4. Aku tidak bisa lagi membantumu

1427 Words
"Jangan pernah menyerah, walau pun tidak ada yang berpihak padamu. Bahkan jika dunia tidak berpihak padamu sekalipun. Kamu masih bisa mengandalkan dirimu sendiri. Jika tidak ada yang bisa kamu percaya. Setidaknya kamu harus mempercayai dirimu sendiri." Reiki Savian Altezza *** Sinar hangat sang mentari mampu menembus tirai di warnet tersebut. Menampilkan cahaya samar dengan kehangatan lembutnya. Sesekali terdengar suara-suara kecil yang mengusik lelapnya tidur Rei. Ting ... Samar-samar terdengar suara sendok dan gelas yang saling beradu. Aroma kopi pun merebak mengisi seluruh ruangan warnet yang tidak terlalu besar tersebut. "Hmmm ..." Rei pun meregangkan tubuhnya yang terasa sedikit kaku. Ia tidur beberapa hari di atas sebuah kursi. Meski itu kursi yang cukup nyaman tentu saja tidak ada yang lebih nyaman dari pada sebuah kasur empuk. "Ah, aku rindu kasurku!" Rei bergumam sembari terus meregangkan tubuhnya. Ia menarik kedua tangannya ke atas begitu juga dengan kedua kakinya. Tubuhnya terasa sedikit pegal. Ia pun mulai memijat lembut belakang lehernya yang kaku. "Sudah bangun!" Muko tersenyum menyapa Rei sambil meletakkan segelas kopi hangat dan sepotong roti lapis untuk sarapan Rei. "Hmmm ..." Jelas saja jika Rei merasa bingung dengan segala makanan yang ada di hadapannya tersebut. Ia merasa tidak memesan makanan itu, tapi mengapa Muko malah menyajikan untuknya. "Ini Nara yang membuatnya." Lagi, tatapan heran dari Rei disambut senyuman kecil oleh Muko. "Tadi kami sarapan bersama dan Nara sekalian membuatkannya untukmu." Mengerti akan maksud pemberian tersebut. Rei menganggukkan kepalanya. Ia pun menyambut sarapannya dengan antusias. Pandangan Rei tertuju pada sosok yang ia lihat di balik kaca. "Cantik, bagaimana bisa gadis anggun itu ada di warnet ini!" benak Rei yang terus memandang Nara dari jauh. Nara yang kala itu tengah menyiram tanaman yang menghiasi teras warnet tersebut terlihat begitu mengagumkan. Ia tampak indah di antara beberapa kuncup bunga yang malu-malu untuk mekar. Justru, hanya Nara lah yang terlihat bak bunga yang baru mekar. "Dia tidak cocok dengan tempat seperti ini, kan?" Muko tiba-tiba bertanya pada Rei yang masih tenggelam dalam kekagumannya untuk Nara. "Tidak, dia sangat cantik, kok!" jawab Rei seketika tanpa berpikir panjang mengutarakan isi hatinya. "Ffft.. Ftt ... Iya, dia memang sangat cantik." Mendapati reaksi Muko yang menahan tawanya. Rei pun tersipu malu. "Ah, apa aku salah menjawabnya?" benak Rei lagi yang mengingat jika ia sebelumnya sembarangan mengungkapkan isi hatinya. "Maksudku, dia yang anggun itu tidak cocok berada di warnet seperti ini!" sambung Muko kemudian. Senyum malu tersirat dari wajah Rei. Rasanya ia sangat ingin membenamkan dirinya ke dalam sebuah lubang karena sangat malu. Memang benar jika sosok Nara yang begitu cantik, anggun dan menggemaskan itu tidak cocok berada di tempat berupa warnet. Warnet biasanya terkesan sedikit negatif dan memiliki kesan buruk dan cerita tentang Nara pun dimulai. "Dia itu penulis, dia sering tidur larut untuk menyelesaikan novelnya. Hanya saja dia sangat penakut jika harus bergadang sendirian. Nara sengaja membangun warnet ini, agar ada yang bisa menemaninya saat ia sedang menulis," ungkap Muko panjang lebar. "Hmmmm... maksudku dia itu wanita yang baik," lanjutnya lagi seraya meninggalkan Rei menyantap makanannya. Membiarkan Rei memikirkan penjelasan Muko. "Bukankah sudah jelas, jika Nara adalah wanita yang baik." Bukan semata-mata penjelasan dari Muko yang membuatnya meyakinkan hal tersebut. Sejak awal, Rei sudah menyadari sosok Nara yang baik hati. Gadis manis dengan tatapan polos penuh kasih. Hal itu memperjelas jika Nara sosok yang sangat mengagumkan. Membuat Rei tidak rela jika harus meninggalkan warnet tersebut. Dalam hatinya ia masih ingin bersama dengan Nara. Menatap gadis yang kerap malu-malu saat tertangkap basah menatapnya. Seperti biasa, Rei selalu pergi dari warnet setelah ia sarapan. Nara yang menatap kepergian Rei entah mengapa terus berharap jika nanti ia akan kembali ke warnet lagi. "Walau mencurigakan karena dia tidak tidur di rumah. Tapi, aku berharap dia kembali lagi ke sini!" Muko hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak habis pikir dengan harapan kecil bosnya itu. "Meski begitu dari tampangnya dia tidak seperti gelandangan. Walau memang mencurigakan." Nara hanya cemberut mendengar ocehan Muko. Ia pun melanjutkan kegiatan paginya dengan wajah yang bersungut-sungut. Di waktu yang sama, Rei saat itu lagi-lagi sibuk dengan telepon genggamnya. Ia terlihat kesal duduk di sebuah halte tak jauh dari warnet. "Angkat dong Mel.." Rei terlihat begitu emosi menanggapi seseorang dari balik telepon tersebut. Ia bersungut-sungut dan terus berbicara ketus. Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berwarna merah mencolok berhenti di halte tersebut. Halte yang sebagian tempat duduknya sudah terkena panas. Rei terlihat duduk di sana dengan wajahnya yang terlihat begitu kesal. Ia memandang tajam mobil tersebut. "Lama!" ketusnya seraya masuk ke dalam mobil tersebut. "Harusnya kamu bersyukur masih ada aku. Kamu benar-benar bisa menjadi gelandangan kalau aku tidak membantumu!" Melly terlihat kesal seraya mengemudikan mobilnya. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang hingga tiba di sebuah taman tak jauh dari halte tersebut. Melly dan juga Rei duduk di kursi taman tersebut sembari memandang sungai di hadapan mereka. Rei menyandarkan pundaknya yang masih kaku. "Mau sampai kapan kamu seperti ini?" tanya Melly begitu melihat Rei yang tampak menyedihkan. "Menyerah dan menikah saja!" ketusnya lagi. "Tidak, aku akan tidak mau menikah dengan orang yang tidak aku cintai." "Aduh Rei, kamu tahu, kan. Jika aku tidak bisa terus membantumu. Mungkin ini bantuan terakhirku. Jika mereka tahu kita sering ketemu percuma saja kamu lari dari rumah karena tidak ingin menikah." Melly menatap Rei dengan serius. Ia menjelaskan jika ia berkali-kali nyaris ketahuan akan menemui Rei sejak beberapa hari yang lalu. Terlebih ia juga nyaris tidak bisa keluar pagi ini. "Tadi, saja aku harus banyak beralasan untuk keluar. Kamu tahu kan, apa jadinya jika ibuku mengetahui aku menemui mu," jelas Melly lagi yang sudah tidak sanggup lagi beralasan untuk keluar di pagi hari setiap harinya. "Kalau begitu, aku akan memintamu bertemu denganku sore hari saja." Melly memicingkan matanya dengan kesal. Ia pun mulai menggerutu tiada henti. "Bukan masalah aku keluar pagi, siang, atau malam. Masalahnya aku yang keluar setiap hari malah membuat orang rumah semakin curiga. Kamu tahu sendiri aku orang yang paling betah di rumah. Tiba-tiba aku keluar setiap hari dan malah mengeluarkan uang cukup banyak untukmu!" Rei menatap Melly dengan tatapannya yang ingin dikasihani. Tentu saja itu tidak mempan bagi Melly. "Cari saja pekerjaan sana dan penuhi kebutuhanmu sendiri." "Huuft.. baiklah tapi bantu aku sekali lagi ya!" pinta Rei dengan berkaca-kaca. Melly pun menyerahkan uang tunai cukup banyak untuk Rei. "Hidup lah yang hemat.." Rei menatap uang yang diberikan oleh Melly. "Hanya beberapa puluh juta. Ini sih, hanya cukup untuk membeli pakaianku hari ini," keluhnya. Uang yang sebenarnya cukup banyak itu tetap terasa kurang bagi Rei yang sudah terbiasa hidup dengan kemewahan. Tatapan tajam Melly mengarah lurus pada Rei tanpa kata-kata. "Baiklah, baiklah.. Aku akan menghemat uangnya dan mencari pekerjaan!" "Baguslah kalau begitu. Harusnya tahu betapa susahnya untuk mendapatkan uang tunai. Harusnya kamu tidak usah berlagak dengan melempar kartu kredit dan ATM pada ayahmu. Kamu kesusahan sendiri jadinya, kan." "Iya, iya.. berhenti mengomel tuan putri!" Melly pun meninggalkan Rei di taman tersebut dengan kekesalan yang menumpuk dan omelan yang tidak ada hentinya. Rei hanya memandangi punggung Melly yang perlahan semakin memudar. "Huuuft ..." Lagi-lagi, Rei menghela napasnya. Ia pun mulai meratapi nasibnya yang kini tak jauh beda dengan gelandangan. "Memang tidak ada yang bisa kita andalkan selain diri sendiri!" Rei pun mencoba menggali awal mula semua yang terjadi padanya. Ia mengingat pertengkaran besarnya dengan sang ayah yang memintanya untuk menikah dengan seseorang yang tidak ia cintai. "Kamu harus menikah dengannya. Dia wanita yang baik dan sangat cocok untukmu yang keras kepala itu. Dia pasangan yang sempurna untukmu Rei. Ayah tidak mau tahu. Kamu harus menikah dengannya," sentak sang ayah dengan wajahnya yang begitu murka. "Aku tidak mau ayah. Bagaimana mungkin aku menikah dengan wanita yang tidak aku cintai. Aku tidak mau menikah." "Kamu harus menikah!" tegas sang Ayah lagi. "Tidak!" sentak Rei kasar. Ia pun memandang sang ibu. Berharap jika sang ibu berada di pihaknya. Namun, sesuai dengan dugaan. Ibu Rei pun setuju akan pernikahan tersebut. "Hmp, tidak ada yang berada di pihakku. Pokoknya aku tidak mau menikah dengannya," ucap Rei dengan penuh kekecewaan. "Aku akan pergi dari tempat gila ini. Aku tidak mau menikah!" Rei pun melempar kunci mobilnya dengan kasar. "Serahkan juga dompetmu!" ayah Rei berteriak kasar. "Nih ..." kesal Rei pun melempar dompetnya ke lantai. "Aku juga mencabut kamu dari jabatan kamu di perusahaan. Jangan datang ke kantor." "Aaaargt ..." Rei yang kesal itu langsung membanting pintu dan berteriak penuh amarah. Ia memandang rumahnya dengan penuh amarah. "Kita lihat saja nanti ..." ucapnya seraya meninggalkan rumahnya tersebut. Telepon genggam milik Rei berdering. Menyadarkan Rei dari lamunannya. Dengan tatapannya yang dalam Rei pun kembali membuka suaranya. "Setidaknya aku masih punya ini," ucapannya sambil mengangkat telepon tersebut. "Halo ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD