Kani kemudian menutup pintu kamarnya dan kembali ke ranjang, menghampiri sang anak yang kini ada di dekapan sang ayah. Melihat anaknya yang tersenyum senang berada di dekapan sang ayah, wanita itu ikut merasa bahagia. "Aku hanya ingin Kaira bahagia, mendapatkan kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya. Semoga aja Mas Kailin nggak ingkari janjinya," batin Kani.
Kani membelai lembut rambut anaknya sambil mendengar anaknya yang mencoba bercerita layaknya anak kecil lain. Walaupun cedal dan terkesan tak nyambung, Kani dan Kailin tertawa mendengar cerita anak kecil itu. Wanita itu akhirnya bisa bernapas lega karena nyatanya anaknya baik-baik saja setelah semua yang terjadi tadi.
.
Kani tengah menyiapkan meja untuk makan malam di rumah mertuanya. Semua orang sudah duduk dan berkumpul di ruang makan itu dengan perasaan canggung. Sembari menunggu makan malamnya siap, Kailin mencoba mengajak Kaira bercanda. Pria itu merasa begitu malu pada ayah dan ibunya setelah semua yang terjadi hari ini. Namun, ia tak ingin menghindar karena sejak awal ia memutuskan menikahi Vero, ia siap untuk menghadapi semua konsekuensinya. Siapa sangka, semua keributan itu terjadi bahkan ketika ia belum jadi menikahi mantan pacarnya itu.
Makan malam pun berlangsung dengan suasana yang cukup hening. Hanya terdengar suara Kaira yang mengajak ayahnya bercanda. Kailin memang mencurahkan perhatiannya pada sang anak dengan tak membiarkan istrinya menyuapi gadis kecil itu, ia ingin dirinya lah yang menyuapi Kaira dan menyiapkan apapun yang anaknya butuhkan.
Melihat suasana yang begitu canggung saat ini, membuat ibunda Kailin mencoba memecahkan suasana.
"Kani," panggil wanita itu.
Kani mengangkat wajahnya dan menatap sang ibu mertua dengan mulut yang masih mengunyah. "Iya, Bu." Kani buru-buru menelan makanannya.
"Kenapa? Kok makannya lesu begitu? Makannya nggak enak?" tanya ibu mertua Kani. Kailin hanya menoleh menatap sang istri sesaat sebelum akhirnya kembali menyuapi buah hatinya.
Kani buru-buru menggeleng. "Enak, kok, Bu."
"Terus kenapa makannya dikit banget? Kamu udah jadi tes? Gimana hasilnya?" Ibunda Kailin mengingat bahwa dirinya telah membelikan alat tes kehamilan pada anak menantunya.
"Tes? Tes apa?" Kali ini ayah Kailin yang penasaran. Kailin kembali melirik sang istri karena ia kebingungan.
Kani beberapa kali mengedipkan matanya karena semua orang menatapnya dengan penuh delik. "Aku - aku belum jadi tes, Bu, Pak." Kani memilih jujur.
"Kenapa? Apa kamu ada tanda-tanda hamil?" Kini Kailin juga merasa penasaran.
Kani menggeleng lemah. "Ehm ...." Kani bingung harus menjelaskan pada sang suami, ia tak ingin menyinggung perasaan ibu mertuanya karena ia merasa lesu beberapa hari yang lalu bukan karena ia hamil.
"Kemarin Kani tampak lesu banget, makanya Ibu beliin alat tes kehamilan. Soalnya dulu pas hamil Kaira, dia juga kelihatan lesu begitu."
Kailin menatap sang istri. Kani menggeleng lagi. "Itu ... sebenernya Kani lesu karena mikirin Mas Kai," ucap Kani sambil menunduk. Ia memilih jujur karena tak ingin membuat ibu mertuanya berharap lebih.
Ibunda Kailin langsung terdiam setelah tahu apa yang membuat anak menantunya lesu. "Maafin Ibu, Ibu pikir kamu hamil. Ibu udah pengen gendong jagoan, tapi nggak tahu kalau ternyata anak Ibu yang Ibu banggain selama ini udah nyakitin hati kamu sampe mau menikah lagi sampe kamu lesu begitu." Dengan penuh penyesalan, ibunda Kailin memang merasa malu pada anak menantunya.
"Udah, Bu. Jangan dibahas lagi, ada Kaira," ucap ayah Kailin yang ikut menyela.
"Iya, maafin Ibu. Kamu bilang kamu masih rutin minum pil penunda kehamilan, kamu berhenti ya mulai sekarang. Ibu bener-bener pengen punya cucu jagoan. Itu juga bagus buat kalian biar hubungan kalian bisa kayak dulu lagi. Kalau perlu kalian pergi bulan madu, Kaira biar Ibu sama Bapak yang urus. Ada juga Ibu sama Bapak kamu, Kan. Hm?" Tiba-tiba saja ibu mertua Kani meminta anak dan anak menantunya untuk pergi berbulan madu. Kani langsung menatap sang suami dengan tatapan malu sekaligus bingung.
Kailin yang awalnya diam, kini langsung mengambil keputusan. "Baiklah, Kai sama Kani akan pergi berdua. Tolong jaga Kaira dan toko, paling nggak cek apa Bambang bisa ngurus toko dengan baik."
"Tapi, Mas-" Kani enggan menuruti keinginan ibu mertuanya, apalagi ia dan anaknya harus terpisah.
"Udah, Kani. Kamu pergi sama suami kamu, pergi ke tempat yang bagus dan lupakan semua kesalahan suami kamu. Kamu juga Kai, kamu harus manjain istri kamu dan minta maaflah dengan benar." Ibu mertua Kani benar-benar merasa gagal menjadi ibu mertua yang baik untuk Kani.
"Tapi aku mana bisa jauh dari Kaira, Bu. Aku juga perlu kerja, bisa-bisa sekolah cari guru baru buat ganti aku kalau aku banyak izinnya." Kani memang belum pernah terpisah dari sang anak, apalagi rencana bulan madu itu tentu saja tak sebentar.
"Ibu yakin Kaira nggak akan nangis, dia anak yang pinter. Dan untuk masalah pekerjaan kamu, biar Ibu yang urus. Sekalipun kalau kamu dipecat, Ibu akan bantu kamu buat cari sekolah baru. Kalau perlu biar Bapak yang buat sekolah, kamu kan tahu kalau tanahnya Bapakmu itu ada di mana-mana." Ayah mertua Kani memang pebisnis yang sukses sehingga memiliki aset di mana-mana.
Kailin menatap istrinya dengan tatapan maut. Pria itu merasa kalau sang istri hanya tak ingin bersamanya. "Kalau kamu nggak mau, aku nggak akan kasih izin kamu buat mengajar lagi. Kamu di rumah aja, nggak usah ngajar-ngajar lagi." Kailin berkata dengan nada ketus.
Kani membulatkan matanya. "Mas," ucapnya lantang karena ia tak ingin suaminya melarangnya melakukan apa yang ia suka. Mengajar anak-anak kecil baginya memang merupakan hal yang menyenangkan, bukan semata hanya untuk mencari penghasilan atau mengisi waktu luangnya.
"Udahlah, kamu pergi aja. Nggak usah lama-lama, 3 hari juga cukup, kan?" tanya ibu mertua Kani.
Kani menatap sang suami dengan wajah yang sudah ditekuk.
"Kamu nggak mau?" tanya Kailin yang semakin kesal karena istrinya masih saja diam.
"Ya udah, aku akan bilang sama Kepala Sekolah kalau kamu nggak akan ngajar lagi mulai sekarang," ancam Kailin.
"Jangan! Iya, aku mau." Kani akhirnya menyerah, membuat ibu mertua dan ayah mertuanya tersenyum senang. Namun, Kailin masih saja menatap istrinya dengan tatapan maut karena ia pikir istrinya berusaha terus menghindarinya.
Selesai makan malam, Kani membersihkan meja dan mencuci piring sebelum akhirnya kembali ke kamar. Sesampainya di kamar, ia menemukan sang suami yang tengah menggendong anaknya yang ternyata sudah tertidur. "Kenapa nggak direbahin aja, Mas? Kamu kan masih sakit," ucap Kani lirih.
"Dia belum lama tidurnya," sahut Kailin yang berbicara dengan suara setengah berbisik.
Kani mengangguk dan kemudian merapikan ranjang. Setelah dirasa Kaira sudah terlelap tidur, Kailin menidurkan anaknya di ranjang.
Kani membantu menyelimuti sang anak, saat itulah Kailin menatapnya dengan lekat. Ibunda Kaira yang merasa diperhatikan suaminya, segera menyingkir dari hadapan sang suami dan berniat menjauh, tetapi Kailin buru-buru mencekal lengan istrinya.
"Apa?" Kani bertanya dengan berbisik, tetapi matanya membulat.
"Aku mau," ucap Kailin lirih dengan tatapan yang menggoda.
"Kamu bilang mau bulan madu, kenapa nggak ditahan aja sekarang?" tanya Kani kesal. Suaminya memaksanya untuk pergi bulan madu dan bahkan setelah semua yang terjadi hari ini, rasanya canggung jika harus melayani suaminya di ranjang.
Kailin menyeringai. "Aku mau kopi, kamu pikir aku mau apa?" tanya Kailin yang mencoba meledek sang istri.
Kani tampak gelagapan, merasa malu karena ulah sang suami yang berhasil membuatnya terlihat aneh karena memikirkan hal yang tak seharusnya.
"Kamu cuma tinggal bilang kalau mau kopi, kenapa ngomongnya cuma mau aja?" ucap Kani malu-malu.
"Jangan bilang sebenernya kamu lagi pengen, makanya mikirnya ke sana mulu. Sabarlah, besok kita berangkat bulan madu, kamu bebas milih tempatnya." Kailin kembali menggoda sang istri.
Kani memejamkan matanya karena malu, ia lalu mengibaskan tangannya agar sang suami melepas lengannya. "Nggak ada kopi! Kamu harus minum obat!" Kani pergi meninggalkan kamar dengan perasaan malu. Kailin malah tertawa karena melihat istrinya yang salah tingkah.
Bersambung...
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
PhiKey