Enam Belas

1099 Words
Tubuh Leora terbaring nyaman. Dengan infus yang terpasang di tangan kanannya. Tapi kondisi yang di rasakan tidak demikian. Matanya menatap luas hamparan padang ilalang di depannya. Rambut panjangnya tergoyang semilir angin. Matahari senja mulai menampakkan lukisan orange di langit barat. Suara gemerisik daun yang bergesekan bagaikan melodi lagu di pergantian hari. Begitu ia hirup bau segar bunga lavender yang entah dari mana datangnya dan kedua tangannya yang sulit untuk di gerakkan sebuah suara membuatnya terpaku. “Mami … Kakak mau pulang.” “Adik juga.” Kelopak mata Leora mengerjap. Mencoba mencerna pada apa yang di dengarnya. “Mami … di sini dingin.” Belum juga Leora sadar apa yang sedang terjadi. Sampai benar-benar dirinya rasakan dengan gerakan kepala yang menoleh. Mendapati satu wajah bocah lelaki yang tadi bersuara dan memanggil dirinya sendiri dengan sebutan kakak. Ukiran familiar nampak sempurna di wajah putihnya. Kedua bibirnya tertarik ke belakang mencetak dimple sebagai pemanis. Menoleh ke sebelahnya lagi. Bocah perempuan berambut panjang legam sama persis seperti miliknya, mata sipit cantik dengan bulu mata lentik sebagai penyempurna. Yang memanggil dirinya sendiri sebagai adik dan mengatakan ‘di sini dingin.’ Leora hampir limbung. Kepalanya mendadak sakit luar biasa. Pikirannya menerawang jauh. Melihat kelamnya nirwana berhias bintang-bintang. Benaknya bermonolog: bahkan di tempat sejauh ini, aku melihat ciptaan Tuhan paling terkutuk nan seksi sepertinya. Bagaimana bisa? Apakah ini jatuh cinta? Apa cinta bisa memiliki arti gila bagi si penderita? Tapi jika bukan cinta tidak seharusnya ada wajahnya yang terbawa. Sampai ke relung jiwanya, Leora merasakan cinta itu. Tunggu! Kedua kalinya dalam satu waktu mata Leora mengerjap. Ini tidak mungkin. Baik. Akan Leora perhatikan sekali lagi. Dan ketika netranya bersinggungan dengan si bocah lelaki, dunia hampir runtuh karena faktanya benar. Menghadap pada objek si bocah perempuan, hasilnya sama. Artinya tidak ada rekayasa di sini. Yang awalnya Leora pikir itu kakak dan adiknya—mana mungkin memanggilnya mami. Benar, kan kedua bocah ini memanggilnya mami. “Papi nunggu kita.” “Papi sedih mami nggak mau bangun.” Bagaimana ini? Leora harus berbuat apa? Harus menjawab apa? Di tengah kalutnya berpikir, Leora dengar satu suara tak asing. “Sampai kapan kamu mau tidur?” Selanjutnya gelap. Namun detik berikutnya terang nyala sebuah lampu yang menyilaukan penglihatan mulai memenuhi tempatnya. Genggaman tangan besar yang berada di telapak tangannya menjadi pegangan. Begitu matanya terbuka, berpendar menyesuaikan cahaya, Leora tahu ini bukan rumahnya. Atau kamar yang biasa dirinya tempati. Bau antiseptik yang menyerang di hidungnya menjadi jawaban. Satu tangannya yang tersambung dengan selang infus, Leora tatapi dalam-dalam. Mencoba mengais ingatan dan penyebab apa yang membuat tubuhnya berakhir di bangkar ini. Pun dengan satu tangan yang di genggam begitu erat serta kepala yang menelungkup. Leora cerna ini sebuah mimpi. Tapi jika pun iya, rasanya pasti mustahil. Dengkuran halus dan alis yang berkerut-kerut samar terasa nyata adanya. Embusan napas teratur juga menerpa kulit tangannya yang di genggam begitu kuat. Dan jejak air mata yang mengering … tak bisa Leora jabarkan maknanya. “Kamu … kapan bangunnya?” Belum sempat Leora jawab, hanya dengan mengerjapkan mata, tubuh lunglai seusai terbangun dari tidurnya itu melesat keluar ruang perawatannya. Dan kembali masuk membawa seorang dokter. “Dia sudah bangun,” ucapnya keras. “Aku—” “Cepat cek kondisinya!” Sejak kapan Laraja Putra Anggoro bisa sepanik itu? *** Menangis itu apa, sih? Leora memandang penuh kebingungan. Pasalnya, ini pertama kalinya dalam sejarah ketika dirinya berada di satu atap yang sama—satu ranjang pun pernah di lakoni—bersama Raja. Lelaki itu untuk kali pertama menunjukkan titik lemahnya. Yang Leora tebak bahwa suaminya adalah lelaki bebal sepanjang masa nyatanya tidak. Kedua tangan Raja terus saja menggenggam tangan Leora. Seakan-akan hendak menghilang jika di lepaskan. Kedua matanya yang selalu menatap tajam layaknya belati, meredup seratus delapan puluh derajat. Dunia seolah sedang mendukung yang namanya hukum karma. Sebuah web yang pernah Leora telusuri mendadak nyangkut di otaknya. Ada tiga jenis air mata. Air mata refleks, air mata basal, dan air mata emosional. Dari ketiganya itu memiliki pengertian masing-masing. Air mata refleks, jenis air mata yang berfungsi untuk melindungi mata dari iritasi. Air mata basah, air mata yang akan terus diproduksi oleh kelenjar lakrimal secara teratur untuk melembapkan, menutrisi, dan melindungi mata. Yang terakhir, air mata emosional, jenis air mata yang akan diproduksi saat seseorang merasa sedih, terharu, ataupun bahagia. Lalu dari ketiga air mata itu, Leora urutkan satu per satu sampai ia temukan jawabannya. Kedua matanya melebar tak percaya. Karena kesimpulan sebagai jawaban yang jatuh ada di air mata emosional. Rasanya … lagi-lagi mustahil jika Raja bisa melakukan itu. Tapi yang sedang di tunjukkan suaminya benar adanya. Lelaki itu sedang mengeluarkan luapan perasaannya. “Kamu pikir ada hak buat musnahin mereka?” Meski terlihat tenang—awalnya—sekarang Raja menyemprotkan kekesalannya. Leora mendengkus. “Aku nggak ngerti kamu ngomong apa?” “Sopan Ora, sopan!” Dan Leora kicep. Panggilan keramat masa kecilnya ketika sudah diangkat ke permukaan tentu membuat sudut hatinya porak-poranda. Nama itu pemberian sayang dari seseorang yang sampai saat ini masih Leora cari jejaknya. “Mana ada istri mendengus ke suaminya.” Bahkan Raja sempat-sempatnya mempraktekan gerakan dengkusan yang Leora beri tadi. “Kamu harus sopan!” Masih terkunci bibir Leora. Pikirnya, dari mana lelaki sekaku ini mendapatkan nama masa kecilnya yang sedikit di ketahui orang? “Apa?” Raja membalas tantangan mata Leora yang lekat. Tanpa berkedip sedikit pun membuatnya keheranan. “Kamu butuh sesuatu?” Pagi ini d******i suara yang mengudara milik Raja. Sulung keluarga Anggoro itu mendadak lebih banyak senam mulut ketimbang mengunyah makanan pengganjal perut. “Kamu lapar? Atau mau minum? Aku ambilin.” Bergegas Raja hendak melangkahkan kakinya. Namun terhenti lantaran cekalan di tangannya menahannya. “Kenapa? Kamu butuh yang lain?” Netra Leora terus menelisik dalam. Senyum bibirnya terbit. Gelengan kepalanya melegakan napas Raja yang sempat tercekik. “Aku mau kamu.” “Ya?” Mengangguk tanpa dosa. Mengulang perkataannya, “Aku mau kamu.” Kian berdebar saja d**a Raja. Kalimat Leora terdengar sepele tapi sukses membuat jantungnya pindah tempat. Tenggorokannya juga tercekat. Sekedar melegut saja susah sekali. “Kamu nggak suka?” Hei! Bukan begitu. Raja basahi bibirnya. Kepalanya menggeleng dan mengangguk lucu setelahnya. “Bukan gitu.” Sialan! Ternyata eksistensi Leora masih sangat memengaruhi hatinya. Segala tindakannya menjadi salah tingkah. “Aku mau—eh maksudnya kamu butuh apa?” “Hilih!” Leora mencibir. Ia hempaskan tangan Raja yang di cekalnya. “Gitu saja alay kamu.” Loh? Ini siapa yang bikin Raja alay coba? “Apalagi kalau di kamar nanti.” Mampus! Raja melotot horor pada ucapan Leora yang bersarang di otaknya. Terbayang melambai bagai nyiur pohon kelapa di pinggir pantai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD