16. Kamu adalah sumber kebahagiaanku

1706 Words
"Hal yang paling sulit dicari di dunia ini adalah kebahagiaan." Reiki Savian Altezza *** Bukan hanya Nara yang merasa hari-harinya penuh dengan kegilaan. Rei juga merasakan hal yang sama. Hidup Rei yang selalu terarah dan mengikuti jadwal yang selalu diatur oleh asisten pribadinya sangat berbanding terbalik dengan kondisinya saat ini. Hidup Rei setiap waktunya bagaikan sebuah petasan kecil yang terus meledak. Menyenangkan bagai kembang api yang terbakar dengan percikan emasnya. Kehidupannya bersama dengan Nara berhasil membuat hidupnya penuh dengan warna. Dalam satu hari, ia bisa memiliki beragam suasana hati yang berbeda dan semua itu sangat mendebarkan. Rei baru kali ini mengalaminya. "Ternyata jika ada yang mengatakan uang tidak bisa membeli kebahagiaan itu benar!" Sangat Rei sadari keadaan dirinya saat ini. Ia yang meninggalkan segala kekuasaan yang ia miliki. Harta dan bahkan jabatannya. Ia meninggalkan keluarganya dan tak memiliki apapun. Rei cukup takjub dengan kebahagiaan yang begitu meluap. Kebahagiaan yang tidak bisa ia raih bahkan di saat ia dulu memiliki segalanya. "Aku rasa, kamu adalah sumber kebahagiaanku, Nara!" Bukan hanya sekadar kata bualan. Tapi, itu adalah sebuah kebenaran. Saat Rei dalam keadaan terpuruk dan tak ada yang bisa ia minta tolong. Bagaikan sebuah keajaiban. Nara, gadis yang baru ia kenal sudah bisa memberikannya sebuah kesempatan. Gadis manis yang percaya pada sepenuh hati. Seorang gadis tulus yang menolongnya. "Yeeaaaaah ...." Di tengah lamunan Rei. Teriakan dari orang-orang yang berada di warnet itu pun terdengar sangat kencang dan lantang. "Ssssssttttt ..." Rei mencoba menenangkan pria yang baru saja berteriak tersebut. Meski pria itu tersenyum dan kemudian malu-malu. Kejadian tersebut terjadi bukan sekali atau dua kali. Ketika warnet tengah ramai, dan orang-orang yang asyik dengan komputer mereka kerap berteriak dengan kencang. Seketika itu pula, Rei sibuk menenangkan mereka dan mengingatkan mereka agar tidak berteriak terlalu kencang saat malam hari. "Huft ...." perlahan Rei menghela nafasnya dan kembali pada kursi kerjanya. Rei saat ini menjalani giliran jaganya. Ia mengontrol setiap komputer yang menyala. Memastikan mereka tidak memasuki situs yang di larang atau melalukan hal yang tidak terpuji. "Warnet ini benar-benar unik." Ini bukanlah kali pertama Rei merasa unik dengan warnet tersebut. Sedikit berbeda dengan kesan warnet yang pernah Rei dengar. Warnet yang di jalani Nara benar-benar tenang. Nyaris tidak ada tamu di warnet ini yang rewel dan bermasalah. Mereka sangat tertib dan juga sangat ramah. Bisa di bilang juga. Mereka akan selalu kembali ke warnet ini sesuai dengan jadwal mereka. Bukan bocah-bocah nakal atau preman iseng yang masuk ke warnet ini. Selalu berisi orang yang sama dengan jadwal yang sama pula. "Apa ada rahasia yang membuat warnet ini begitu tenang?" ucap Rei yang masih fokus pada layar komputer di depannya. "Ada loh..." "Kyaaaa ...." Rei menjerit kecil. "Sssssst ..." serentak orang-orang mengisyaratkan pada Rei untuk tidak berisik, bagaikan sebuah dendam dari mereka. "Ya Tuhan, aku jadi kaget!" Rei mengelus dadanya. Rei terkejut dengan wujud seorang pria yang tiba-tiba muncul dari balik layar komputernya. Suara beratnya dan senyumannya yang lebar. Serta hari yang memang sudah merangkak lewat tengah malam. Membuat Rei terkejut akan sosok pria paruh baya tersebut. "Kamu harus lihat Nara mengamuk. Baru kamu akan faham bagaimana bisa warnet ini tenang dan damai tanpa ada orang-orang menyebalkan." Tiba-tiba saja pria tersebut menceritakan hal tersebut. Tidak sampai di situ, pria paruh baya itu kembali menceritakan jika di sekitar sini sudah terkenal akan warnet yang tidak akan pernah di kunjungi oleh orang-orang aneh dan berbahaya. "Nara tidak segan-segan menghajar para pria yang membuat onar. Anak-anak nakal bahkan tidak bisa mengalahkan Nara," ucap bapak tersebut dengan nada serius. "Dia sangat keren dan juga tangguh," katanya lagi dengan penuh keyakinan. "Mungkin Nara terlihat begitu lemah lembut. Tapi, biar begitu, aku pernah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Dia menghadapi 5 orang pria bertubuh besar dengan kejam," lanjut pria tersebut yang kemudian menganggukkan kepalanya membuat Rei ikut mengangguk "Nara menghabisi mereka dengan pukulan dan tendangan yang menakjubkan. Kondisi warnet rusak parah, para pria itu penuh luka lebam dan berdarah-darah dan polisi datang untuk membawa mereka." Rei menelan ludahnya. Merasakan ketakutan yang ditimbulkan dari cerita singkat bapak tersebut. "Ha-ha-ha ..." Tiba-tiba saja sang bapak tersebut tertawa lebar. Ia menepuk pundak Rei dengan beberapa kali tepukan. "Aku bohong. Dia tidak mengerikan seperti itu." "Aku mendapati kamu yang serius memikirkan warnet yang damai ini. Jadi, aku berniat menggoda kamu!" aku dari pria paruh baya tersebut. Wajah lega terlihat jelas dari Rei. Ia sempat membayangkan Nara yang tubuhnya mungil itu melawan dengan lincah 5 orang pria bertubuh besar. Pikiran konyolnya itu sempat membuatnya bergidik. Kini, senyuman terukir di wajahnya mengetahui jika cerita penuh aksi dan bahkan berdarah-darah. Melihat senyum kecil dari Rei, membuat pria paruh baya itu melanjutkan ucapannya. "Ya ... Hanya saja. Nara memang cukup kuat. Ia menguasai bela diri." Cerita itu pun tidak berhenti sampai di situ saja. Pria paruh baya itu kembali melanjutkan kisah yang sebenarnya. "Pernah suatu hari ada pelanggan mabuk yang membuat onar di sini. Nara tidak segan menghajarnya dan mengusirnya. Ia bahkan memanggil polisi dengan seketika. Begitu pula dengan anak-anak nakal. Nara, selalu melaporkan anak-anak itu ke sekolah mereka dan membuat para anak nakal yang bermain di warnet ini kewalahan. Akhirnya mereka tidak ada yang berani masuk ke sini lagi." Tipuan bapak paruh baya yang berhasil membuat Rei ikut mengangguk itu, kini membuatnya menghela napas dalam. Rei benar-benar terkesima akan keisengan dari bapak tersebut. "Yang jelas, Nara itu bekerja dengan baik dan sungguh-sungguh untuk membangun warnet ini hingga menjadi seperti ini. Dia gadis yang baik. Jadi, tolong buatkan mie instan dan secangkir teh hangat untukku. Aku lapar Tuan yang tampan!" "Hah!!!" Rei benar-benar terkesima dengan tingkah akhir bapak tersebut. Pada akhirnya bapak tersebut menghampiri Rei karena ingin memesan makanan. Ia memergoki Rei yang asik dengan pikirannya membuat sang pria tersebut ingin sedikit menggoda Rei. Usai memesan makanan, bapak tersebut kembali pada meja komputernya. Rei pun bangkit dan membuatkan mie pesanan dari bapak tersebut ke dapur. Akan tetapi, saat Rei membuka lemari penyimpanan di dapur tersebut. Rei sama sekali tidak menemukan daun teh. Rei memutar otaknya. Mencoba mencari di mana keberadaan toples berisi teh tersebut. Ingatan Rei pun tertuju pada Nara. Sebelum Nara memutuskan untuk tidur. Ia sempat ingin membuat secangkir teh. Namun daun teh yang ada di dapur saat itu sudah habis dan membawa toples daun teh tersebut dari dapur warnet ke lantai atas. Rei pun yakin, jika toples berisi daun teh tersebut ada di lantai atas. "Pasti tadi Nara langsung tidur dan lupa menaruhnya kembali ke dapur warnet." Rei menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 2 malam. Ia pun memutuskan untuk mengendap-endap di lantai dua agar tidak membangunkan Nara. Langkah kakinya pelan ia berjalan dengan sangat lambat. Ia berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikit pun. Ia melirik ke arah pintu kamar Nara yang tertutup. Berharap Nara tidak terusik dengan keberadaannya. Perlahan Rei mengarah ke dapur, konsentrasinya masih terfokus pada pintu kamar Nara. Ia masih berusaha tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Akan tetapi, samar-samar. Rei melihat ada bayangan putih lewat sekilas di dapur. Rei mengucek kedua matanya kasar. Ia memastikan jika tadi matanya bukan rabun. Ia melihat dengan jeli dari lorong ke arah dapur. Ia yakin jika tadi ada sosok putih yang lewat di sana. "Bagaimana jika di sini ada hantu?" Degup jantung Rei semakin kencang. Langkah kakinya kini mulai ragu. Tapi, Rei kembali berusaha menenangkan dirinya. "Tenang Rei, di bawah banyak orang. Jika sesuatu terjadi mereka pasti akan naik ke atas untuk mengeceknya." Dengan langkahnya yang ragu itu, Rei akhirnya memberanikan dirinya untuk melihat keadaan dapur. "Kyaaaaa ...." teriakan seorang wanita pun terdengar. Begitu pula dengan Rei yang ikut berteriak dan menutup kedua matanya dengan tangannya. "Ya Tuhan, Rei.. kamu mengagetkan aku!" Suara wanita itu tidak asing. Rei yang mengenali suara tersebut pun akhirnya memberanikan diri untuk membuka kedua matanya. "Nara, kamu terbangun dari tidurmu?" tanya Rei begitu melihat sosok wanita dengan baju tidur tipisnya itu. Di saat Rei sibuk memperhatikan Nara yang menggunakan baju tidur tipis penuh renda tersebut. Nara sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Rei. Rei yang di abaikan itu sedikit kesal. Ia mencoba untuk menanyakan hal itu untuk kedua kalinya. "Nara, kamu terba- ..... .... ..." Belum usai Rei bertanya pada Nara. Tiba-tiba saja, Nara berjinjit dan mulai mencium bibir Rei dengan lembut. Mata Nara terpejam dan bibir mereka saling melumat. Rei pun akhirnya hanya bisa memeluk pinggang Nara. Tangan dingin Rei terasa menembus pakaian tidur Nara yang tipis tersebut. "Hmmmmms..." erang keduanya dan kini tangan dingin Rei mulai menyisip ke balik pakaian tidur tipis Nara tersebut. Nara yang tiba-tiba melompat ke arah Rei dan langsung menciumnya membuat Rei sedikit terkejut. Ia tidak menyangka gadis polos itu bisa sangat agresif padanya. Ia tidak mengira jika Nara akan mencium dirinya. Rei pun meletakkan kedua tangannya ke pinggang Nara. Menyentuhnya dengan lembut meski ia tak mengerti alasan Nara mencium bibirnya tiba-tiba. Ia hanya menerima ciuman itu dan menikmatinya. Tangan dingin Rei yang menyentuh tubuh Nara terasa dingin. Kain tipis baju tidurnya itu tidak mampu menyembunyikan suhu tubuh Rei malam itu. Sentuhan lembut yang berada di pinggang Nara membuat Nara ikut menyambutnya. Nara mengalungkan tangannya ke leher Rei dan terus tenggelam dalam ciuman mesra mereka. "Ahhm... Ini belum cukup," benak Rei saat ia merasakan sentuhan Nara di lehernya. Tangan dingin Rei kini semakin liar. Ia tak berhenti sampai di pinggang Nara saja. Rei perlahan mendorong tubuh Nara. Nara melangkah mundur sedikit demi sedikit. Hingga Nara terpojok pada pintu kulkas. "Aku mau lebih dari ini!" benak Rei yang tidak puas hanya dengan sebuah ciuman di bibirnya. Rei yang telah memojokkan Nara itu tak ragu untuk menarik pakaian tidur Nara hingga tangannya menyentuh langsung kulit tubuh Nara. Tangannya mulai meraba lembut mengarah jauh ke atas. Menyentuh bagian punggung Nara. Begitu pula dengan ciumannya. Ia mulai melumat Nara dengan jauh lebih lembut. Perlahan, dengan helaan nafas Nara yang sesekali berhembus lembut. "Nara ..." Rei memanggil nama Nara dengan lembut. Ciumannya pun kini mengarah pada leher Nara. Ia menjilat lembut leher Nara dan mengecupnya dengan lembut. Hingga Nara menggelinjang geli. "Huuumps..." Rei tak memperdulikan hal itu. Ia masih memperlakukan Nara dengan sangat lembut. Ciuman Rei kini semakin ke bawah. Ia menarik tali baju tidur Nara. Menurunkannya hingga memperlihatkan kedua bahunya yang putih mulus. Rei menciumi bahu Nara dan sesekali menjilatinya. Membuat Nara sedikit terkejut. "Rei ..." ucap Nara dengan suaranya sedikit bergetar. Ia sedikit mendorong Rei dengan sisa kekuatannya. Mencengkram baju Rei dengan genggamannya yang kecil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD