Matahari sudah berganti bulan. Keheningan terjadi di rumah Zara. Zara keluar dari kamar dan mendapati Ibunya duduk sendiri di ruang tamu.
"Bu, ngapain?"
Rosa nampak terkejut saat Zara menyapanya. Zara menggeser badannya untuk lebih dekat duduk dengan Rosa (Ibu Zara).
"Ibu kenapa sendiri di sini?"
"Gak apa, soalnya Bapak kamu udah tidur duluan." Zara tentu peka perasaan seorang Ibu apalagi ini Ibu kandungnya sendiri. Ia pun memeluk Ibunya.
"Ibu, maapin Zara." Rosa tersenyum. Ia mengelus pipi mulus putri semata wayangnya itu. Ia sangat menyayangi Zara.
"Sebentar lagi, kamu akan tinggal di rumah Husain, suami kamu." Perasaan Zara kembali tidak enak saat mendengar nama Husain. Rosa menahan tangisnya.
"Bagaimana jika aku menyakiti hatinya?" Zara membatin.
"Enggak, aku masih mau tinggal sama Ibu. Zara belum siap ninggalin Ibu."
Ia jadi teringat selama ini karena tidak memiliki saudari, maka hanya Ibunya yang selalu mendengar keluh kesahnya. Apa pun itu, Ibunya selalu mendukung Zara. Zara sendiri anak tunggal tentu saja sangat dimanja dan mendapatkan kasih sayang berlebih dari kedua orang tuanya, termasuk Ibunya.
"Kamu harus bisa, Sayang. Kamu udah berumah tangga, kamu bakal sibuk urusin suami dan anak-anak kalian kelak."
Zara menggeleng, "Aku belum siap berumah tangga dengan Husain, Bu."
"Kenapa? Husain baik, kok."
Zara teriris mendengar itu. Setiap saat ia hanya mengingat Farhan yang seharusnya berstatus sebagai suami untuknya. Namun, suami yang ia impikan itu tidak lain hanya memberikan rasa sakit dan kecewa di hari pernikahan mereka yang berujung ia menikah dengan pria yang tidak ia kenal sama sekali. Zara berprinsip ingin menikah dengan adanya cinta agar hubungan mereka kelas harmonis saat menjalani kehidupan berumah tangga.
"Zara tidak mencintainya, Bu."
Rosa berbalik ke arah anaknya itu, "Cinta itu tidak datang sekali, sayang. Selalu akan ada orang yang mencintai dan menyakiti kita. Di saat Farhan sudah menyakitimu, maka Husain akan mencintaimu. Ia sudah berjanji pada Ibu."
"Janji?" Rosa mengangguk, "Ibu yakin dia adalah suami yang tepat untukmu. Dia tidak pantas mendapatkan putri Ibu. Dia tidak pantas menyakitimu seperti ini, Ibu salah menduga tentang Farhan," jelas Rosa membuat Zara berkaca-kaca. Anak dan Ibu itu larut dalam suasana luka yang baru saja terjadi dalam hidup mereka.
"Ibu, aku masih mencintai dia Mas Farhan." Lagi-lagi Zara bersikap keras kepala. Berharap pada manusia seperti Farhan yang hanya bisa membuatnya kecewa. Namun, cinta tidak bisa dipaksakan, itu yang dipikirkan seorang Zara.
"Bahkan untuk semua yang sudah terjadi? Zara... buka matamu, dia pria tidak baik, Nak."
"Tapi aku mencintainya, Ibu! Meski dia sudah mengecewakanku, tapi hatiku masih terikat padanya, aku harus apa?"
"Belajarlah mencintai Husain." Nada Rosa berbicara sudah mulai meninggi.
"Aku gak bisa, Bu."
"Zara!" Rosa meninggikan suaranya untuk pertama kali pada Zara. Selama ini sebagai sosok Ibu untuk Zara, dia bahkan tidak pernah menaikkan nadanya satu oktaf pun jika marah pada anaknya itu.
"Zara!" Zara langsung bergegas pergi dan menutup dengan keras pintu kamarnya. Rosa yang tadinya berdiri, terduduk lemas sambil menghela napas.
Mereka berdua tidak tahu, ada sosok orang yang telah mereka bicarakan berada tak jauh dari sana. Husain berjalan dengan setelan jas putih dokternya, ia baru saja pulang dari rumah sakit karena ada pasien yang memiliki janji temu dengannya dan saat pulang malah mendengar perkataan yang tidak mengenakkan.
"Assalamu'alaikum, Bu." Rosa berbalik dan sedikit terkejut mendapati Husain di belakangnya. Husain meraih tangan Rosa dan menyalaminya.
"Wa'alaikumussalam. Kamu dari mana?" Rosa memperhatikan Husain dari atas ke bawah. Setelan jas putih yang menandakan Husain baru saja bekerja karena ia adalah seorang Dokter.
"Saya ada janji sama pasien saya, Bu. Makanya telat pulang, saya udah kabari Zara juga."
Rosa Mengangguk-ngangguk. "Kamu masuk ke kamar kalau gitu, istirahat." Husain menatap kamar Zara dan berpikir suasana hati Zara sedang tidak baik. Ia memilih untuk duduk di dekat Rosa, Ibu mertuanya.
"Bu, jangan paksakan Zara untuk mencintai saya. Tidak apa. Benar, saya pun belum bisa mencintai Zara, tapi saya adalah suami Zara. Saya janji akan membuat Zara bahagia." Air mata itu tak dapat dibendung lagi oleh Rosa. Ia merasa Husain mendengar percakapannya dengan Zara tadi Ia merasa bersalah dan tidak enak pada Husain.
"Maafkan keegoisan Zara. Dia seperti itu karena Ibu selalu memperlakukan dia seakan putri raja, Ibu mohon kamu pahami Zara." Husain memegang kedua tangannya wanita yang kini telah menjadi Ibunya juga.
"InsyaAllah, Bu."
Husain menghapus air mata yang sempat mengalir dari mata wanita yang telah melahirkan istrinya.
"Ibu naik dulu, kamu masuk ke kamar juga, Nak."
"Iya, Bu." Rosa pun berjalan menuju kamarnya sehingga Husain sendiri di ruang tamu. Ia menatap lama ke arah pintu kamar Zara. Khawatir Zara semakin bersedih saat ia masuk, terpaksa menunggu adalah keputusannya. Kacamatanya ia letakkan di meja dan memijit kepalanya yang sedikit terasa sakit. Lama menunggu, Husain ketiduran dengan posisi duduk di sofa.
Zara sendiri yang berada di dalam kamar melihat ke arah jam di dinding. Ia mengernyitkan dahi.
"Apa dia bermalam di rumah orang tuanya?" pikir Zara. Saat kembali merebahkan badannya, ponselnya bergetar. Zara mengambil ponsel itu yang tak jauh tergeletak darinya.
Satu notif yang baru saja ia baca.
'Aku ada janji dengan pasien, selesai itu aku baru pulang, mungkin sekitar jam 10 malam nanti.'
Notif itu ia terima sekitar 3 jam yang lalu, tetapi baru dibaca saat ini. Ia memperhatikan jam yang sudah menunjukkan jam 11 malam.
Zara pun bersikap cuek. Toh, Husain sudah besar dan bisa menjaga dirinya sendiri, pikirnya. Namun, matanya tak bersahabat. Netral indah itu rasanya ingin terus terjaga.
"Ah, sepertinya aku perlu minum agar bisa tidur."
Zara kembali berdiri. Ternyata teko airnya kosong. Ia pun keluar dari kamar untuk mengisi air minum. Namun, ia malah mendapati seseorang yang duduk atau tertidur di sofa.
Zara hanya melihat kepala Husain yang bersandar di sofa ruang tamu dari arah belakang. Ia pun mendekat, ingin melihat memastikan apakah itu Husain.
"Mengapa ia tidur di sini?" Zara hampir menyentuh pundak Husain berniat membangunkannya. Namun, karena masih canggung dengan Husain ia memilih untuk kembali ke dapur dan mengisi air.
"Mengapa ia tidak masuk? Aku bisa dimarahi Ibu kalau dia tidur di sana." Tanpa sadar, tekonya telah terisi full hingga airnya tumpah.
"Astagfirullah! Apa yang kupikirkan!" Ia segera kembali ke kamarnya dengan membawa teko berisi air itu.
Matanya kembali melirik ke arah sofa. Husain masih tertidur. Dilema. Ingin membangunkan, tetapi ... entah mengapa terasa sulit untuknya. Zara pun memutuskan masuk ke kamarnya membiarkan Husain tertidur di sofa.
Usai meminum seteguk gelas air, Zara kembali duduk di tepi ranjang. Pikirannya kembali pada Husain.
"Bagaimana kalau Ibu kira aku yang menyuruhnya tidur di luar?"
Zara bergelud sendiri dengan pikirannya. Ia bingung harus bagaimana.
"Ah, kubawakan saja selimut." Zara pun mengambil selimut di lemari dan berniat mengenakan itu untuk Husain.
'Kreek!' Pintu terbuka bersamaan Zara juga yang memegang gagang pintu. Selimut itu langsung terjatuh dari tangannya. Husain melirik selimut yang dibawa oleh Zara.
"Kamu belum tidur?" Zara menunduk, lalu menggeleng. Zara memegang erat ujung roknya. Ia tak tahu harus menjawab apa.
"Ehh... itu---"
Suara dering ponsel Zara berbunyi menyelamatkannya. Ia tidak ingin jika berkata bahwa ingin menyelimuti Husain dan membuat Husain berpikir ia telah luluh padanya.
"Aku mau jawab telfon dulu," ujarnya lantas saat berbalik dari Husain, ia bernapas lega.
Husain memungut selimut yang terjatuh tadi dan melebarkannya di
"HEH! KOK BISA LO NIKAH SAMA ORANG LAIN!" Zara terkejut karena volume suara yang menelponnya begitu keras. Dia Khadijah adalah sahabat Zara.
"Besok aku jelasin, Jah."
"Ihh, aku mau tau sekarang!"
"Udah malam, besok kita ketemuan."
Zara langsung menutup telfon dan mematikan ponselnya. Ia pun kembali menengok ke arah Husain yang ternyata sudah berbaring di dekat ranjangnya.
"Maafkan aku."
Husain belum tidur, ia mendengarnya dan tersenyum. Entah, seperti ia tertantang untuk menaklukkan hati istrinya itu. Kembali memejamkan matanya dan berharap malam pertamanya sebagai seorang suami ini akan ada hikmah yang diberikan oleh Allah. Berbeda dengan Zara, ia ketakutan untuk memulai hubungan yang tak seharusnya terjadi. Zara pun tertidur. Malam pertama pengantin untuk Husain dan Zara tidak seperti pasangan suami istri pada umumnya.