Dua Delapan

1114 Words
Leora tidak pernah suka dengan Era. Bukan karena wanita itu pernah menempati hati Raja. Bukan juga yang paling mengetahui tentang apa-apa saja yang Raja sukai dan yang tidak Raja sukai. Sama sekali bukan itu. Bagi Leora, Erlangga hanyalah masa lalu Raja yang saat ini telah Leora genggam. Baik jiwa raganya adalah mutlak milik Leora seorang. Baik kehidupan maupun cintanya. Semuanya sudah Leora gapai. Tapi Era sungguh menyebalkan. Wanita itu berani datang dan mengusik kehidupan rumah tangga Leora dan Raja. Membawa serta anak yang katanya darah daging Raja. Jika demikian, kenapa ada perpisahan yang di mulai dari Era? “Loh? Mami?” Seruan Raja menolehkan wajah cantik maminya—Senja Anggoro—yang tersenyum penuh arti. “Kapan datang? Kenapa nggak nelepon Raja?” Begitu lah Raja jika sedang di depan maminya. Sikap manjanya akan keluar tanpa di halangi gengsi. “Istri kamu tadi yang jemput.” Dan ngomong-ngomong soal istri, mata Raja mengerjap. Melihat Leora yang ada di pelukan Maminya dengan bahu bergetar. “Leo kenapa, Mi? Kok nangis?! Sayang, kamu kenapa?” Panik Raja bertanya. Dan maminya memberi kode untuk masuk ke kamar lewat gerakan tangannya. “Mending kamu mandi deh, Bang. Leo biar Mami yang atasi. Nanti kita bicarain lagi.” Patuh, tungkai Raja melaju dengan pesat ke kamarnya. Tidak jauh dari ruang keluarga di mana istri dan maminya berada. Sebelum benar-benar memasuki kamarnya, sayup-sayup Raja curi dengar rengekan istrinya yang menggemaskan. “Leo benci lihat muka Aja, Mami.” “Nanti biar mami yang jewer kupingnya.” Tawa Raja tak bisa di tahan lagi meski penasaran terus menggelayuti pikirannya. Leora dengan segala pemikiran hormon kehamilan sungguh mengerikan. Cepat-cepat melucuti pakaiannya dan memasukkan ke dalam keranjang kotor, Raja mengguyur tubuhnya secara kilat. Dan keluar dari sana menyambar sembarang pakaian lantas bergabung dengan maminya yang kini di dapur. “Leo kenapa?” “Jangan ngagetin!” Senja pukul pelan bahu putra sulungnya. “Kebiasaan abang nggak pernah berubah dari zaman bocah.” “Mami asik banget ngaduk tehnya. Cangkirnya bisa-bisa ke gerus mi.” Ejeknya. “Jawab Mami!” Bau-baunya tidak enak. Raja tegakkan tubuhnya yang tadi duduk dengan santai. “Era itu siapa?” “Mantan.” Spontan Raja jawab dengan cepat. “Abang patut Mami curigai. Jadi tersangka.” Belum paham ke mana arah obrolan yang Maminya angkat, Raja mengerutkan dahinya. Sampai Leora datang dan menjambak rambutnya dengan gemas. Sakit, sih tidak. Tapi kelakuan Leora bisa masuk ke kategori kekerasan dalam rumah tangga. “Salah aku apa, Yang?” tanyanya bingung. Bola matanya bergerak gelisah di terpa napas Leora yang ngos-ngosan. “Maaf kalau ada salah.” “Bagus kamu sadar.” Ini perempuan di sekitarnya pada kenapa, sih? Nggak Ratu, nggak maminya, nggak Leora. Doyan banget bikin kode yang para cowok nggak pintar nebak. “Mi, Abang bingung ini.” Senja mendengus. Maminya memalingkan muka dan mendengus. Tak berselang lama, helaan napasnya terdengar. “Ada yang datang. Ngaku-ngaku pernah nikah sama abang. Sampai itu benar, mami kecewa sama abang. Era namanya, bawa anak segala. Katanya anak Abang. Please, jangan bikin mami sama Papi gagal didik Abang.” Tapi memang sudah demikian. Raja terpekur dengan segala pemikiran rumit yang menghampiri otaknya. Jika dikatakan gagal, ya memang sepenuhnya telah gagal. Kebebasan yang Radit dan Senja berikan dianggap longgar oleh anak-anaknya. Raja dengan trauma dan kesakitannya. Sedang Ratu dengan sejuta obsesi yang menjadikan Langit objek paling tepat dijadikan sasaran. Bagian mana yang tidak mengecewakan orangtuanya? Dan Leora dalam masa kehamilannya semakin menambah daftarnya. Bukan ingin menyalahkan bayi—yang 100% Raja akui miliknya karena sudah sangat menyebalkan—di dalam kandungan. Kini, tidak ada jawaban paling tepat untuk Raja ajukan. Maminya bisa menangis berhari-hari mengetahui kebenarannya. “Sayang …” Panggil Raja lembut. Menggenggam tangan Leora dengan mata penuh harapan kala bersiborok dengan manik Leora. “Aku akui aku salah. Tapi seperti yang sudah kita bicarakan beberapa hari yang lalu. Era sedang nyari celah buat misahin kita. Aku tahu kamu cemburu dan aku nggak melarang untuk itu. Aku tahu kamu cinta aku dan aku lebih cinta ke kamu. Tapi tolong, kita jangan berantem. Era bakal senang dan merasa menang. Aku nggak mau pisah dari kamu lagi. Cukup sekali saja.” Meleleh adalah sikap yang Leora lakukan saat ini. Kata-kata Raja yang terangkai dengan indah—padahal biasa saja—mampu membuat Leora sadar dan tersenyum penuh arti. “Aku kalap banget. Soalnya Era bawa-bawa anak dan wajib kamu yang tanggungjawab. Kamu harus biayai anaknya sekolah sampai lulus dan pembagian hak gono-gini.” “Itu bukan hak aku, Yang. Anak itu juga bukan punya aku. Mi, aku memang ada hubungan—pernah punya—sama Era. Tapi bukan berarti semua yang bersangkutan dengan Era jadi tanggungan aku. Era khianati aku waktu itu karena aku yang nggak punya apa-apa.” Perasaan seorang ibu tidak semudah itu untuk di bohongi. Tapi bukan hal mudah bagi Senja untuk segera percaya pada apa yang putranya sampaikan. Percaya bagi kehidupan Senja sangatlah penting dan sekali coret membuat blacklist, maka ke depannya tidak ada kisah lagi yang harus di tuangkan. “Kalau gitu, kenapa dengan gono-gini.” Raja tidak langsung memberi respon. Otaknya butuh berpikir dengan tenang karena tahu tabiat sang mami yang tidak mudah luluh tanpa bukti otentik. “Ini kayaknya murni Leo yang lebay, deh, mi. Hamil anak pertama, kembar dan mereka cukup nguras tenaga Leo. Emosi Leo juga naik turun nggak jelas. Mood suka ancur-ancuran.” “Mami paham. Cuma mau tahu kenapa dengan gono-gini sampai Raja harus di tuntut.” “Era pernah punya tender. Ingat waktu abang ke Makassar Mi?” Senja mengangguk. “Abang menangin tendernya. Otomatis semua yang bersangkutan ke abang. Dan nggak bisa main-main karena ada naungan hukumnya. Abang yang menangin tendernya, otomatis nama abang yang di catat di sana walaupun itu punya Era. Dan bagi hasil—harusnya Era nyebutnya gitu. Nggak bisa abang kasih karena itu memang hak abang.” Oke, sampai sini Senja mencerna dengan baik penjelasan putranya. Dan akan Senja rembuk bersama Radit nanti jika sudah kembali ke Semarang. “Sekarang, mami ngapain ke sini tanpa papi?” “Mami kangen Leo.” “Aja bisa samperin Mami. Mami ingat dong sama kondisi yang kadang suka drop. Jangan seenak jidat pergi kayak gini.” ETA MULUT! Tangan Leora memukul mulut Raja tanpa belas kasihan. Bisa-bisanya mengatakan dengan enteng apa yang tidak semestinya. “Aku jujur, loh, Yang. Mami kalau nggak di gituin mana mau sadar. Abang nggak ma umami sakit. Gitu saja.” “Sopan dikit kenapa?! Babynya bisa dengar.” “Oh, ya?” Mata Raja membelalak. Dan tubuhnya segera luruh ke lantai. Menempatkan wajahnya tepat di perut Leora yang buncit. “Maafin papi, Sayang. Maaf, ya. Tutup telinga kalian, oke.” Gila. Leora bengek di tempat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD