18. Diragukan

1306 Words
Deretan kandang terbuka membentang di sisi lapangan berburu. Bau jerami segar bercampur aroma kulit dan besi memenuhi udara pagi. Para penjaga berdiri berjajar, sementara kuda-kuda terbaik dari Eclestia disiapkan berdampingan—seakan menunjukkan kegagahan dari tanah Eclestia itu sendiri. Issabelle melangkah perlahan di antara kandang. Matanya menyapu satu per satu kuda—hitam legam dengan otot tegang, cokelat keemasan dengan surai panjang, abu-abu perak yang tampak gelisah. Namun tak satu pun membuatnya berhenti… sampai langkahnya terhenti di kandang paling ujung. Seekor kuda putih abu-abu berdiri tenang di sana. Bulu lehernya berkilau lembut diterpa cahaya matahari, dan matanya—jernih, dalam—menatap Issabelle seolah telah mengenalnya jauh sebelum hari ini. Issabelle mengulurkan tangan. Kuda itu mendekat tanpa ragu. Helaan napas kecil terdengar dari para penjaga. “Xena,” gumam Issabelle dia merasa sangat mengenal kuda itu salah satu dari penjaga mencoba menghentikan Issabelle, “Mohon maaf Yang Mulia kuda itu tidak pernah jinak pada orang asing.” Issabelle terdiam, jarinya menyentuh hidung kuda itu dengan hati-hati. Hangat. Tenang. Tidak ada penolakan. “Dia mendekat padaku,” bisiknya, lebih pada dirinya sendiri. Aldrian yang berdiri beberapa langkah di belakang menyipitkan mata. “Dia tampak nyaman denganmu Issabelle.” Alistair telah berdiri di sisi Issabelle. Ia menatap kuda itu lama, lalu beralih pada wajah istrinya. “Dia memilihmu,” katanya akhirnya. “Dan kuda… selalu tahu siapa pemiliknya.” Issabelle menelan ludah. Aldrian mendengus pelan. “Di Vernant, bukan kuda yang memilih. Penungganglah yang menentukan.” Ia melangkah ke arah kuda hitam legam miliknya. Begitu Aldrian mendekat, kuda itu menghentakkan kaki depannya, kepalanya terangkat angkuh—liar, penuh tenaga. “Kuda perang Vernant,” ucap Aldrian bangga. “Setia hanya pada darah.” Issabelle menatap kuda itu sesaat, lalu kembali pada kuda putih di hadapannya. “Tapi yang ini… terasa berbeda.” Alistair meraih tali kekang dan menyerahkannya ke tangan Issabelle. “Dia tidak dilatih untuk perang,” ucapnya pelan. “Dia dilatih untuk untuk bertahan dan melindungimu.” Jari Issabelle bergetar saat menerima tali itu. Kuda putih tersebut menunduk sedikit, menyentuhkan dahinya ke bahu Issabelle—seolah memberi sumpah yang tak diucapkan, seolah menyampaikan kerinduannya. Aldrian terdiam. “…Kau tidak pernah menyukai kuda jinak,” katanya pelan. “Kau selalu memilih yang liar.” Issabelle tersenyum samar. “Mungkin karena aku lelah dilukai oleh yang liar.” Kalimat itu menggantung. Alistair menatapnya tajam—kata-kata itu mengenai lebih dalam dari yang Issabelle sadari. “Aku akan menunggang bersamamu,” katanya kemudian. Nada suaranya bukan permintaan. Aldrian mengangkat alis. “Atau kau takut dia memilih kembali ke Vernant?” “Issabelle akan bersamaku, kami sudah merencanakan ini.” Senyum Alistair tipis. “Takdir tidak berjalan mundur.” Udara menegang. “Cukup,” Issabelle menarik napas, suaranya lembut namun tegas. “Aku ingin hari ini… tanpa keributan dari kalian berdua.” “Aku akan bersama Xena hari ini.” “Kau baru pulih Istriku.” Blushhh pipi Issabelle seketika memerah mendengar ucapan penuh kasih dari Alistair “Cihhh… kau pikir dengan merayunya bisa membuatnya bertahan di eclesstia ?” “Kakak sudahlah..” “Aku tetap akan menunggangi Xena kali ini. Kalian tetap bisa mengawasiku.” Untuk sesaat, kedua pria itu diam. Lalu Alistair mengangguk kecil. “Baiklah.” Lalu Alistair menghampiri Xena “Ingat kau harus menjaga istriku. Kau tau akibatnya jika Istriku sampai terluka.” Lalu menepuk kepala kuda itu dua kali Ia membantu Issabelle menaiki pelana. Tangannya menopang pinggang Issabelle sedikit lebih lama dari yang diperlukan—cukup untuk membuat Aldrian mendengus sebal melihatnya adegan itu. Dan Aldrian tidak melewatkannya. “Dasar tukang mengambil kesempata.” *** Derap kuda bergema saat mereka meninggalkan lapangan istana, bergerak beriringan menuju jalur hutan di sisi timur. Dengan perlahan mereka masing-masing menunggang kuda sendiri. Issabelle berada di tengah, menunggang kuda putih abu-abu yang langkahnya tenang. Tangannya memegang tali kekang dengan mantap, seakan sakit beberapa waktu yang lalu tidak berpengaruh terhadap semangatnya. Rambutnya tergerai tertiup angin, wajahnya tampak lebih hidup dibanding beberapa hari lalu. Di sisi kanannya, Alistair menunggang kuda cokelat gelap milik kerajaan. Posturnya tegap, matanya waspada, setiap gerak Issabelle tak luput dari perhatiannya—terlalu waspada untuk sekadar menemani. Di sisi kiri, Aldrian melaju santai di atas kuda hitam Vernant. Senyum tipis terukir di wajahnya, seolah perjalanan ini hanyalah nostalgia yang menyenangkan. Mereka melewati jalur tanah yang mulai jarang dilewati penjaga. Pepohonan semakin rapat, lalu perlahan membuka diri. Hutan belakang istana menyambut mereka dengan hamparan padang rumput luas yang tersembunyi—hijau, sunyi, dan nyaris tak tersentuh. Angin berlari bebas di atas rerumputan tinggi, membawa aroma bunga liar dan tanah basah. Issabelle menarik napas panjang. Tempat ini… ia mengingatnya. Seakan mereka pernah mengalami hal ini. “Aku ingin berhenti di sini,” ucapnya pelan. Alistair segera turun dari kudanya. “Kita tidak akan lama.” Aldrian tersenyum kecil. “Kau selalu memilih tempat yang sama, Issabelle.” Issabelle turun dari kuda dengan hati-hati. “Ayo kakak kita berlatih disini, aku sudah meminta pengawal membawakan pedangku.” Seorang pengawal menyerahkan pedang latihan—bilahnya ringan, gagangnya pas di telapak tangan. Begitu ia menggenggam pedang itu, sesuatu—berubah di udara. Postur Issabelle yang semula lembut mendadak mengeras. Bahunya lurus, langkah kakinya mantap saat ia melangkah ke tengah padang rumput. Angin mengibaskan ujung gaunnya, dan mata itu—mata yang biasanya menyimpan keraguan—kini jernih dan fokus. Ia mengangkat pedang. Gerakan pertama masih lambat. Ayunan sederhana, menguji keseimbangan. Lalu langkah kedua—lebih tegas. Pedang itu membelah udara dengan suara ringan namun bersih. Alistair memperhatikannya tanpa berkedip. Setiap gerakan itu… terlalu familiar. Issabelle memutar tubuhnya, menurunkan pedang lalu mengangkatnya kembali, kali ini lebih cepat. Nafasnya teratur. Tidak ada keraguan. Tidak ada gemetar. Seolah tubuhnya mengingat sesuatu yang pikirannya sempat lupakan. “Kau belum kehilangan sentuhanmu,” ucap Aldrian sambil menyilangkan tangan di d**a. “Kau bahkan lebih indah dari sebelumnya.” Issabelle berhenti sejenak, menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Aku takut tubuhku tak lagi mengingatnya.” “Tubuhmu mengingat lebih baik dari hatimu,” jawab Aldrian ringan. Alistair melangkah maju satu langkah. “Itu cukup.” Nada suaranya tenang, tapi tegas. Issabelle menoleh. “Aku baik-baik saja.” “Aku tahu,” jawab Alistair. “Itulah yang membuatku khawatir.” Ia mendekat, jaraknya kini hanya beberapa langkah. Matanya menyapu wajah Issabelle, napasnya, jemarinya yang menggenggam pedang. “Kau baru pulih,” lanjutnya lebih pelan. “Aku tidak ingin padang rumput ini menjadi saksi kau memaksakan diri.” Issabelle menurunkan pedangnya perlahan. “Aku hanya ingin memastikan… aku masih aku.” Alistair terdiam. Lalu, lebih pelan dari sebelumnya: “Kau tidak pernah berhenti menjadi dirimu.” Angin berdesir di antara mereka. Aldrian mendecakkan lidah pelan. “Kalian benar-benar tak berubah,” gumamnya. “Bahkan saat diam pun terasa seperti medan perang.” Alderian berjalan mendekat kea rah Alistair “Kau selalu meragukannya Yang Mulia.” “Kau meragukan bahwa dia akan selalu mampu dan Tangguh mendampingimu.” “Kau membuatnya terlihat rapuh.” “Aku hanya tidak ingin dia terluka.” Ucap Alistair lirih “Tapi dia malah lebih dari terluka bukan ?” ejek Alderian “Kau harus segera memberitahu kebenarnanya.” “Jika semakin lama, dia akan semakin kehilangan segala ingatannya.” “Aku tahu apa yang sudah kau usahakan untuk memperbaikinya, namun setelah semuanya kau masih saja tidur dengan selirmu bukan ?” “Kau tidak tau apa – apa pangeran.” “Aku tidak pernah menyentuh Lysandra kau, darel dan revent paling tahu keadaan sebenarnya.” Sungut Alistair kesal berjalan meninggalkan Alderian menuju Issabelle yang sudah berada didekat kudanya Issabelle tertawa kecil, lalu mengembalikan pedang latihan itu. “Terima kasih sudah membawaku ke sini.” Padang rumput itu kembali sunyi. Namun di balik ketenangannya, tiga hati membawa ketegangan yang sama— tentang masa lalu yang belum selesai, masa depan yang perlahan mendekat dan tentang suatu kebenaran yang masih tersembunyi ahh tidak bukan tersembunyi tapi sengaja disembunyikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD