10. Aku akan ....

1199 Words
"Aku tidak bisa lagi membedakan antara suara detak jantungku atau detak jantungmu," Nara Lovata Edrea *** Mesin mobil baru saja dimatikan, begitu pula dengan AC mobil yang sudah tidak menyala. Udara di dalam mobil itu mulai berubah. Saat ini, hanya 1 mm saja, jarak antara Rei dan Nara. Jarak yang tipis membuat keduanya mematung. Detak jantung saling berpacu, tak bisa lagi di bedakan siapa pemilik detak tersebut. Keduanya saling berdetak dengan ritme yang sama-sama tidak menentu. "Jangan cemberut gitu dong.. Aku, kan, jadi ingin men-ci- .... ...." Keheningan seketika tercipta saat kedua mata mereka bertemu. Ucapan dari Nara yang seketika itu terputus dan mengambang. Menyisakan keheningan dengan tatapan yang dalam. Pengait sabuk pengaman itu pun terbuka. Menyadarkan kembali keduanya dari lamunan sejenak mereka. "Kamu ingin apa tadi?" tanya Rei yang kemudian menarik tubuhnya kembali. "Eheeem ... Entah aku sampai lupa," dalih Nara yang juga merapihkan pakaiannya karena gugup. "Syukurlah dia tidak dengar tadi aku mau bilang apa?" benak Nara yang kemudian menyadari jika ia benar-benar harus berhenti menggoda Rei. Sementara Rei masih gugup dengan apa yang terjadi di antara mereka. Ia memang tidak fokus mendengarkan Nara, sebab ia berniat membantu melepaskan sabuk pengaman tersebut. Tapi, bukan berarti dia sama sekali tidak mendengarnya. "Eiiiiits ...." dengan sigap Rei menarik pintu mobil saat Nara mulai membukanya. Mencegah Nara untuk keluar dan menyudutkannya kembali di kursinya. Rei yang berhasil mencegah pintu terbuka itu kini kembali dalam posisi yang mendebarkan seperti sebelumnya. Tapi, kali ini tatapan mata Rei terlihat tegas. Ia menatap lekat wajah Nara yang sudah kehilangan fokus. Matanya turus bergerak dan bergetar tak tahu harus melihat kemana. "Lihat aku," ucap Rei yang langsung menarik dagu Nara dan seketika merebut seluruh pandangan Rei. "Aku belum memaafkannya, loh.. Kamu tadi minta maaf karena sudah menggodaku, kan?" tanya Rei dengan matanya yang menyalak dan langsung disambut anggukan kecil dari Nara. "Sekali lagi kamu menggodaku, aku akan mencium kamu beneran Nara," ucap Rei sembari menarik dagu Nara. Mata Nara sejenak terbelalak kaget, pupil matanya bergetar, deru napasnya mulai terdengar jelas. Nara menggenggam erat roknya, ia pun memejamkan matanya begitu Rei semakin mendekatkan bibirnya pada Nara. "Ftttt .... Ft ... Ha-ha-ha..." Kali ini, giliran tawa Rei yang pecah. Nara yang semula sudah memejamkan matanya itu kini terlihat kebingungan. Nara pun mengedipkan matanya dengan cepat dan mulai menyadari apa yang terjadi. Mulutnya kini menganga lebar. Tidak habis pikir. "Dia balas dendam!" gumam Nara pelan. Rei semakin terkekeh geli mendengar ucapan Nara. Nara pun bergegas keluar dari mobil tersebut dengan kesal. "Kamu saja sangat menggemaskan seperti itu kalau digoda." "Huh, aku jadi semakin menginginkannya!" gumam Rei yang menatap punggung Nara dari jauh dan kemudian bergegas mengejar langkah kecil Nara. "Nara, tunggu!" Sekeras apapun Rei berteriak, berapa kali pun ia memanggil nama Nara. Nara sama sekali tidak menghiraukannya. Nara malah semakin mempercepat langkahnya. "Nara, ayo dong.. Masa kamu langsung ngambek gitu!" "Aku baru sekali loh, menggoda kamu. Kamu sudah ngambek begitu." Rei tidak menyerah, ia pun mengulurkan tangannya. Meraih tangan Nara yang tak jauh darinya. "Maaf deh ..." ucapnya sambil mengayun lembut tangan Nara. "Kita impas ya!" "Hah... Impas dari mana? Kamu saja sudah berapa kali mengerjai ku dengan Muko tadi." Rei merasa tidak adil jika semuanya dianggap impas. "Tidak bisa, ini tidak adil.. Kamu harus tetap mentraktirku. Aku akan makan dengan rakus," gerutu Rei kesal. Tawa kembali menyeruak, menghilangkan kecanggungan yang sesaat sempat terjadi. "Hmmm.. kita pergi ke sana yuk.. Di sana sering mengadakan diskon besar-besaran." Nara menunjuk pada sebuah tempat perbelanjaan yang sangat ramai dan di padati oleh ibu-ibu. Wajah Rei berubah pucat saat melihat ramainya ibu-ibu di tengah tumpukan baju yang sangat sulit di tembus. Tembok ibu-ibu yang terlihat seperti sebuah perang. "Aku tidak yakin bisa belanja pakaian di sini." Nara tertawa geli, mendengar ucapan Rei. "Fttt... Ftt..." Nara kembali terkekeh geli melihat wajah pucat Rei yang tak sanggup menghadapi perang tersebut. "Aku punya tipsnya, tunggu di sini ya.." Nara kembali memastikan apa saja yang diperlukan oleh Rei. Matanya menyala terang layaknya laser yang siap menembak. "Huft ... " Nara menghela napasnya dalam dan kemudian tersenyum dengan lebar pada Rei. Set .. Set .. Set ... Nara berlari sekuat tenaganya. Suaranya lantang menarik banyak perhatian. Saat para ibu-ibu tersebut teralihkan dengan teriakan Nara. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Nara berhasil menerobos benteng ibu-ibu yang tak tertembus tersebut bagaikan tank yang menerobos tegas. Gelak tawa Rei pun pecah saat melihat Nara yang berjuang di tengah tumpukan ibu-ibu yang menyerbu tumpukan pakaian diskon. "Bisa-bisanya dia seperti itu!" Nara yang berhasil membawa beberapa lembar pakaian itu akhirnya berlari tergopoh-gopoh menghampiri Rei. Matanya bersinar terang dengan senyumnya yang lebar. "Aku berhasil," ucap Nara riang. Sementara Rei masih tertawa geli saat melihat perjuangan Nara dengan para ibu-ibu tersebut. "Ya, ampun.. Kamu jadi begini." Rei pun meraih rambut Nara yang sudah acak-acakan. Ia menyeka rambut tersebut dan menyisipkan rambutnya ke belakang telinga Nara dengan lembut. Tangan, dingin Rei menyentuh daun telinga Nara. Nara terpaku dengan detak jantungnya yang tak bisa ia kontrol. Nara hanya menunduk dan tersipu malu. Rei kemudian membenarkan bandana Nara yang sudah sedikit miring. "Kamu jadi berantakan begini demi aku. Terima kasih, ya!" bisik Rei dengan suaranya yang lembut ke telinga Nara. Pertama kalinya Rei mencoba membeli barang diskon. Ia tidak menyangka akan menyaksikan kejadian luar biasa yang benar-benar berkesan. Rei yang selalu hidup mewah dan akan di sambut dengan ramah di setiap toko ternama itu menyaksikan dengan langsung perjuangan Nara yang sedang berburu diskon. Ia terkesan dengan perjuangan Nara. Hatinya benar-benar luluh akan pesona dunia baru yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dengan bangga Nara menyerahkan pakaian itu pada Rei. "Semoga kamu suka," kekeh Nara geli. "Tentu saja aku suka. Ini, kan baju yang susah payah kamu dapatkan untukku." "Ya sudah, karena bagian tersulit sudah kita lalui. Kali ini, kita belanja yang lain." Nara dengan semangat menarik tangan Rei. Rei mendorong troli belanjaan mereka dengan senyumannya yang merekah. Pengalaman pertamanya yang unik dan mungkin tak akan bisa ia lupakan. Meski mulanya Rei tampak kebingungan. Namun, Nara dengan baik menjelaskan berbagai hal pada Rei dengan sabar. "Hmmm... Sepertinya Muko benar. Jika, kamu adalah tuan muda keluarga kaya," gumam Nara yang terkekeh geli melihat ekspresi kelelahan Rei. "Aku hanya anak rumahan yang tidak biasa keluar," dalih Rei dengan wajahnya yang kusut. Sambil istirahat Rei membelikan es krim dan minuman segar untuk mereka. Mereka pun duduk di kursi yang tersedia di mall tersebut. Meski mereka hanya memesan di bagian diskon dan kemudian berkeliling sejenak. Rasa lelah yang di sebabkan oleh mengantri di kasir membuat Rei benar-benar terkapar lemas. "Hmm.. Stamina kamu luar biasa," ledek Nara lagi. Rei menyipitkan kedua matanya, ia mengerutkan dahinya dan bersungut-sungut pada Nara yang mulai menggodanya lagi. "Aku kan sudah bilang, jangan menggodaku lagi Nara." "Kamu tahu, kan hukumannya?" Rei dengan semangat mendekatkan wajahnya pada Nara. Sementara Nara terkekeh geli sambil mendorong tubuh Rei. "Nanti es krim punyaku jatuh, Rei!!!" dalihnya seraya memegang es krim tersebut dengan lebih erat. "Aku tidak peduli, kamu harus dihukum," ucap Rei yang tak ingin mengalah. Saat keduanya terlarut dalam canda yang memabukkan. Terdengar suara seseorang yang memanggil nama Rei. "Rei ..." Tiba-tiba suara seorang wanita menghentikan keceriaan mereka. Senyuman Rei tiba-tiba memudar begitu melihat sosok yang kini berada di hadapannya tersebut. "Keira," ucap Rei lirih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD