Pertolongan dari si pemimpi

1342 Words
Mereka sedang bergegas menuju ke bandara, sepanjang perjalanan Dimas menanyakan tentang kemiliteran pada Baskara karena memang sejak kecil cita-citanya ingin menjadi seorang tentara. “Bang, abang tingginya berapa? Dimas pengen banget jadi tentara setelah nanti lulus SMA meskipun yang Dimas kurang tinggi tapi Dimas sering banget renang biar nambah tinggi hehe” gerutu Dimas Baskara tersenyum “Menggapai mimpi dengan kesungguh-sungguhan itu akan tercapai Dimas sekalipun orang-orang bilang kita engga mungkin bisa menggapainya” ujarnya “Wih hebat nih abang, ahh cepet banget nyampenya jadi sih engga banyak share tentang kemiliteran dulu sama abang” kesal Dimas yang lalu mengerem motornya Baskara tersenyum lalu turun dari motor Dimas dia kemudian melepaskan helm yang dia pakai “Nih Dimas, abang makasih banget ya udah dianterin sama kamu” ujar Baskara sembari merogoh dompet yang ada di sakunya “Eh bang, jangan bang jangan! Dimas ikhlas kok nolong abang dan anterin abang kesini, gak usah bayar bang!” ujar Dimas menolak segera Baskara menggelengkan kepalanya “Hmm anggap aja ini uang jajan buat kamu dari abang, jangan anggap ini sebagai bayaran gimana?” Senyum Baskara “Hmm ya udah deh kalau abang maksa hehe, eh bang boleh minta bonusnya engga?” Tanya Dimas dengan tersenyum polos Baskara mengerutkan keningnya heran “Hah? Bonus apa maksudnya?” tanya nya dengan sedikit tersenyum “Minta nomor abang, biar nanti Dimas bisa ketemu abang lagi hehe” senyum Dimas merekah Baskara menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum dan merogoh kartu nama di dompetnya “Nih ambil, dan simpan baik-baik ya siapa tahu nanti abang minta kamu balikin ini lagi hehe.. oke bye Dimas makasih” gerutu Baskara lalu pergi ke dalam pelabuhan sembari melambaikan tangannya “YES! Oke bye bang semoga selamat sampai tujuan” teriak Dimas yang lalu memeluk kartu nama dari Baskara itu Dimas menatapi kartu nama itu “Oh ternyata nama si abang tadi Baskara, wow potonya gagah banget heup” ujar Dimas lalu membusungkan dadanya Baskara berlari ke dalam bandara dan segera mencari tiket penerbangan untuk ke kampung halamannya. Dia berlarian tak tentu arah hingga membuat semua orang yang berada di sana terlihat aneh menatapi tingkah Baskara yang mengenakan pakaian militer dan berlarian. Baskara sampai di kasir bandara “Permisi mba, apa masih ada tiket untuk penerbangan ke desa distrik 111?” tanya Baskara dengan tatapan serius pada si kasir Kasir itu menatapinya datar “Tiket untuk kelas ekonomi sudah habis terjual, yang tersisa hanya ada tiket untuk kelas bisnis” jelasnya dengan terlihat sangat membalas menjawab pertanyaan dari Baskara “Apa? Kenapa tiket ekonomi sudah habis di jam segini?” tanya Baskara terlihat buru-buru Si kasir membuang nafasnya berat lalu menunjuk ke deretan orang-orang yang sedang duduk di kursi tunggu. “Lihat? Mereka juga bernasib sama seperti bapak, mereka ingin pulang ke kampung halamannya dan menjenguk keluarganya yang terkena musibah kebakaran itu. Oleh sebab itu tiket kelas ekonomi habis, bahkan bukan Cuma bapak yang engga kebagian sudah sekitar 7 orang yang datang kemari dan tidak mendapatkan tiket kelas ekonomi” jelas nya “Hah.. bagaimana ini?” gerutunya membuang nafas berat lalu memegangi ke dua kepalanya sakit Si kasir terlihat datar “Mau bagaimana lagi pak, datang besok saja” jelasnya “Tidak  adik saya sedang kritis, jika harga tiket kelas bisnis berapa?” tanya Baskara menatapinya serius Kasir yang bernama Jean itu membuang nafasnya lagi kesal seakan ia tidak ingin di ganggu oleh pertanyaan pelanggan “9 juta sampai 10 juta” jelas Jean “Ya tuhan cobaan apa lagi ini, uang yang ku bawa hanya 2 juta” gerutu nya membuang nafas tak tenang sembari berjalan kesana kemari Baskara memegangi ke dua kepalanya sakit “Apa akan ada yang membantu ku di saat seperti ini? Tapi siapa?” ujarnya berjalan ke sana ke mari seakan akan seperti orang yang hampir gila karena kebingungan “Orang itu kenapa?” “Sejak tadi perlakuannya emang aneh banget” “Pakai baju tentara lagi, apa jangan jangan dia hanya orang gila?” gerutu seisi bandara membicarakannya Baskara kembali menuju ke kasir itu dan menatapinya serius “Pak saya ingin meminta bantuan sama bapak, kalau bapak memberikan saya pinjaman sedikit untuk ke kelas bisnis dan pulang kampung saya akan kembali ke sini untuk memberikan kembalian sama bapak saya janji saya akan mengembalikannya” jelas Baskara menatapi bapak bapak kasir itu serius “Kamu pikir saya mempercayai kamu begitu aja? Bahkan teman saya sendiri pun engga bisa dipercaya, mereka menipu menipu dan menipu apalagi kamu yang engga saya kenal dan baru saja ketemu” gerutu Jean menatapinya kesal dengan suara lantang membuat orang orang refleks menatapinya dengan tatapan sinis Baskara menatap si kasir itu dengan tatapan penuh permohonan “Saya mohon pak saya yakin saya akan mengembalikan uangnya. Saya berjanji pak! Tolong siapapun saya akan menggantinya!” ujar Baskara lalu berlarian ke dekat orang orang dengan air mata yang mulai berjatuhan dan tatapan menyedihkan dari sorot matanya “Gila ya kali orang itu!” “Ish hati hati” “Jangan mendekat” Gerutu mereka yang kemudian berlarian menjauh dari Baskara, Baskara terdiam dan membuang nafasnya berat “Sialan! Aku malah di sangka orang gila” gerutunya pelan “Satpam! Satpam!” Teriak Jean si kasir itu Tak lama satpam pun datang dan terlihat bingung menatapi kasir yang memanggilnya “Ada apa ini?” tanya dia “Bawa pria yang mengenakan baju tentara itu! Dia pria gila!” ujar Jean terlihat malas lalu memutar bola matanya Satpam itu segera membawa Baskara, Baskara hanya memilih diam dan mengikuti langkah si satpam yang memegangi tangannya erat itu. Hingga mereka berdua sampai di pintu masuk dan keluar bandara, satpam itu segera melepaskan Baskara. “Tolong jangan kemari lagi jika ingin membuat keonaran!” ujar satpam menatapinya jijik Baskara menghiraukannya ia pun memilih keluar tanpa mengatakan apapun, dia berjalan kaki menyusuri jalanan yang ramai itu. Dia melihat ke sebelah kirinya di mana ada hamparan pantai luas yang membentang. “Apa aku harus membeli perahu kecil saja? Setidaknya aku membawa kompas untuk petunjuk arah” ujarnya pelan Baskara menganggukan kepalanya lalu berjalan ke arah nelayan yang sedang memancing ikan menggunakan perahu tua yang kecil itu. Baskara mencoba untuk membuat si bapak melihat ke arahnya. “Bapak nelayan! Permisi” ujarnya sembari melambaikan tangan Tak lama si bapak itu membalikan badannya dan menatapi Baskara dengan menyipitkan matanya “Siapa?” teriaknya yang lalu dia memilih menepi “Ah akhirnya dia mau menemui ku” ujar Baskara tersenyum merekah setelah melihat pria tua yang sudah mulai renta itu membalikan perahunya dan hendak menepi Si bapa itu pun turun dari perahu setelah dia berhasil menepi, Baskara segera mendekatinya dengan tersenyum pada si bapak pelayan. “Selamat siang pak, saya Baskara” ujar Baskara terlebih dahulu mengenalkan dirinya “Iya? Ada apa ya? Kamu tentara?” tanya si bapak itu yang lalu menatapi seragam Baskara Ia segera mengangguk “Saya akan langsung mengatakan intinya pak, jadi saya tentara yang sedang bertugas di area sini kebetulan saya menerima kabar buruk dari kampung halaman saya yang kebakaran besar. Sampai saat ini saya belum tahu keadaan keluarga saya, saya tadi habis dari bandara dan ternyata tiket untuk hari ini habis. Apa boleh? Jika saya berniat untuk membeli perahu bapak?” tanya Baskara sangat berhati-hati “Ah iya, kampung yang kebakaran itu ya? Emang sih dari tadi masuk tivi terus beritanya. Hah kasihan kamu nak, ya sudah pakai saja pakai perahunya lagian udah usang gitu. Bapak juga lagi bikin yang baru di rumah Cuma belum jadi jadinya masih pakai yang ini” jelas si bapak dengan tatapan sendu pada Baskara Baskara membuang nafasnya lega lalu ia membuka dompetnya, ia mengeluarkan semua uang yang ada di dompetnya dan hanya menyisakan 200 ribu untuknya jaga-jaga. “Bapak ambil ini ya, maaf jika saya hanya memberi sedikit pak. Saya sangat berterima kasih pak” ujar Baskara sembari memberikan uang itu pada bapak nelayan “Ya ampun makasih nak kamu baik banget, padahal perahu ini juga udah usang tapi bapak doakan semoga kamu selamat di perjalanan ya” ujarnya mengelus rambut Baskara lembut Baskara mengangguk dan tersenyum “Terima kasih banyak pak” *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD