📘 BAB 8 — THE LOST MAGIC: OPERASI SELOKAN DAN LEMARI PAKAIAN

708 Words
Matahari baru saja mengintip di ufuk timur Mansion Tremaine, tapi hawa di dalam rumah sudah sepanas final turnamen karate. Bedanya, kali ini taruhannya bukan piala plastik, melainkan kelangsungan hidup mereka di dunia dongeng yang mulai terlihat seperti simulasi neraka. Misi 1: Sembunyikan Barang Bukti Noel berkeringat dingin. Di depannya, Ibu Peri masih mendengkur halus dengan hidung tersumpat kapas, terbungkus rapi dalam gulungan karpet beludru di sudut kamar. "Gue nggak bisa taruh dia di bawah kasur, Ryn! Kasurnya ketinggian, nanti kalau dia bangun terus kejedot guling gimana?" bisik Noel panik saat Aeryn masuk ke kamar dengan wajah "Madam" yang sudah on-point. "Masukin lemari baju lo, Noel! Cari yang tumpukan gaun musim dingin. Dia kecil ini, paling cuma makan tempat satu rak," perintah Aeryn sambil memijat kening. "Dan tolong, jangan lo kasih makan roti keras. Kalau dia keselek terus mati, kita beneran nggak bisa pulang." Dengan susah payah, Noel mengangkat gulungan karpet berisi 'aset penting' itu. Tubuhnya yang atletis terbiasa mengangkat beban, tapi mengangkat nenek sihir yang pingsan karena ulahnya sendiri memberikan beban moral yang berbeda. "Maaf ya, Nek. Nanti kalau bangun gue kasih pijat refleksi," gumam Noel sambil menutup pintu lemari rapat-rapat. Misi 2: Logistik dan Peta Sementara itu, Ines sedang berada di perpustakaan pribadi almarhum tuan tanah, ayah Ella. Bukannya berduka, ia justru sibuk membongkar laci meja kerja yang berdebu. Sebagai calon sarjana ekonomi yang terbiasa menghitung untung rugi, Ines tahu bahwa informasi adalah mata uang terkuat. "Ketemu!" Ines memekik pelan. Di tangannya ada sebuah perkamen tua kekuningan. Bukan peta harta karun, melainkan cetak biru sistem drainase mansion tahun 1780. "Oke, jadi lubang di bawah jendela Anastasia itu jalurnya lurus ke bawah, lalu belok ke kanan melewati pipa pembuangan dapur, dan berakhir di katup utama dekat taman belakang," Ines bergumam, jemarinya lincah menelusuri garis-garis tinta. "Kalau tongkat itu tersangkut, kemungkinan besar ada di tikungan tajam dekat dapur. Great. Sera harus mandi lumpur hari ini." Misi 3: Penyamaran dan Pengalihan Di dapur, Sera sedang berjuang melawan tumpukan piring kotor. Marta, pelayan setia yang asli, memperhatikannya dengan tatapan heran. "Nona Ella, kenapa Anda hari ini terlihat sangat... bersemangat menyapu lantai sampai ke kolong-kolong?" Sera tersentak, lalu langsung memasang wajah melankolis andalannya. "Oh, Marta... aku hanya merasa lantai ini merefleksikan nasibku yang kelam. Aku ingin membersihkan setiap sudutnya, siapa tahu aku menemukan secercah harapan." Marta terharu, mengusap air matanya dengan apron. "Sungguh mulia hatimu, Nona." Padahal, dalam hati Sera sedang berteriak: "Gue lagi nyari celah jeruji besi buat masukin tangan, Marta! Bukan nyari harapan!" Chaos di Ruang Makan Puncak perjuangan pagi itu terjadi saat sarapan. Sesuai rencana bab sebelumnya, Aeryn harus berakting kejam. Ia duduk di kepala meja, sementara Ines dan Noel duduk di sampingnya dengan gaun yang membuat mereka sulit bernapas. "Ella!" teriak Aeryn, suaranya menggelegar sampai ke dapur. "Bawa kemari supnya!" Sera datang dengan nampan, kepalanya menunduk. Saat ia mendekat, Aeryn sengaja menyenggol mangkuk berisi kacang polong hingga isinya berhamburan ke lantai, tepat di bawah meja kayu besar yang berat. "Lihat ini! Ceroboh sekali!" bentak Aeryn. Ines hampir tersedak melihat akting Aeryn yang sangat menjiwai. "Pungut semuanya! Satu per satu! Jangan beranjak dari bawah meja itu sampai semuanya bersih!" Sera segera merangkak ke bawah meja. Di balik taplak meja yang menjuntai panjang, menutupi pandangan Marta, Sera akhirnya menemukan apa yang ia cari: tutup saluran drainase yang longgar. Di bawah sana, di antara kegelapan dan bau yang meragukan, sesuatu bersinar redup. Bintang di ujung tongkat sihir. Sera menjangkau dengan tangan gemetar. "Dikit lagi... ayo, Sera... demi AC 16 derajat..." Tiba-tiba, kaki Noel yang besar dan terbungkus sepatu hak tinggi menyenggol tangan Sera. "Aduh!" Sera memekik tertahan. "Eh, sori Ser! Gue nggak sengaja, korset gue bikin gue nggak bisa liat bawah!" bisik Noel dari atas meja, sambil pura-pura sibuk memotong roti. "Diem, Noel! Fokus makan aja!" desis Ines dari balik gelas susunya. Perjuangan penuh keringat itu akhirnya membuahkan hasil. Dengan ujung jari yang kotor, Sera berhasil mencapit batang kayu tongkat itu. Ia segera menyembunyikannya di dalam lipatan apron lusuhnya. Sera keluar dari bawah meja dengan wajah yang benar-benar kotor oleh jelaga dan debu—kali ini bukan akting. Ia menatap Aeryn dan memberikan kedipan kode satu mata. Aeryn menghela napas lega dalam hati. "Misi satu aman. Sekarang tinggal gimana cara bangunin si nenek sihir di lemari Noel sebelum dia kehabisan oksigen."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD