Basah

1408 Words
Adrian dan Wandi masih tergelak meski menyadari jika kondisi mereka tidak bersahabat. Beruntung kamar Adrian yang berlantai porselin berwarna gelap hingga masih terlihat tetesan air kencing tergenang di lantai. Namun posisi keduanya yang berada di pojok kamar lebih memudahkan air tidak melebar ke mana- mana. Dapat dibayangkan jika hal itu terjadi meski airnya tidak banyak namun bau pesing pasti menyebar penuh di dalam kamar. “Gila ... ini napa kita sampai ngompol gini? Kurang asem, gara-gara suara kagak bener nih!” Wandi menggerutu sambil memegang kolormya yang sudah basah. Demikian juga dengan Adrian. Keduanya masih tetap menempelkan telinga sesekali ke dinding kamar. Tentu suara dari sebelah kamar dapat mereka dengar dengan jelas, tidak ada plafon terpasang di dua kamar tersebut. Adrian yang biasanya galak dengan Wandi kini terlihat bengong seperti bukan sosok yang dikenal Wandi selama ini. “Lu kenapa jadi rada konslet sih. Biasanya juga gue yang eror, apa jangan-jangan ini bawaan dari pohon beringin tadi ya? Kagak ngerti pikiran lu hari ini Brow. Mudah-mudahan saja masih waras.” Mendengar perkataan temannya sontak membuat Adrian melayangkan tangan ke kepala sahabatnya itu. Omelan panjang dari Wandi karena sakit membuat Adrian melayangkan pukulannya sekali lagi. Meskipun tidak keras cukup membuat Wandi mengaduh dan melindungi kepalnya dengan kedua tangan. “Lu kira gue udah miring?” tukas Adrian sambil menyilangkan jari telunjuknya di dahi. “Ayo, ke kamar mandi! Eh ... ta-tapi ...!” ajaknya yang merasa sudah risih dengan keadaan celana yang sudah basah. “Nah ...nah ... baru sadarkan? Mana bisa kita keluar kamar?” lanjut Wandi menyadari jika mereka dalam situasi yang tidak nyaman takut ketahuan orang yang berada di kamar sebelah. Adrian yang sudah merasa gerah dengan celananya tidak memperdulikan tarikan tangan dari Wandi, supaya tidak keluar kamar. Mereka berdua tarik menarik hingga brett ... sobek baju Adrian. Baju yang terbuat dari kain katun berwarna biru akhirnya berlobang panjang membuat yang punya terlihat bertambah kesal. “Asem lu Wan! Nih baju gue baru saja beli. Udah, lu kalo nggak mau keluar ya udah, tapi pel kamar gue SEKARANG!” “I-iya ... iya ampun dah, kalo harimau mulai nyalakan taring. Kagak mau digigit gue.” Wandi mendorong tubuh Adrian yang lebih besar itu keluar dari dari kamar, hingga hampir saja terjatuh. Mata Adrian yang melotot menatapnya tidak dia hiraukan, yang penting dia selamat dan sampai di kamar madi terlebih dulu. Sampai di dalam kamar mandi, dia bengong lupa akan sesuatu. “JIAH ... ini gue lantas mo ganti celananya siapa? Gak mungkin kolor ini gue lepas, trus gue telanjang keluar dari sini. Bisa-bisa jadi santapan Harimau yang di luar,” gumamnya. Suara ketukan pintu kamar mandi terdengar keras, hingga Wanti terlonjak hampir terpeleset. Kamar mandi yang hanya diterangi lampu lima watt dengan lantai perselin berwana biru dengan permukaan licin. Sudah beberapa hari tidak disikat karena kesibukan kedua orang tua Adrian yang bekerja di toko kelontongnya. “Astaga ... untung jantung gue ada cadangan. Iyeee ... iyee bentar! Nggak sabar amat sih,” gumamnya sambil membuka hendel pintu. “Opo?” tanya Wandi melihat temannya berdiri dengan berkacak pinggang, “Emm ... tolongin gue dong! Hehehe ... pinjem kolor lu, ada kan?” Bukan dapat pinjaman kolor, Wandi didorong Adrian keluar dari kamar mandi, hingga hampir saja terjungkal terkena lantai. Adrian langsung masuk dan menutup pintu kamar mandi. Tapi terdengar teriakan dari dalam,” Woii ... Wandii!! Ini aer lu buang ke mana? Gila lu! Nyalain mesinnya! Cepett!!” Wandi tidak menjawab teriakan Adrian. Dia cepat bergerak menuju tempat saklar listrik dan hidupkan mesin air. Dia sudah sangat hafal tempat-tempat penting di rumahnya Adrian. Selain kamar kedua orang tua temannya itu. Dia melangkah masuk lagi ke dalam kamar, mencari kolor milik temannya di alamari pakaian yang tidak terkunci. Sepertinya dia sudah melupakan kejadian suara aneh di kamar sebelah yang mereka dengar baru saja. Saat memilih celana kolor Wandi merakan sesuatu yang ganjil dam membuat bulu kuduknya merinding. “Kog rasanya ada yang mengawasi gue? Masak Adrian udah keluar dari kamar mandi? Hiii ... kog merinding ya, jangan-jangan ... wadauww?” Adrian melonjak kaget, melihat ada yang bergerak dari balik almari Adrian. Letak alamrinya ada di sudut ruang, dan agak gelap tidak ada lampu yang paling dekat. Celananya yang semula basah dan bau kencing karena peristiwa tadi, kini bertambah basah lagi. Tubuhnya menggigil tanpa gerak, mata tetap mengarah pada sesuatu di balik almari. “A-ada yang ber-si-nar ... ja-jangan! Ja-ngan gang-gu gueee ...!” ** Suara Wandi terdengar lumayan keras dari luar kamar. Adrian yang baru saja keluar dari kamar mandi merasa heran. Ini bukan yang peetama kali Wandi berteriak ketakutan. Bergegas dia berlajan ke kamarnya melupakan celana basah yang masih tergantung di pintu kamar mandi. Adrian tiba-tiba masuk dan memukul kepala Wandi dengan keras. Kalau dihitung, seharian tadi Wandi sudah menerima pukulan beberapa kali. Untungnya kepala Wandi seperti batu, hingga tidak mungkin bonyok meski dipukul berkali-kali. Pukulan Adrian juga tidak serius seperti preman atau jago silat. Hanya ingin membuat Wandi jera saja, tapi ternyata meleset. Wandi tidak pernah takut kepada Adrian yang sudah dianggapnya seperti saudara. “Astaga! Lu jangan kelewatan! Ini kepala ... bikan batu, enak aja main pukul.” “Hehh ... lu ngapain? Cepet ganti celana! Udah bau kemana-mana itu.” “Iyee ... gue juga udah risih, gara-gara elu sih ini. Jadi gue terus yang dia gangguin.” “Apa? Lu ngomong apa? Yang jelas! Jangan ambigu gitu, udah cepet pergi dari sini!” Wandi melangkah keluar dari kamar Adrian, tanpa menoleh ke arah temannya. Hanya sabetan kolor saja yang mengenai tubuh Adrian, hingga membuat temannya itu melotot dan balik memukul tangannya. Setelah membersihkan diri, mereka kembali ke ruang makan. Nampak kebingungan mencari makanan dengan membuka almari dan tudung saji yang ada di meja. Keduanya saling berpandangan, tanpa mengeluarkan suara. Hanya gerakan mencari bahan yang ada di dapur. Mata bersinar, ketika menemukan empat bungkus mie instan. Tanpa banyak bicara, Wandi segera mengambil dan memasaknya. Sementara Adrian hanya melihat sambil duduk santai bermain ponsel. Matanya melotot melihat ponsel yang sedang menyalakan vidio. Adegan horor bumbu panas, cukup mengusiknya. Sesekali menelan air liur, hingga jakunnya terlihat naik turun. Tak ada kedipan, terlihat serius dan tanpa sadar jika temannya sudah menyodorkan mie yang masih panas di atas meja. Entah karena serius melihat vidio, tanpa sadar tangan Adrian menyentuh mangkok panas itu. “Busyeett ... gila lu Wan! Mo balas gue?” “Mana ada ... lagian lu kenapa, kayak lihat hantu saja.” “Emang iya, tuh lihat! Hantu lagi goyang-goyang di pohon sambil enak-enak.” “What? Kurang kerjaan aja, dah matiin dulu! Nih mie nya, kurang pedes nggak?” Tidak ada jawaban, Adrian langsung menyantap mie yang masih panas hingga mulutnya berdesis. Demikian juga dengan Wandi, yang memajukan bibir tebalnya hingga seperti kue cucur. Dua anak yang sudah beranjak dewasa, dan sudah berani melihat adegan dewasa. Selama ini, pengawasan dari kedua orang tua mereka kurang, hingga semua yang mereka lakukan tidak pernah kelihatan. Kedua orang tua mereka terlalu sibuk mencari uang, maklum jika tidak kehidupan mereka juga akan kekurangan. Hidup dijaman sekarang, harus bekerja keras untuk mendapatkan uang. Apalagi pekerjaan mempunyai toko kelontong milik orang tua Adrian harus bisa memilih kesempatan. Setelah selesai, Adrian dan Wandi segera beranjak dari dapur menuju ruang keluarga. Duduk santai sambil menikmati teh dan kerupuk yang baru saja dibuat Wandi. Baru seteguk Adrian memninum tehnya, terdengar suara aneh di kamar sebeleh milik kedua orang tuanya. Entah mengapa mereka, kedua orang tua Adrian hingga malam belum juga pulang. Tidak biasanya mereka melakukan itu, berkirim kabar juga tidak. Suara yang terdengar, seperti pemaksaan. Suara wanita dan pria yang tidak seimbang dengan desis dan teriakan. Air teh menyembur keluar dari bibir Adrian sementara Wandi hanya melongo dengan sisa kerupuk yang masih ada di dalam mulutnya. Dua anak saling berpandangan, tidak ada yang bicara hingga beberapa saat lamanya. Suara itu terus terdengar hingga membuat keduanya mengernyitkan kening. “Lu merasa ada yang aneh nggak?” ucap Adrian berbisik di telinga Wandi. “Apa an? Bukannya itu suara orang lagi ....” “Hust ... ayo, kita cari sumbernya. Penasaran gue, siapa sih yang m***m di sini?” Mereka berpikir keras siapa yang sedang berada di rumah Adrian dan berbuat seenaknya. Selama ini rumah milik kedua orang tuanya tidak pernah ada gangguan bermacam-macam. Baru kali ini kejadian aneh datang dan hanya Wandi yang di ganggu dan dapat melihat makhluk tak kasat mata tersebut. Mereka berjalan dengan berjingkat agar tidak menimbulkan suara. Langkahnya semakin dekat dengan kamar Jamilah dan Jumari kedua orang tua Adrian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD