Aku mengatur napas, mencoba menenangkan diri sebelum berbicara. Semua mata tertuju padaku, menunggu jawabanku. Aku bisa merasakan Tristan menatapku lebih lama daripada yang lain, seolah berusaha membaca ekspresiku. Aku menelan ludah sebelum membuka suara. “Saya memang membantu Kenzo dalam beberapa pekerjaannya, tapi itu hanya sebatas membuat laporan.” Suaraku terdengar stabil, meski ada sedikit kegelisahan yang tidak bisa kusembunyikan. Pak Jacson mengangguk kecil, memberi isyarat agar aku melanjutkan. “Semua keputusan besar tetap diambil oleh Kenzo sendiri,” lanjutku. “Saya hanya menjalankan tugas sesuai arahan yang diberikan. Tidak pernah sekalipun saya membuat keputusan atau melakukan hal di luar perintahnya. Jadi, jika ada tuduhan bahwa saya ikut andil dalam penyalahgunaan wewenan

