding. Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki tua muncul dari balik pintu yang baru saja terbuka. Senyumnya mengembang ketika melihat kedatangan Sodda. "Sodda! Aku sudah menunggumu dari tadi! Ayo masuk!" "Bukankah aku tepat waktu, Tuan Windfall?" Sodda meletakkan tas di atas meja. "Kamu memang selalu tepat waktu. Tapi aku sudah tidak sabar melihat makanan Qubs dibersihkan." Windfall mengerling pada kucing Persia yang mengusapkan bulu-bulunya di betis Sodda. "Qubs, dengarkan aku. Jangan merepotkan Tuan Windfall, atau aku tidak mau bermain denganmu lagi." Sodda menggendong Qubs, lantas mengusap bulu-bulunya yang lembut. Qubs melingkar manja dipelukan Soda. "Tidak sekarang Qubs. Aku masih banyak pekerjaan," ucap Sodda meletakkan Qubs, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. "Berantakan sekali..., apakah ini semua ulah Qubs?" Windfall menghela napas panjang. "Begitulah, Sodda." Sudut bibir Sodda terangkat. "Hanya lima belas menit semuanya akan rapi dan bersih." Sodda mencopot pergelengan tangan, lantas menggantinya dengan vacuum cleaner. Selama beberapa menit Sodda membersihkan ruangan, sembari ditemani Windfall yang menonton televisi. Ia sudah terbiasa mendengar Windfall menggumam saat menonton, tetapi kali ini celetukan Windfall menarik perhatiannya. "Omong kosong! Tidak mungkin terjadi kelangkaan bahan baku android! Kurasa ini hanya permainan oknum di dalam pemerintahan untuk memainkan harga seenaknya!" celetuk Windfall kesal. "Ada apa?" "Cepat lihat berita ini, Sodda!" Sodda segera menghampiri, lalu menyaksikan tayangan berita di layar hologram. "Kelangkaan bahan baku android menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas produksi. Hal ini berdampak pada sektor perekonomian global. Karena itu, pemerintah akan memberlakukan peraturan baru: seluruh android berusia di atas sepuluh tahun akan didaur ulang. Peraturan ini mulai berlaku besok, tepat pukul dua belas malam. Pemerintah sudah membentuk divisi yang membagi dalam beberapa tim untuk menjemput para android tersebut." "Oh, Tuhan! Mereka benar-benar sudah gi—" Windfall tak meneruskan kalimatnya saat melihat Sodda gemetar. "Tidak mungkin...." Suara Sodda tercekat, bibir bagian bawahnya pun bergetar. Berita itu membuat roda-roda gigi di dalam dadanya bergesekan kencang. *** Summer menatap Cloud sesaat, sebelum menunduk. "Maaf, aku sudah berusaha yang terbaik, tetapi Tuan Wind tak menggubris." "Tidak mungkin. Selama aku bekerja, belum pernah terjadi kelangkaan bahan baku seperti sekarang. Summer, kamu pasti tahu kalau ini permainan." "Entahlah, Cloud." Summer mengangkat kedua bahunya. "Aku benar-benar tidak tahu. Peraturan sudah ditetapkan, dan akan dilaksanakan tepat pergantian hari." "Tapi, Summer. Mereka tidak seharusnya mengeluarkan peraturan bodoh ini." "Aku turut menyesal atas apa yang akan terjadi pada Sodda. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuk mencegahnya." Summer beranjak. "Mau ke mana?" tanya Cloud. "Hari sudah siang, aku harus ke kantor, Cloud." Tanpa menunggu jawaban, Summer keluar dari unit. Cloud membisu di kursinya selama beberapa menit. Ia merasa sedih sekaligus marah. Bagi Cloud, Sodda sangat berarti di dalam hidupnya. "Tidak. Tak akan kubiarkan mereka menghancurkan Sodda." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD