"Hanya untuk hari ini dan besok." Perkataan yang keluar dari mulut Zara seakan membuat hati ini terasa ditusuk. Tak ada darah, tetapi lukanya terasa. Aku kembali melangkah ke dalam rumah sambil menenteng tas Abah dan Umi, sementara Zara mengikut dari belakang. "Zara tunjukkan kamar buat mertua kamu, Nak." Ibu menatapku bersamaan dengan Umi yang juga ternyata menatap ke arahku, ah tepatnya kami berdua, aku dan Zara yang berdiri bersebelahan. "Kalian sepertinya memang terlihat seperti pasangan serasi," ujar Umi kemudian tersenyum ditandai dengan matanya yang sedikit mengecil, sementara Abah dan Bapak duduk mengobrol bersama. Zara berjalan lebih dulu membuatku spontan mengikutinya dan juga Umi. Setelah beberapa anak tangga kami lewati, akhirnya kami sampai di depan pintu kamar yang akan

