Bab 6. Calon perawat

1069 Words
Aluna tengah menatap wajah suaminya yang tertidur lelap dan nyaman. Tak bisa dia bohongi bahwa lelaki ini memang sangat tampan dan menarik di matanya. "Kau benar-benar tampan, Tuan Suami," ucapnya terkekeh melihat mahakarya Tuhan itu. "Aku berjanji padamu akan membuatmu jatuh cinta padaku. Kau tahu tidak, Tuan Suami? Aku harus merelakan mimpiku menjadi seorang perawat demi menikah denganmu," ucap Aluna seraya menghempaskan napasnya dengan kasar. Gadis itu duduk di bibir ranjang. Sesekali dia terkekeh ketika jari-jari tangannya berlari di wajah Alvaro. Jantungnya berdebar-debar. Walau dalam hati ada rasa belum siap untuk sepenuhnya menyerahkan hidup kepada sang suami. Namun, semua memang sudah garis dan takdir kehidupan. "Menjadi perawat adalah impianku sejak dulu, Tuan Suami. Bisa merawat orang yang sakit merupakan hal yang menyenangkan bagiku. Maaf, aku terkesan menyalahkanmu hanya saja aku tak memiliki pilihan lain." Gadis itu tersenyum kecut. Dia berusaha menerima perjalanan hidup yang memang sudah di takdirkan untuknya. "Aku berjanji akan menyembuhkan mu. Percayalah, semua penyakit ada obatnya," celetuk Aluna terkekeh pelan. Gadis itu sejenak terdiam. Lagi-lagi dia fokuskan matanya pada ukiran tangan Tuhan yang tengah tertidur sangat lelap itu. Debar-debar di dalam sana menuntun tangannya mengusap dadanya yang terasa berdegup kencang. "Apa ada obatnya?" gumam Aluna. "Apa bisa terapi?" tanyanya pada diri sendiri. Aluna berjalan pelan dan keluar dari kamarnya. Entah apa yang di cari oleh gadis cantik itu? Tanpa Aluna ketahui dari tadi Alvaro sebenarnya tidak tidur. Dia hanya pura-pura tidur saja. Tujuannya pura-pura tidur, supaya gadis itu tidak mengganggunya dan segera pergi dari kamarnya. Ehhh malah ikut tidur. Sudut bibir Alvaro tertarik saat mengingat ocehan dan curhatan gadis yang berstatus istrinya itu. Dia mendengar semua yang diucapkan Aluna. "Aku takkan melepaskanmu, gadis kecil. Kau sudah masuk di kehidupanku. Jadi kau harus bertanggung jawab untuk selalu berada di sampingku," batin Alvaro. Alvaro menatap punggung Aluna yang menghilang di balik pintu. Entahlah, bagaimana nanti nasib pernikahan mereka? Walaupun dia tahu dia tahu bahwa Aluna adalah gadis yang baik, tetapi tetap saja dia tahu bahwa gadis itu menikahinya karena uang. Alvaro memang tak mengizinkan istrinya kuliah. Entah kenapa dia takut ada pria yang melirik gadis tersebut? Apalagi Aluna masih sangat cantik, imut dan muda. Wajahnya halus dengan senyuman manis yang menggoda. "Seandainya kau menikahiku bukan karena uang mungkin aku akan bahagia. Tetapi nyatanya kau malah sama seperti orang-orang yang ada. Mendekatiku hanya karena kemewahan. Aku tidak akan membiarkanmu pergi gadis kecil. Kau harus bertanggungjawab dan hidup denganku selamanya. Aku akan mengikatmu dalam surat perjanjian itu dengan atau tidak adanya persetujuan darimu." * * * "Kak Ares," panggil Aluna pada asisten suaminya itu. Ares yang kebetulan lewat dari ruangan tamu, sontak menghentikan langkah kakinya. "Iya, Nona Muda, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ares membungkuk hormat. "Kak, sini duduk dulu! Ada yang ingin aku bicarakan padamu," ujar Aluna duduk di sofa ruang tamu. Kening Ares mengerut dengan alis yang saling bertaut satu sama lain. Lelaki itu tak banyak bertanya. Dia duduk sesuai dengan perintah Aluna. "Ada apa, Nona?" tanya Ares Sebelum bertanya Aluna menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia berharap bahwa Ares bisa membantunya mencari kesembuhan untuk Alvaro – suaminya. "Kak, apa sebelumnya, Tuan Suami pernah melakukan pengobatan baik secara herbal atau terapi?" tanya Aluna. Ares terdiam sejenak sebelum akhirnya menjengguk. "Kalau terapi sudah sering, Nona. Bahkan pernah keluar negeri," jawab Ares hormat dan tak lupa tubuhnya yang sedikit dia bungkukkan. "Apa kata dokter, Kak?" tanya Aluna lagi. Ares menggeleng lemas. "Kelumpuhan tuan muda sulit disembuhkan, Nona," jawab Ares tersenyum kecut. Sebagai orang yang setia menemani Alvaro tentu dia merasakan kesedihan yang di rasakan oleh sang tuan. "Kenapa sulit disembuhkan, Kak?" tanya Aluna yang seolah tak puas dan ingin mengorek lebih dalam lagi tentang penyakit suaminya itu. "Tuan mengalami kelumpuhan permanen. Bagian kakinya sama sekali tak bisa di gerakan, Nona," jelas Ares. Lelaki itu tak terlalu paham masalah penyakit Alvaro apalagi dia memang bukan seorang dokter. "Apa kaki tuan suami benar-benar mati rasa, Kak? Seperti tidak merasakan apapun?" tanya Aluna lagi yang belum puas. Ares tampak berpikir dan mengingat, apakah Alvaro pernah merasakan sakit di bagian kakinya? "Sepertinya tuan masih merasakan sakit, Nona. Saya pernah beberapa kali membantu tuan masuk ke dalam kamar mandi dan saya saat membantunya berdiri, tuan meringgis kesakitan," jelas Ares. Aluna tersenyum simpul. Dia tampak mengetuk-ngetuk kan jari di ujung pelipisnya seolah sedang berpikir sangat keras. "Kak, artinya suamiku masih bisa sembuh!" seru Aluna bisa tahan. "Bagaimana Anda bisa tahu, Nona?" tanya Ares penasaran. "Jangan lupakan, Kak. Aku ini calon perawat," ucap Aluna bangga dengan membusungkan dadanya. "Hehe iya, Nona. Saya hampir lupa." Ares cengengesan dan menggaruk tengkuknya. "Kak, bantu aku, ya?" Aluna memegang tangan Ares. Hal tersebut sukses membuat lelaki itu salah tingkah. Jangan sampai Alvaro melihat kejadian ini, bisa-bisa dia pindah planet besok karena amukan dari tuan-nya itu. "Bantu apa, Nona?" tanya Ares dengan perasaan ketar-ketir. Ingin rasanya dia menyingkirkan tangan Aluna yang memegang tangannya, tetapi mana bisa pria itu bersikap kasar pada nona muda-nya sendiri. "Bantu aku menyembuhkan tuan suami," pinta Aluna. Ares mengangguk dengan senyuman. Tanpa Aluna minta pun dia akan melakukan hal tersebut. Sejak dulu dia ingin membantu Alvaro sembuh dari kelumpuhannya. Namun, tuan-nya itu selalu saja menolak. "Baik, Nona." * * * Aluna mengintip dengan membuka pintu secara pelan. Gadis berusia sembilan belas tahun itu mengawasi sang suami. Ketika melihat suaminya terlelap di tempat tidur. Aluna masuk dan menutup pintu pelan. Dia melangkahkan kakinya dengan pelan sekali, bahkan dia sampai berjinjit dan melepaskan sendalnya agar suara yang keluar tak didengar oleh sang suami yang tengah terlelap di atas ranjang. Aluna duduk di bibir ranjang. Tangannya terulur untuk melambai di wajah sang suami. "Sepertinya dia benar-benar tidur," gumam Aluna. "Tuan Suami, kau tenang saja, ya. Aku pasti akan membuatmu berdiri kembali. Aku akan membuatmu percaya padaku bahwa aku menikahimu tulus tanpa embel-embel uang." Aluna menatap sang suami. Wajah suaminya begitu damai dan tenang saat tertidur. Tampan sekali pria yang menjadi suaminya ini. Meski usia mereka terpaut 16 tahun. Namun, tak mengurangi kecocokan di antara keduanya. "Tampan sekali suamiku ini. Aku lupa. Dia hanya suami di atas kertas saja. Aku 'kan dinikahi olehnya hanya untuk merawat dia saja. Jadi aku tidak boleh berharap lebih," lirih Aluna. Tanpa sadar tangannya mengelus kepala sang suami. "Suami lumpuh ku saja menolak kehadiranku. Apalagi keluargaku." Aluna menghela nafas berat. "Setelah dia sembuh tugasku sebagai istri sudah selesai. Setelah ini kemana aku akan pergi?" ucapnya berbicara pelan. "Aku akan melanjutkan kuliah saja. Tapi aku tidak mau tinggal satu rumah sama ayah dan ibu, mereka jahat." Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD