Hari ini Olivia libur di dari kerja paruh waktunya. Rasanya sangat bosan berada di dalam kamar sendiri seharian. Ia sejenak berpikir untuk menikmati liburan panas ini di taman.
‘Dari pada tidur uring – uringan mending aku pergi liburan yaa, tapi ke mana ya liburan sendiri dengan tempat yang nyaman.. Hmmm aku pergi ke taman sambil makan dan bersantai disana kayaknya ide yang baik, hmmm’ Via pun bergegas ke dapur kecil nya yang berada di ujung kamarnya bersebelahan dengan kamar mandi dan pintu utama. Disiapkannya bekal roti buah dan beberapa minuman jus kaleng, tak lupa ia membawa kain untuk alas duduknya. Setelah semua beres ia pun mengganti baju tidurnya dengan kaos oblong berwarna kuning s**u dengan ukuran besar jadi terlihat longgar dan santai, di padu padankan dengan celana jeans pendek dan sepatu Converse. Tak lupa ia membawa kacamata hitam, simpel tapi terlihat trendi di tubuh Via. Via sudah keluar dari kamar dan langsung berjalan ke halte bus menuju Vondelpark. Via berencana ingin menikmati liburnya dengan bersantai di taman ini. Sudah lama Via berada di kota ini tapi baru pertama kali dia mengunjungi taman kota yang terkenal bagi orang – orang disana dan para wisatawan.
Sesampainya di Vondelpark Via merasa sangat takjub dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Banyak orang – orang yang sedang menikmati matahari pagi, ada yang berolah raga seperti lari, bermain bola, bersepeda ada juga yang bersantai bercengkerama dengan teman, kekasih dan keluarga. Hamparan rumput hijau yang luas cukup membuat mata Via merasa ingin segera menghabiskan waktunya di sana, pohon – pohon besar yang membuat suasana menjadi sejuk dan segar. Via pun berjalan menelusuri Vondelpark dia menuju ke arah taman yang menghadap ke danau, tempat yang sangat nyaman untuk kondisi Via yang ingin rileks menikmati alam di sekitarnya ini. Dibentangkannya kain yang sudah dia bawa untuk sebagai alas badan, kemudian ia keluarkan bekal makanan yang sudah ia siapkan, tak lupa Via menggunakan kaca mata hitam yang sudah ia bawa tadi. Via merebahkan badannya sambil menikmati bekal dan pemandangan di sekitarnya. Sungguh tempat yang sangat baik untuk melepas kepenatan, Via sangat menikmati seharian ini berada di Vondelpark hingga tiba – tiba rasa kantuk di matanya membuat ia pelan – pelan tertidur. Udara yang segar dengan matahari yang menyinari kemudian pohon – pohon besar yang berada di sekitarnya membuat tubuh rileks. Via sangat nyenyak tidurnya, seakan – akan baru ini dia menikmati tidur yang sangat nyaman walau hanya di atas rumput hijau.
Sekitar 25 menit ia terlelap tidur tapi membuat tubuhnya benar – benar seperti baru di cas. Setelah sedikit mulai membuka mata dan kesadaran mulai penuh ia beranjak duduk dari posisi tidurnya. Dari kejauhan tampak sosok pria muda yang menatap intens ke arah Via, Via pun mulai menyadari bahwa ada yang melihat dirinya dari kejauhan. Sosok itu tiba – tiba berjalan menuju ke arah Via dan mulai jelas wajahnya.
‘Hah itu bukannya cowok yang kemarin makan siang di restoran kan? Ngapain dia disini!’ mengingat sosok yang sekarang sudah berada dekat dengan Via. Kondisi Via yang duduk dan dia berdiri membuat Via sedikit mendongak ke atas.
“Hai.. Kamu orang Indonesia yang kemaren menjadi pelayan di restoran itu kan?”
“hmmm... Ohh hai too, ya aku bekerja disana, sangat kebetulan sekali kita bertemu lagi disini”
“ohh iyaa, aku juga baru sekitar 10menit berada di sini, bosan di dalam hotel sehingga aku keluar dan bertemu dengan mu disini, boleh aku duduk ?” tanya lelaki itu pada Via sambil tersenyum ramah.
“Silahkan, ini tempat umum Anda bisa duduk dimana saja” Ucap Via sambil sedikit menggeser kan tubuhnya dari posisinya sekarang.
“Terima kasih.. Kamu sudah lama di negara ini?”
“humm aku sebelumnya tidak di kota ini, di sini aku baru 1.5 tahun”
“kau hanya bekerja disini ? Atau ada yang kau lakukan selain bekerja?” Via merasa sedikit tidak nyaman baru pertama kali mengobrol tapi cowok di sebalnya sudah banyak bertanya. Seperti mengerti bahasa tubuh Via yang tidak nyaman, cowok ini langsung menjelaskan tentang dirinya.
“Maaf jika aku sudah lancang banyak bertanya, aku sudah 3hari di negara ini untuk perjalanan kerja, aku tidak punya kerabat disini sehingga sedikit membosankan untuk ku, dan bahasa asing ku buruk”
(Author side: disini Andrian berbohong dengan bilang dia buruk dalam berbahasa asing, seorang Andrian CEO di perusahaan ternama dalam dan luar negeri. mana mungking ia tidak mampu berbahasa asing. Andrian menguasai 6 bahasa, tapi setelah melihat Via ia merasa ingin mendalami wanita ini, dan sepertinya gadis yang berada di dekat nya ini memiliki daya tarik itu yang membuat Andrian berbohong biar bisa berlama - lama di dekat Olivia)
“aku disini kuliah dan kemarin itu aku bekerja sebagai paruh waktu disana, lumayan buat pengalaman baru bagi aku” entah mengapa Via merasa iba dengan sosok cowok di sebelahnya ini. Apalagi dia mengerti perasaan sendiri di negara orang dengan keterbatasan bahasa pikirnya.
“oh kau kuliah?”
“ya aku tinggal butuh sekitar 6 – 7 bulan lagi untuk mendapatkan gelar sarjana ku”
“Oh ya sedari tadi kita ngobrol tapi belum saling mengenal nama satu sama lain”
“Maaf. Aku Via, Olivia zein” mendengar nama yang di sebut Via entah mengapa cowoknya seperti syok yang berusaha di tahan olehnya.
“ Si...i...apa maaf” cowok ini berusaha meyakinkan apa yang iya dengar tadi.
“Via kau bisa panggil aku Via, nama ku Olivia Zein, kenapa? Sepertinya kau kaget mendengar nama ku? Apakah kita saling mengenal?”
“hah.. Hmmm enggak, aku baru pertama kali bertemu dengan mu di restoran dan sekarang di taman ini, aku kagum dengan nama mu, cantik”
“nama mu siapa?” Via berusaha mengalihkan perkataan cowok itu tentang dirinya.
“Aku Tama, kau bisa panggil aku Tama”
“tapi seingat ku rekan mu memanggil mu .. Andrian kan” Via masih ingat jelas dengan nama itu nama yang di sebutkan rekan dari cowok yang ada di sebelah Via sekarang dengan jelas memanggil cowok ini dengan sebutan Andrian.
“ Hahh ituu, nama ku Andrian Tama”
“nama depan mu seperti orang yang.. Humm sudah lah ternyata bukan, oh ya kamu masih ingin disini? Sepertinya aku ingin pulang karena sekarang sudah jam 12”
“Sepertinya kau punya kenalan bernama Andrian sama seperti nama depan ku?”
“Aku tidak punya tujuan, paling jika kau pergi aku kembali ke hotel ku, jika kau tak keberatan apa aku boleh mengajak mu makan siang di restoran yang di sebelah taman anak – anak sepertinya tempatnya nyaman untuk makan siang bersama”
“ Humm aku sih enggak ada kegiatan tapii...” Via sedikit berpikir dengan ajakan dari Andrian, entah mengapa dia merasa sepertu kenal dekat tapi merasa ada yang janggal di hatinya, entah apalah itu.
“bagaimana yaa.. Humm .. Ya sudah aku terima ajakan mu” Via merasa kasihan jika menolak nya, melihat wajah Andrian yang seakan menaruh harap, mungkin karena ia kesepian di negara orang.
Andrian yang merasa senang langsung bangkit dari duduknya dan membantu Via merapikan tempatnya, setelah itu berjalan menuju restoran yang di tunjuk Andrian.