71

1731 Words

Sayang, Tulip dan Rose terjengkang dengan badan berdarah-darah. Dalam keadaan seperti itu, Rose dan Tulip hanya bisa menyurutkan langkah ke belakang. Menyerang juga akan percuma, karena hanya akan menghantarkan nyawa karena luka dalam yang mereka alami. Saat harapan mulai menipis, tiba-tiba sebuah benda melesat dan menghantam lengan anggota berbaju biru. Anggota berbaju biru terkejut, apalagi ketika melihat benda itu ternyata adalah mayat ketua rombongan. Rose dan Tulip menoleh. Keduanya melihat Sand sedang berjalan ke arah mereka sambil menatap tajam pada kedua anggota kelompok Esprit Libre. “Tulip, Rose, tenanglah. Biar aku yang selesaikan mereka,” tukas Sand, seraya melempar pandangan ke belakangnya, menunjukkan agar kedua perempuan itu beristirahat di sana. Kedua anggota kelompok Esp

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD