24

1364 Words

Kubekap wajah putraku dengan sapu tangan yang sudah kuolesi obat bius. Ini adalah cara terakhir yang bisa kulakukan. Namun, belum selesai putraku bereaksi, seseorang keluar dari pintu lift. Sontak aku menoleh dan mendapati atasanku mendekat dengan kedua alis terangkat. "Akhirnya kamu membawa Bimo," puas Tristan melihat putra yang kudekap. Kini hanya salah satu alisnya yang terangkat, "Ada apa?" Jantungku berdegup kencang. Apa dia tau apa yang kulakukan pada putraku? "Bimo tantrum, Pak." "Oh ya?" Ia melirik anakku yang sudah lemas. Segera kupamerkan senyum tipis. "Sepertinya dia sudah lelah." Aku berniat merebahkan putraku di tikar, tetapi CEOku mencegah. "Bawa saja ke ruaganku, di sana ada sofa tidur." Tristan mendekat, dan langsung menggendong Bimo penuh perhatian. "Biar aku yang m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD