Delapan Belas

1173 Words
Malam itu Leora diam. Kesal maksimal dengan sikap Raja yang mengambil jalan tengah tanpa mau berunding dengannya. Tapi namanya dadakan, mau debat kusir di hadapan orangtua rasanya nggak etis sekali. Pikiran Raja hanya melintas bahwa; biarkan begini dulu. Sedang Leora tidak mau mengerti sama sekali. Yang telah Raja bujuk mati-matian, hasilnya tetap saja merajuk. Sudah Raja elusi kepalanya sesuai kebiasaan baru Leora sejak di rumah sakit, tidak juga ada perubahan. Yang perutnya telah Raja kecupi, tetap saja masam terpasang di wajah Leora. Lantas, Raja harus bagaimana? Bengek sekali kalau boleh jujur. Di diamkan istri sendiri nggak ada enak-enaknya sama sekali. Serba salah ini mematik perselisihan yang tiada akhir. “Kamu mau buah?” Tawarkan saja dulu. Hasilnya cukup di lihat nanti. “Nggak!” Nggak perlu lama-lama langsung di tolak. Raja lunglai di tempat. Meletakkan mangkok berisi potongan buah-buahan bersamaan dengan kepalanya di paha Leora. “Aku sedih.” Raja curahkan isi hatinya. “Nggak enak makan.” Aslinya sedari tadi mulut Raja ganyem muluk. Yang mendoanlah, buah nagalah, jeruklah tahu isilah, rotilah, dan banyak lagi jajarannya. Memang benar kata-katanya: kemarahan perempuan tidak bisa di remehkan. Namun—katanya—bisa diluluhkan. Yang entah sampai kapan karena Leora belum menunjukkan tanda-tandanya. Kenapa, ya, kekeras kepalaan Raja harus berbenturan dengan milik Leora yang lebih kepada tidak mau mengalah sama sekali. Heran. “Suapin.” Mata Raja membeliak kaget. Langsung membawa tubuhnya terduduk dan memasang wajah cengo. “Apa, Leo?” Raja memastikan. Siapa tahu telinganya bermasalah. “Aku yakin kamu pasti dengar.” “Oh oke.” Beranjak bangun melesat ke dapur dan kembali dalam sekejap. “Kamu mau minta di suapin pakai apa?” Leora mencebik kesal. Tanpa menatap mata suaminya, Leo menjawab, “Kamu nawarin aku apa tadi?” Duhhh! Kok bisa-bisanya Raja bersikap ling-lung begini. Apa memang sebegitu parahnya Leora dalam memengaruhi pikirannya. Oke. Baik. Langsung Raja ambil alih tugasnya. Duduk di samping Leora yang fokus melihat scene drama korea di layar plasma dan cekikikan sesekali. Lucunya, sih tidak ada—bagi Raja begitu. Yang sedang di adegankan adalah ciuman sang aktor dan aktris yang kelihatan handal. “Yang benar dong!” Eh? Mata Raja mengerjap. Menoleh ke samping. Menemukan wajah istri tercintanya sudah cemong semua. Kebetulan buah naganya berwarna merah, jadi berbekas di kulit putih Leora. “Maaf Sayang maaf.” Tangan Raja gesit membersihkan. Tidak peduli Leora yang hendak menolak dan mengomel-ngomel lirih. “Kamu, sih tontonannya begitu.” Lah. Kok bisa? Tidak terima di salahkan. Leora bergegas bangun. Pergi nyeruntul masuk ke kamarnya. Yang Raja kejar dengan susah payah. Sumpah. Rasanya nggak enak banget bertengkar dengan istri tuh. Sepet! Tapi terlambat. Pintunya sudah di tutup dengan tenaga kuat-kuat dan terjadi debuman yang tidak diinginkan. *** Pada akhirnya Raja menyerah. Memilih menghubungi sang mami yang sudah di pastikan telah terlelap. Namun Raja memilih abai dan tetap mendial nomor maminya untuk melepas penatnya. “Tumben?” Ya begitulah kira-kira tanggapannya. Semua orang akan merasa wah kala seorang Laraja Putra Anggoro mau menghubungi terlebih sampai mengadu seperti saat ini. “Leo ngambek.” Senja Anggoro di sambungan nirkabel terkekeh. Lalu memanggil suaminya yang tentu berada di dekatnya. “Mantumu ngambek,” katanya mengadu. “Terus? Abang gimana sekarang.” Kembali pada topik. Raja bersyukur tidak dijadikan obat nyamuk kemesraan mami papinya yang gila melebihi muda-mudi di mabuk cinta. “Ya gini.” “Gini gimana?” Senja gemas maksimal akan tingkah putra pertamanya. “Abang kalau curhat yang niat dong. Jangan setengah-setengah.” Omel Senja. “Ya abang nggak gimana-gimana mami. Intinya Leora ngambek. Nggak mau ngomong sama Raja.” Lekas Raja tolehkan kepalanya pada pintu bercat mahoni yang masih tertutup rapat. Belum ada kode untuk Leora ingin keluar dari tempatnya. “Orang hamil asli gitu ya, mi?” “Iya.” “Mana ada! Senja dulu uring-uringan ya sama Mas!” Mulai deh. Mulai berat. Raja mendengus mendengar pertengkaran kecil yang orangtuanya ciptakan. “Selesai. Raja bobok. Bye Mi, Pi.” Panggilan yang Raja akhiri bersamaan dengan sosok Leora yang muncul dari kamarnya. Rambutnya acak-acakan. Ada jejak air mata bekas tangis yang masih basah. Tentu rasa khawatir Raja membuncah. Membuatnya segera menerjang sang istri dan memeluknya. “Kenapa?” Di balas dengan tangis yang melirih. Jawabnya, “Nggak mau bobok sendiri. Nggak bisa kalau nggak di elus-elus sama kamu. Ayo bobok.” Sensasinya—kalian tahu—jedag jedug jantung Raja. Ingin copot dari tempatnya dan merosot ke lambung. Tingkah Leora tidak sama seperti biasanya. Terkesan lebih manja dan Raja suka itu. Juga sulit di tebak. “Ayo bobok.” *** Beruntungnya minggu. Semalaman suntuk, Raja sibuk menenangkan Leora yang rewel. Persis bayi terkena demam. Yang di tinggal sebentar akan langsung menangis. Ini bedanya, Raja melepas tangan kekarnya yang digunakan Leora untuk dijadikan bantal atau bergerak sejenak, kedua matanya terbuka. Menuduh Raja yang tidak-tidak. Yang akan pergi meninggalkannya. Yang mau mencari perempuan lain. Dan banyak lagi. Imbasnya, pagi ini mata Raja sangat berat. Terekat erat layaknya di tempeli lem. Sedang gangguan lainnya menyentuh pori-pori kulitnya. Uhh rasanya acak adul. Bangun-bangun, Leora gemas menatapi wajah suaminya. Yang detik itu juga terealisasi untuk memegang bahkan menusuk-nusuk dengan jari panjangnya. Tambah cute lagi karena Raja benar-benar anteng tak terganggu sama sekali. Padahal tindakan Leora cukup di bilang kasar dan brutal. Tapi ya sudahlah. Selama Raja terus mendengkur halus, itu artinya belum ada keinginan untuk bangun. “Kamu ngapain?” Terlalu fokus dengan kegiatannya, Leora sampai lupa jika Raja tetaplah makhluk hidup yang bernapas. Punya organ lengkap penunjang kesempurnaan tidak pada fisiknya saja. “Mau sesuatu?” Wajah Leora sendu mendadak. Ditanyai begitu kok ada yang nyentil hatinya. Buncahan bahagia yang paling menonjol ke depan. “Kangen kamu.” Berkata demikian juga di luar kontrol Leora. Mulut dan hatinya bekerja tidak sesuai fakta. “Eh enggak. Maksudnya—” “Ciyeee kangen. Aku di sini loh.” “Anak kamu yang—” “Masa?” Mendengkus, Leora mengeritingkan bibirnya kesal. Dari awal menikah hingga sekarang, Raja tak pernah berubah. Doyan motong omongan orang. Nggak sopan! “Iya anakmu.” “Anakku saja, ya.” Candanya menggoda Leora. Rasa kantuk yang sejak tadi menggelayut juga menghilang seiring berjalannya godaan-godaan yang terlempar. “Padahal kita usahanya berdua. Usaha buatnya maksud aku.” “Tahu!” Leora sewot. “Nggak perlu kamu perjelas harusnya.” “Ya berarti anak kita berdua dong. Itu yang paling benar.” “Khusus sekarang anak kamu!” tak terbantah. Tapi Raja enggan mengalah. Maka, cepat-cepat Leora berkata, “Ngalah dong sama anak. Kangen tuh jangan di biarin.” Gemas. Raja raup bibir Leora untuk menyatu dengan bibirnya. Merajut benang-benang saliva yang menyuarakan alunan musik cecapan satu sama lain. Kala oksigen tak bisa teraup, barulah berhenti dan saling menempelkan kening satu sama lain. Raja yang pertama kali terkekeh. Telapak tangan besarnya ada di pipi mungil Leora. Yang di pandangannya mulai tembam. “Makasih, Leo …” Menikmati embusan napas Leora yang menabrak wajahnya. “Sudah hadir di hidup aku. Melengkapi kisah ini yang nggak ada bagus-bagusnya. Makasih, buat nerima aku yang penuh kecacatan. Dan makasih, sudah menghadirkan mereka di sini.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD