47

1342 Words

Namun, saat mataku menangkap sosok pria jangkung dengan setelan navy blue yang berdiri di dekat bar, aku tahu ini akan menjadi malam yang panjang. Tristan sedang menatap lurus ke arahku! Astaga, kenapa dadaku berdebar seperti ini! "Akhirnya datang juga. Ke ruang makan sekarang," ajak Pak Tristan dengan dingin. Aku mengangguk sejenak kemudian mengokirnya dari belakang. Saat memasuki rumah ini, aku tak melihat ada tamu lain. Hanya beberapa pelayan yang lalu lalang. "Pak, di mana tamu lain?" tanyaku pelan. "Tidak ada. Hanya kamu dan Bimo yang diundang Mama untuk makan malam." Aku cukup terkejut mendengar ucapan CEO-ku tersebut. Setelah seharian membebaniku dengan pekerjaan, sebagai sekretarisnya batinku jadi bertanya, apakah lumrah seorang sekretaris diajak makan malam bersama keluarg

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD