"Ayya apa kabar?" Zam mulai membuka suara terlebih dahulu, keduanya memilih berbincang diatap perusahaan Zam menghadap ke barat, menatap langit jingga. "Kebanyakan diam, mama juga membiarkan katanya Ayya pasti butuh waktu." jawab Panji, matanya menatap jalanan dibawah sana. Keduanya sama-sama diam, sibuk dengan pikiran masing-masing yang berkelana jauh. "Kak? Aku pengen bahas hal penting." Zam menoleh menatap Panji, "tentang?" "Tentang hubungan kalian berdua, mau beneran serius atau ngambang terus? Oma sekarang mengurus kepindahan, kak Zam belum menemukan jawaban?" Zam menghela napasnya pelan, "Pan, kita sama-sama mempunyai kehidupan mengerikan tentang pernikahan. Orangtua kita sama-sama hancur, engga mudah memberikan bayangan setelah melihat semua keadaan itu. Oma kamu terlalu eg

