Kezia pun tersenyum dan segera bangkit dari duduknya saat melihat lelaki yang dibawa ayahnya itu karena ternyata lelaki itu adalah orang yang ia tunggu selama ini.
Kezia pun segera menghampiri lelaki itu dan langsung memeluk tubuhnya.
"Kemana aja?" tanya Kezia pelan di pelukan lelaki itu.
Lelaki itu pun membalas pelukan Kezia sebentar lalu melerainya.
"Cie, ada yang nungguin nie ye," ledek lelaki itu sambil mencubit pipi Kezia dengan sedikit gemas
.
"Au ah! Gara-gara kamu nih, aku jadi gagal nikah selama tiga kali. Ngeselin banget sih!" gerutu Kezia dan malah mendapat tawaan dari lelaki itu.
"Haha, gak papa lah, tapi kan abis ini beneran kamu nikahnya sama aku, Kak," ucap lelaki itu dengan pedenya.
"Dih siapa bilang?" gerutu Kezia lalu segera kembali duduk di sofanya.
Lelaki yang bernama Arman itu pun lalu mengikuti langkah kaki Kezia untuk duduk juga disana tepatnya berada disebelah Kezia.
"Kalian udah saling kenal?" tanya Pak Joey penasaran kepada kedua insan itu.
Keduanya pun menggeleng pelan dan membuat Pak Joey serta keluarganya sedikit bingung.
"Lah, terus tadi?" tanya Pak Joey sedikit bingung.
Kezia hanya tersenyum sebentar lalu ia menceritakan apa yang terjadi dahulu kepada Pak Joey, dan setelah itu, Pak Joey pun tertawa terbahak-bahak sambil memegangi wajahnya yang sedikit terluka.
"Oom, jangan kenceng - kenceng ketawanya, wajahnya masih banyak yang luka itu," ucap Arman mengingatkan dan perlahan tawa Pak Joey pun mereda.
"Pantesan nih anak gagal nikah mulu, ternyata emang kena karmanya haha," ucap Pak Joey meledek mereka berdua.
Setelah berbincang sebentar, Bu Ayes pun langsung menyuruh kedua lelaki itu makan malam bersama dan segera beristirahat.
.
Arman pun di tempatkan sekamar dengan Adnan saat itu, karena dirumah Pak Joey hanya ada tiga kamar tidur saja dan tak ada kamar tambahan.
Perasaan Kezia pun serasa campur aduk. Ia tak tau harus sedih atau senang mendengar itu semua.
Disatu sisi ia senang, karena itu berarti rencana pernikahannya akan tetap berjalan lancar. Namun, di satu sisi, ia pun sedikit sangsi karena ia sama sekali tak tau siapa lelaki yang akan menjadi suaminya itu.
Apakah lelaki itu bekerja? Atau hanya bermain game? Ia sendiri tak benar-benar mengetahui pastinya. Yang ia tau hanya lelaki itu sering bermain game. Itu saja tak lebih.
***
Tiga hari pun berlalu begitu cepat. Pagi ini, rumah keluarga Pak Joey nampak sedikit lebih ramai karena akan melangsungkan pernikahan Kezia.
Dari pagi, keadaan di rumah itu nampak lebih sibuk dari biasanya.
Beberapa orang pun nampak membantu menyiapkan berbagai macam keperluan yang dibutuhkan.
Rencana awalnya, pernikahan Kezia akan dilaksanakan di KUA saja, namun karena ada sesuatu hal akhirnya pernikahan pun di lakukan dirumah.
Kezia pun telah di rias begitu cantik bagai dewi dengan menggunakan kebaya berwarna abu-abu dengan siger melati diatasnya.
Kezia tak ingin menggunakan kebaya berwarna putih untuk akadnya karena baginya itu sudah biasa.
Tak hanya Kezia, Arman pun dirias sedemikian rupa agar terlihat lebih gagah dan juga tampan.
Ketika akad berlangsung, Kezia pun sengaja di taruh di kamar lebih dahulu dan tak boleh keluar dari kamarnya sebelum acara ijab selesai.
Dengan harap-harap cemas, ia pun menunggu seorang diri di kamar kedua orangtuanya yang terletak di lantai bawah.
"Saya nikahkan anak saya yang bernama Kezia Mauren binti Joey Gionino, dengan ananda Arman Jayahadiningrat bin Leon Jayahadiningrat dengan mas kawin berupa cincin emas senilai satu gram dan uang tunai sebesar dua ratus ribu dibayar tunai," ucap Pak Joey dengan sedikit tenang.
"Saya terima nikahnya Kezia Mauren binti Joey Gionino dengan mahar tersebut dibayar tunai!" ucap Arman dengan begitu lantang dan tegas.
Kezia mampu mendengar ijab itu dari dalam sana. Ingin rasanya ia sedikit berontak, karena jumlah mahar yang di berikan Arman sangat sedikit, namun saat ia mengingat siapa lelaki itu akhirnya di urungkannya.
Bagi Kezia, Arman masih sama seperti dulu, hanya seorang lelaki kumal dan dekil yang kerjaannya hanya bermain game saja. Itu bisa terlihat dari dirinya yang selama.tiga hari ini hanya diam saja di rumahnya.
Setelah acara ijab selesai, Kezia pun diminta keluar oleh MC, dengan langkah yang sedikit ragu, ia pun membuka pintu kamar orang tuanya dan ternyata Adnan sudah ada berada di depannya.
"Ayo, Kak," ucap Adnan dan mendapat anggukan dari Kezia.
Kezia pun melangkah perlahan menuju ruang tamu, dan betapa terkejutnya dia melihat penampilan Arman saat itu yang nampak lebih tampan dan juga gagah.
Kezia pun tersenyum melihatnya, begitu pun dengan Arman yang langsung segera bangkit dan menghampiri istrinya itu.
"Cantik," satu kata yang Arman ucapkan dan mampu memporak-porandakan hati Kezia saat itu.
Wajah Kezia nampak bersemu merah saat Arman menggapai tangannya dan menciumnya perlahan lalu mengambil dirinya dari Adnan.
"Tumben ganteng," ucap Kezia sambil terkekeh begitupun dengan Arman yang nampak tertawa karenanya.
Setelah acara ijab kabul dan pemberkasan selesai, mereka pun melakukan poto bersama disana.
Saat itu, ruang tamu Kezia pun sudah di hias secantik mungkin dengan menyewa jasa dekor dadakan.
Acara pernikahan Kezia dan Arman pun berlangsung dengan sedikit meriah saat itu.
Ada banyak tetangga yang hadir, selain ingin mengucapkan selamat menempuh hidup baru, mereka pun ingin mengetahui siapa sosok Arman yang menjadi lelaki pengganti Drean itu.
Namun kebahagiaan yang Kezia tunjukkan tak berlangsung lama, wajah Kezia pun tiba-tiba terlihat sayu dan sedikit kecewa saat melihat sepasang insan yang baru saja datang ke acara itu dan nampak terlihat mesra.
.
Arman pun merasa heran karena tiba-tiba saja raut wajah Kezia berubah menjadi sendu, ia pun merasa bahwa ada yang tidak baik-baik saja.
Pandangan Arman pun lalu beralih pada sepasang insan yang baru saja datang itu.
"Apa dia yang bernama Drean?" tanya Arman dan mendapat anggukan dari Kezia.
"Look at me,Ci! Sekarang kamu udah jadi istri aku, percaya sama aku, kamu akan lebih bahagia sama aku dibanding sama dia," ucap Arman berusaha meyakinkan.
"Apa bisa?" tanya Kezia penuh keraguan namun mendapat anggukan yang mantap dari Arman.
"Sekarang, tegakkan wajahmu buatlah dia seakan-akan menyesal karena telah membuang bidadari seperti kamu," ucap Arman sedikit merayu.
"Dih apaan sih," ucap Kezia sambil menarik pipi Arman dan menggigitnya.
Cekrek!
"Yak bagus!"