10

1330 Words
"Kirim print semua laporan yang aku kirim. Sekarang," ucap Tristan sangat tegas. Pagi ini aku langsung menghadap kepadanya, dan ini adalah perintah ke lima yang harus kukerjakan. Untungnya, Bimo sangat tenang berada di ruang kerja CEO-ku ini, jadi aku bisa bekerja dengan gesit agar cepat istirahat. "Baik, Pak." Kutundukkan sedikit kepalaku sebelum pergi. Namun, belum rapat kututup pintu. Pria yang mendadak adalah CEO-ku itu kembali bersuara. "Apa aku boleh membawa Bimo jalan-jalan sebentar?" Aku terdiam beberapa saat, menimang apakah melepaskan putraku pada pria ini akan aman atau tidak. "Hanya sebentar. Aku pasti akan kembali sebelum jam kerja berakhir." Aku tersenyum simpul, karena dipahami oleh pria itu. Tristan menatapku cukup hangat kali ini. Biasanya ia tampak dingin dan irit bicara. "Boleh, Pak." Tristan kembali menatap Bimo yang masih asyik dengan mainannya. Aku sedikit cemas, bukan karena tidak percaya pada Tristan, tetapi lebih kepada bagaimana Bimo akan bereaksi. Dia bukan anak yang mudah beradaptasi dengan orang baru, apalagi jika berada di lingkungan yang tidak familiar baginya. Pria itu berjongkok agar sejajar dengan Bimo, lalu berbicara dengan suara yang lebih lembut daripada biasanya. "Bimo, mau jalan-jalan sebentar sama, Om?" Bimo tidak langsung merespons. Jemarinya masih sibuk memutar-mutar roda mobil mainannya. Aku tahu, ini bukan tanda bahwa dia mengabaikan, hanya saja butuh waktu baginya untuk memproses apa yang baru saja didengar. "Aku punya mainan mobil yang lebih besar di luar," lanjut Tristan, mencoba menarik perhatian Bimo. Aku menahan napas, menunggu bagaimana reaksi putraku. Tak seperti anak-anak lain yang mungkin akan langsung melonjak kegirangan, Bimo tetap diam. Aku bisa melihat matanya bergerak ke arah Tristan sekilas, lalu kembali menunduk. Namun, berbeda dari biasanya, kali ini ia tidak menunjukkan ketidaknyamanan. "Bimo," panggilku lembut, berharap bisa membantunya mengambil keputusan. "Kamu mau ikut jalan-jalan sebentar sama Om Tristan?" Butuh beberapa detik sebelum akhirnya Bimo mengangguk kecil. Aku terkejut. Biasanya, dia akan lebih sulit untuk menerima ajakan dari orang lain, terutama yang belum terlalu dikenalnya. Tapi entah kenapa, hari ini berbeda. Tristan tersenyum tipis, lalu bangkit. Ia tidak mencoba menggenggam tangan Bimo, hanya berjalan perlahan di sampingnya, memberi ruang agar anakku merasa nyaman. Aku memperhatikan mereka berjalan keluar ruangan dengan hati yang masih diliputi kekhawatiran. Aku pun kembali fokus pada pekerjaanku. Sebagai sekretaris baru, aku tidak mau membuat kesalahan sedikitpun. Sudah sepatutnya aku bersyukur karena Tristan membolehkanku membawa Bimo ke kantor. Tanpa sepengetahuanku, Tristan membawa putraku ke kediamannya. Para pelayannya menyambut penuh santun. Mata mereka bahkan tak bisa dikondisikan, karena terbelalak melihat kedatangan Tuan Muda mereka dengan anak kecil. "Di mana Mama?" tanya pria itu pada salah satu pelayan. "Bu Ayu berada di kamar, Tuan." Tanpa banyak bicara, Tristan menggandeng tangan Bimo dengan lembut, membiarkan anakku berjalan di sampingnya. Meskipun awalnya ragu, Bimo tidak menolak genggaman Tristan. Langkah-langkah kecilnya mengikuti irama kaki pria itu, melewati lorong panjang yang dipenuhi lukisan dan perabotan mewah. Para pelayan masih sesekali melirik dengan tatapan bingung, tetapi tak ada yang berani bertanya. Saat tiba di depan kamar Ayu, Tristan berhenti sejenak, menarik napas dalam sebelum mengetuk pintu. Namun, sekian waktu berlalu tak ada jawaban. Seorang pelayan yang berdiri tak jauh dari sana akhirnya berkata, "Nyonya belum keluar kamar sejak pagi, Tuan. Sepertinya beliau masih dalam keadaan yang sama." Tristan mengepalkan rahangnya, sorot matanya yang berubah menjadi khawatir, tetapi juga frustrasi. Dengan hati-hati, ia membuka pintu dan menuntun Bimo masuk bersamanya. Kamar itu redup, hanya diterangi cahaya matahari yang tersaring melalui tirai tipis. Di tengah ruangan, seorang wanita duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong mengarah ke jendela. Wajahnya pucat, rambutnya yang dahulu tertata rapi kini tampak berantakan. Ayu- Mama Tristan. Wanita itu bahkan tidak bergerak sedikit pun ketika putranya mendekat. "Mama," panggil Tristan lembut, suaranya lebih hangat daripada yang pernah kudengar sebelumnya. Ayu tidak menjawab. Dia masih tenggelam dalam pikirannya sendiri, sama seperti beberapa tahun terakhir. sejak kehilangan putranya, anak laki-laki yang memiliki dunia kecilnya sendiri, yang tidak pernah berbicara banyak, tetapi selalu tersenyum saat berada di samping ibunya. Awalnya keadaan Ayu tidak separah ini, tetapi beberapa bulan ini wanita itu semakin mengisolasi diri, bahkan tidak menerima tamu siapapun. Hal ini lah yang membuat Tristan buru-buru menyelesaikan studinya di Amerika. Ia khawatir dengan kondisi ibunya yang semakin parah. Tristan berlutut di samping tempat tidur, lalu dengan hati-hati, ia menarik tangan ibunya dan menggenggamnya erat. "Ma... aku bawa seseorang untuk bertemu Mama." Mata Ayu sedikit berkedip, meski masih tampak kosong. Tristan memberi isyarat pada Bimo, yang sejak tadi berdiri diam, mengamati sekeliling dengan caranya sendiri. "Bimo." panggil Tristan, berusaha menarik perhatian anakku. Bimo tidak langsung bereaksi. Ia hanya berdiri di tempatnya, menatap Ayu dengan ekspresi yang sulit ditebak. Jemarinya mulai memainkan ujung bajunya, tanda bahwa ia sedang memproses sesuatu. Ayu perlahan mengalihkan pandangannya, menatap anak kecil yang berdiri beberapa langkah di depannya. Pandangannya yang awalnya kosong mulai dipenuhi emosi yang sulit dijelaskan. Sejenak, ruangan itu sunyi. Kemudian, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Bimo berjalan mendekat. Gerakan itu begitu perlahan, seperti sedang mengukur jarak dan memastikan bahwa ia merasa aman. Tangannya yang kecil terulur ke udara, seakan ingin menyentuh sesuatu yang tak kasatmata. Dan kemudian dengan polosnya ia duduk di lantai, tepat di depan Ayu. Tristan menahan napas melihat tingkah Bimo sekaligus ibunya. Ayu menatap anakku dalam diam, lalu bibirnya yang sudah lama tak mengeluarkan kata-kata bergetar pelan. "Siapa namanya?" tanyanya, hampir seperti bisikan. Tristan tersenyum tipis, lalu menjawab, "Namanya Bimo, Ma." Bimo tidak menoleh ke arah Tristan atau Ayu, tetapi ia mulai menggerakkan tangannya, menyentuh motif di karpet seolah sedang menjelajahi teksturnya. Gerakan yang dulu selalu dilakukan oleh anak Ayu. Mata Ayu mulai berkaca-kaca. Air mata yang selama ini tertahan perlahan jatuh, mengalir membasahi pipinya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia menunjukkan ekspresi selain kehampaan. Tangannya yang gemetar terangkat, hendak menyentuh kepala Bimo, tetapi kemudian berhenti di udara. Ragu, takut, atau mungkin tidak yakin apakah ia pantas melakukannya. Namun, tanpa diduga, Bimo yang lebih dulu merespons. Ia menggenggam jemari Ayu dengan tangannya yang mungil, menelusuri garis-garis di telapak tangan wanita itu seperti sesuatu yang menarik perhatiannya. Ayu terisak. Suara tangisnya lirih, tetapi penuh kepedihan yang tertahan selama ini. Tristan melihat pemandangan tersebut dengan takjut. Matanya menyiratkan sebuat kabar yang ia tunggu selama ini, di mana ada harapan atas kesembuhan ibunya. Di sisi lain, aku masih sibuk menyelesaikan tugas yang diberikan Tristan. Namun, di sela-sela menunggu print out dokumen selesai. Aku memutuskan menghubungi Gita, istri Kenzo. Permintaan CEO-ku untuk membawa Bimo jalan-jalan bagaikan anugerah yang diberikan Tuhan padaku. Pertolongan ini sangat membantuku untuk melancarkan rencana. Kusematkan sebuah video di mana Rosa memasuki ruangan Kenzo dan keluar dengan penampilan compang-camping. Tak lupa beberapa foto di mana keduanya berada di rumah sakit. Namun, tetapi saja tak ku tampilkan wajah Rosa di sana. Hanya wajah Kenzo yang jelas dalam foto maupun video tersebut. Sedangkan wajah Rosa sengaja aku blur. Setelah mengirimkan semua bukti, segera kukirim pesan pada Gita. Wanita yang melabrak serta memperlakukanku beberapa waktu lalu. Dalam pesan tersebut tertulis, "Bukan aku yang menjadi selingkuhan suamimu." Tak butuh waktu lama, ponselku bergetar di atas meja, menampilkan nama "Gita" di layar. Aku menatapnya sekilas, membiarkan nada dering berlanjut beberapa detik sebelum akhirnya mengangkatnya. "Apa maksudmu, Maya?" suara Gita terdengar tajam, penuh emosi yang tertahan. "Aku tidak percaya padamu! Bisa saja kau mengedit video dan foto itu!" bentaknya. Aku mendesah pelan. "Aku tahu kau tidak akan langsung percaya. Tapi pikirkan baik-baik. Benarkan aku selingkuhan Kenzo?" Tak ada sahutan dari seberang telepon. Aku pun kembali melanjutkan pembicaraan. "Selama ini kau menduga aku selingkuhan Kenzo hanya gara-gara sebuah nomor yang jelas itu bukan nomorku. Sedangkan aku memiliki bukti yang konkrit." "Kau!" suaranya terdengar geram mendengar ucapanku tersebut. Tanpa sadar satu sudut bibirku terangkat. Ini lah waktunya! "Datanglah ke kantor. Aku akan menunjukkan wanita mana yang menjadi selingkuhan suamimu, bahkan sampai hamil." Suara deru napas wanita itu terdengar sangat jelas dari speaker. Tak berselang lama ia menjawab, "Oke! 30 menit lagi aku akan sampai di sana. Awas saja kalau kamu bohong. Aku akan menghajarmu lebih parah dari sebelumnya!" Aku menyeringai ketika sambungan telepon terputus. Ini adalah saat-saat yang paling kutunggu! Apa yang akan dilakukan Gita saat mengetahui selingkuhan asli suaminya? Aku tidak sabar menantikannya!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD