17. Bercerai?

1812 Words
"Minggir, Mas! Kamu nggak lihat Kaira menangis? Kamu bisa buat aku menangis, tapi nggak dengan Kaira! Secuil saja aku nggak akan pernah rela kalau kamu sakiti anak aku!" Kani juga ikut larut dalam emosinya. Ia begitu marah karena sang suami melarangnya menolong sang anak yang masih menangis histeris itu. "Aku nggak akan seperti ini kalau bukan kamu duluan yang mulai!" Kailin kembali berteriak. "Aku? Nggak kebalik? Kamu nggak malu bilang aku duluan yang memulai semua ini?! Minggir atau aku akan teriak sekeras mungkin!" Kani melotot, ini adalah kali pertamanya marah. Ia mengepalkan tangannya dengan gemetar, emosinya benar-benar sudah tak terkendali. "Ibu ...." Kaira masih menangis memanggil ibunya karena ketakutan melihat kedua orangtuanya yang sedang berdebat sambil berteriak. "Tengok anakmu, Mas! Lihat, lihat dengan benar! Salah apa anak sekecil itu? Sampe dia harus melihat pemandangan seperti ini?!" Kailin menoleh pada anaknya yang masih menangis di atas ranjang. Anak kecil itu benar-benar ketakutan, pria itu akhirnya menyerah dan membiarkan Kani lepas. Kani berlari menghampiri sang anak dan lalu memeluk anaknya dengan penuh sesal. Tak seharusnya ia meladeni suaminya, tak seharusnya ia bertengkar di hadapan anaknya itu. Tepat ketika Kani sudah menggendong Kaira, para orang tua masuk walau tanpa permisi. "Ada apa, Kai? Kani?" tanya ayah Kailin dengan suara bervolume tinggi. Ibunda Kani dan ibu mertuanya lalu mendekati Kani dan membelai punggung Kaira. Kailin tercenung sesaat. Ia menyadari kesalahannya barusan, tak seharusnya ia larut dalam emosinya sendiri. Emosi yang akhirnya melukai perasaan Kani dan membuat Kaira ketakutan. Belum lagi ia harus menjelaskan apa yang terjadi pada orang tua dan mertuanya. "Ada apa Kai?!" tanya pria tua itu lagi. Selama perjalanan pernikahan Kailin dan Kani, ini adalah kali pertama keduanya terlibat dalam perdebatan. Keduanya selalu akur selama ini sampai banyak tetangga yang memuji rumah tangga mereka berdua. Kani sebagai istri penurut dan Kailin sebagai suami yang siaga. Sayangnya, saat ini kehidupan rumah tangga mereka tak seindah yang dilihat orang lain. "Maafin Kai, Pak." Kailin berbicara lirih, ia menatap wajah ayahnya dengan berani seperti ia menatap Santoso terakhir kali. "Apa yang sebenernya terjadi? Kenapa kalian sampe teriak begitu? Kaira sampe menangis ketakutan. Ada apa sebenernya, Kai?" Kali ini gantian ibunda Kailin yang bertanya. Ia merasa tak enak hati pada besannya karena sang anak yang merupakan kepala keluarga, nyatanya malah bersikap kasar pada Kani. Kailin membisu, begitupun dengan Kani. Beberapa waktu berlalu dan suasana masih tegang. "Bu, bawa Kaira pulang, tidurin lagi dia di sana. Dia masih mengantuk." Ayah Kani meminta istrinya membawa Kaira pergi. Wanita itu lalu menggendong cucunya dan pergi dengan perasaan gundah. Setelah ibunda Kani dan Kaira pergi, suasana semakin menegang. "Kailin, Kani, Ayah mau bicara sama kalian. Duduklah." Masih di kamar Kailin, ayah Kani meminta menantu dan anaknya duduk. Kailin dan Kani menurut, keduanya duduk di bibir ranjang dengan jarak yang tak terlalu dekat. Keduanya saling melempar tatapan, Kailin dengan perasaan menyesal dan Kani dengan perasaan kesal. Sementara ayah Kani dan kedua orang tua Kailin duduk di sofa. "Kailin," panggil ayah Kani. Ayah Kailin hanya diam saja menyadari bahwa anaknya lah yang bersalah. Sebesar apapun kesalahan sang istri, tak seharusnya ia membentak Kani. Kailin mengangkat wajahnya dan menatap ayah mertuanya dengan berani. "Iya, Pak." "Kamu memang anak menantu Bapak, tapi Bapak udah anggep kamu sebagai anak sendiri. Bapak begini bukan karena mau membela anak Bapak. Tapi nggak seharusnya kamu membentak istrimu seperti itu." "Maafkan saya, Pak. Kai mengaku salah. Kai tahu itu. Maaf," ucap Kailin dengan berani. Ia mengakui kesalahannya dan berulang kali meminta maaf. Ayah Kani mengangguk. "Baguslah, Bapak berharap hal seperti ini tidak terjadi lagi." "Baik, Pak." Kani menyeringai. Melihat anaknya yang terlihat tak bersalah, ayah Kani merasa geram. "Kani, apa yang sudah kamu perbuat sampai membuat suami kamu marah seperti itu?!" Kali ini pria tua itu sengaja menaikkan volume suaranya karena ia tengah memarahi anaknya sendiri. Kani juga tanpa takut menatap mata ayahnya. "Kani nggak ngelakuin apa-apa, Pak. Kani juga bingung kenapa Mas Kai sampe marah seperti itu." Dengan berani Kani menjawab. "Jawab jujur!" Pria tua itu membentak anaknya. Ia merasa malu dengan sikap anaknya hari ini yang bahkan membawa pulang perempuan lain sampai suaminya marah. Kani tersentak kaget ketika ayahnya membentaknya. Matanya berkaca-kaca, ia merasa sakit di dadanya, sakit yang teramat sakit. Tak hanya Kani, Kailin dan kedua orang tuanya juga kaget melihat kemarahan pria tua itu. "Siapa wanita tadi? Kenapa kamu bawa dia kemari?" tanya ayah Kani lagi. Kani mulai meneteskan air matanya, tetapi matanya sama sekali tak berkedip. Air mata yang mengepung deras di matanya itu membuatnya tak bisa melihat dengan jelas. Ia sudah berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis, tetapi tekadnya kalah dengan rapuhnya hati yang ia miliki. "Kenapa Bapak nggak tanya sama Mas Kai?" jawaban ambigu dari Kani berhasil membuat Kailin merasa terpojok. Apalagi wanita itu kini mulai meneteskan air matanya. "Kai? Siapa wanita tadi? Apa kamu bermain di belakang Kani dengan wanita itu?" tanya ibunda Kailin buru-buru setelah menyadari kalau mungkin saja anaknya lah yang bersalah. Kailin serasa dihadapkan dengan hidup dan mati, degup jantungnya semakin cepat sehingga membuatnya mengeluarkan keringat walau ia hanya duduk saja. Air mata Kani semakin deras. "Jawab, Kai! Apa kamu ada main dengan wanita itu?!" Kali ini ayah Kailin yang naik darah melihat anaknya yang hanya diam saja, seperti orang yang tak bertanggungjawab. Kani tertawa dalam tangisnya. "Tadi aja kamu bentak-bentak aku. Tapi sekarang kamu cuma bisa diem aja kayak orang bisu," batin Kani. "Dia mantan pacar aku waktu sekolah dulu." Kailin akhirnya membuka mulutnya, mengakui siapa Vero walau tak sepenuhnya ia mengakui kenyataan yang ada. Kani tertawa semakin keras. Semua orang melihatnya dengan iba, tak terkecuali Kailin. Ia tahu apa yang sudah ia lakukan telah melukai hati istrinya. Suasana kembali tegang, semua mulut tertutup rapat. Sampai akhirnya ibunda Kailin yang berusaha mencari jalan keluar untuk masalah rumah tangga anaknya. "Kai, tolong jawab jujur. Apa kamu punya hubungan dengan wanita tadi? Selain sebagai mantan pacar, apa kalian memiliki hubungan spesial?" Kali ini ibunda Kailin berbicara dengan lirih. Wanita itu bertanya dengan d**a yang terasa sesak, ia sudah ketakutan setengah mati, takut kalau anaknya ternyata melakukan hal yang tak seharusnya. Kani yang sudah tahu apa hubungan Kailin dan Vero, kini hanya bisa tersenyum getir sambil menyeka air matanya yang masih saja menetes. Ia tak ingin menyela dan membongkar semua, ia hanya akan melihat apa yang akan suaminya katakan. Ia ingin tahu apakah suaminya itu memiliki nyali untuk mengakui semua perbuatannya yang berhasil membuat hatinya sakit setengah mati. "Jawab, Kai. Ibu nggak pernah ajarin anak Ibu buat berbohong. Ibu juga nggak pernah ajarin anak Ibu buat jadi orang yang nggak bertanggungjawab." Kailin memejamkan matanya sesaat. Setelah ia membuka matanya, ia mengambil napas dalam-dalam. "Aku berniat menikahi dia, Bu." Ya, Kailin mengaku jujur. Semua mata tertuju padanya dengan mata yang membuka sempurna, terkecuali Kani. Wanita itu menunduk sambil menutupi betapa ia sedang menderita saat ini. Ia menangis dengan derai air mata yang sangat deras. Suaranya terdengar sesenggukan, membuat siapapun yang mendengarnya merasa ikut bersedih. "Apa kamu bilang?" tanya ibunda Kailin yang langsung berdiri dan menghampiri sang anak. Wanita itu meneteskan air mata tepat di depan anaknya-Kailin dan suami Kani itu tak berani menatap sang ibu yang kini menangis karenanya. "Jadi semua keributan hari ini karena ulah kamu? Gimana bisa kamu melakukan semua ini?" Ibunda Kailin itu lalu berlutut karena kakinya yang terasa lemas. Sebagai sesama wanita, ia tahu betul apa yang Kani rasakan saat ini. Kani sendiri tak kuasa menahan air matanya. Ia memang sudah tahu kalau suaminya akan menikahi wanita lain, tetapi baru ini ia mendengar sendiri pengakuan dari mulut sang suami. "Ya Allah, sakit ... sakit banget!" batin Kani dengan kedua telapak tangan yang mengepal erat. Semua orang larut dalam emosi mereka masing-masing. Kani dan ibunda Kailin menangis, Kailin sendiri menunduk dengan perasaan yang sangat kacau, sementara ayah Kani dan ayah Kailin masih membisu karena saking terpukulnya mereka. Tak ada yang menyangka kalau Kailin akan memiliki niatan untuk menikah lagi, karena pria itu tak pernah terlibat hubungan dengan wanita manapun sejak remaja. Ibunda Kailin menggeser tubuhnya hingga kini ia berlutut di depan Kani. "Maafkan Ibu, Nak. Ibu yang salah, Ibu yang sudah menjodohkan kalian." Melihat ibunya yang berlutut di depan istrinya, Kailin merasa sakit hati. "Bangun, Bu. Emang kenapa kalau Kailin menikah lagi? Di agama kita, seorang pria berhak memiliki istri lebih dari satu." Kailin berdiri dan berniat mengangkat sang ibu agar tak berlutut di depan Kani. Kani semakin terisak setelah mendengar ucapan Kailin. Ibunda Kailin langsung berdiri dan menampar anaknya, sangat keras. "Ibu tahu itu! Apa kamu pikir Ibu nggak tahu?" Wanita itu begitu kecewa pada sang anak. "Terus kenapa Ibu harus berlutut seperti itu?" Kailin tak masalah jika ia yang harus berlutut di depan Kani, tetapi ia tidak bisa melihat ibunya yang berlutut di depan wanita itu. "Karena kamu udah membuat istri kamu menangis, Kai. Sekalipun pernikahanmu dengan wanita itu tak membutuhkan restu istri kamu, perbuatan kamu yang udah buat istri kamu menangis adalah perbuatan yang salah. Seharusnya kamu meminta izin dulu pada Kani dan bertanya apakah ia mau menjalani biduk rumah tangga poligami atau tidak." "Aku janji akan bersikap adil sama istri-istri aku, Bu. Aku mencintai Vero dan aku ingin menikahinya." Kalimat Kailin barusan bagaikan tombak panjang yang menusuk d**a Kani, sakit yang luar biasa, sakit yang tak pernah ia rasakan selama ini. "Belum puas kamu buat aku dan keluargamu menangis, Mas? Sampai kapan kamu akan terus menyakiti kami?" tanya Kani dengan suara yang terdengar gemetar. Kali ini ia sudah tak bisa lagi bersandiwara, ia hancur sehancur-hancurnya karena mendengar suaminya mengaku cinta pada wanita lain. "Aku juga nggak mau menyakiti siapapun. Apa kamu pikir aku senang sekarang? Aku juga sedih melihat kamu dan Ibu menangis." Kailin masih saja tak ingin menyerah. Kani menatap sang suami dengan isak tangis yang terdengar lantang. "Udah cukup, Mas. Cukup ... tolong ceraikan aku. Aku nggak mau punya madu, aku nggak sanggup menerima semua ini." Kani memilih mengakhiri semuanya dari pada harus bertahan dalam rasa sakit yang tak mampu ia tanggung. Mendengar permintaan Kani yang ingin berpisah, Kailin terkejut bukan main. Sejak awal ia tak ingin melepaskan istrinya itu, sejak awal ia berusaha menjaga Kani agar tetap menjadi istrinya. Tetapi, setelah semua drama hari ini, setelah apa yang terjadi hari ini, ia tak bisa mengabaikan perasaan wanita itu begitu saja. Namun, melepaskan Kani adalah hal yang sulit untuk ia lakukan. "Aku nggak mau hidup dengan rasa sakit ini selamanya, Mas." Bersambung.... Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. PhiKey
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD