3. Pimpinan regu

1057 Words
karena tidak ada gunung yang terlalu tinggi untuk di daki, dan tidak ada laut yang terlalu dalam untuk di selam. Sekarang adalah hari pertama beraktifitas kegiatan Pramuka, awalnya Dhiya sudah mengambil ancang-ancang untuk kabur karena hari sebelumnya para guru telah memberitahukan bahwa di bagian acara hari ini akan ada terjun payung, dari ketinggian yang tidak terlalu tinggi dan dibantu langsung oleh para Tentara Angkatan Udara. Namun para guru merubah jadwal, yang harusnya hari ini malah di ganti jadi nanti hari ke-9, sebelum pulang. dikarenakan helikopter dan para tentara yang akan membantu mereka tidak bisa datang sekarang. jadilah sekarang jadwal nya di tukar begitu saja. Setidaknya hal itu mampu membuat Dhiya menghela nafas leganya, masih ada waktu untuknya mempersiapkan diri atau malam kabur saja, berhubung dia membawa mobil jadi dia bisa pulang duluan. Namun, bagaimana janji nya dengan para guru? Ah akan Dhiya pikirkan nanti saja. Selesai sarapan. Mereka di kumpulkan kembali di bibir pantai untuk APEL sekalian dibagi kelompok. Kelompok terdiri dari 5 regu dan terdapat sepuluh anggota yang akan di pimpin langsung oleh satu tentara di setiap salah satu regunya. "Pagi semuanya." ucap pak Heru selaku panitia pelaksana pendakian gunung. "Pagi, Pak." jawab siswa-siswi serentak. "Baiklah, Bapak cuman mau ngasih tahu, untuk pembagian ketua selama kalian dalam perjalanan mendaki." terangnya. "Kalau namanya terpanggil dimohon untuk kedepan" sambung Heru kembali. "Baik pak" jawab mereka kembali serentak. "Kelompok pertama diketuai oleh Anindhiya Putri Thalita. Kelompok kedua dengan Siska Camelia putri. Kelompok ketiga Azzam Andara. Kelompok empat David Nugraha. Dan kelompok lima oleh Alexandra putra Gottardo. Silahkan untuk berjajar di depan" terang pak Heru. "Apakah ada pertanyaan?" tanyanya-mempersilahkan murid jika ingin bertanya. "Kenapa gak aku aja pak yang jadi ketua, emangnya Anindhiya bisa apa sih! Pasti kan terbukti aku yang lebih layak." perkataan Sinta mengundang orang untuk melihat ke arahnya. Dhiya sudah menatap Sinta dengan sinis, pasti ada saja yang akan Sinta permasalahkan menyangkut dirinya. "Dengarkan bapak anak-anak. Mereka yang di pilih jadi ketua sudah menjadi kesepakatan dewan panitia. Mereka di pilih karena mereka terlihat unggul dari pada kalian. Bukan bapak memilih kasih tetapi kita harus berpikir logis. Ketua adalah orang yang memeliki tanggung jawab paling tinggi. Jika ada apa-apa kalau ketua kalian lembek siapa juga yang susah. Sudah kalian semua bubar dan berkumpul dengan kelompok masing masing dan berdiskusi untuk persiapan sebelum mendaki karena pendakian membutuhkan waktu hampir empat jam lamanya saat naik. sudah bu Rina bagikankan tadi kertas kepada kalian untuk mengetahui kalian berada di kelompok mananya." pak Heru menjelaskan dengan tegas, ia tak ingin ada kesalahpahaman lagi antara murid-muridnya yang tak terpilih. Mereka semua mengangguk, dan antusias membuka gulungan kertas tersebut lalu berjalan cepat menuju ketua kelompok mereka masing-masing yang masih berada di depan. Dhiya menduduki kelompok pertama tetapi hanya Indah saja yang berada di kelompok nya . Siska memegang kelompok dua dengan Malvin yang menjadi pimpinannya. "Kenapa harus ada Sinta sih?" adu Dhiya. Indah juga sama kesal, pasalnya Sinta ikut sekelompok juga dengannya. "Emang kenapa?" tanya seseorang tiba-tiba dari arah belakang. Sontak saja, dhiya langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke arah asal suara. Sudah Dhiya tebak dan benar sekali dugaannya pemilik suara itu adalah Arkan yang berjalan ke arahnya bersama dengan Malvin dan Siska juga. "Ehh enggak kok kak." jawab Dhiya dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Siska. "Siska lo hati hati ya." ujar Dhiya kepada Siska. "Sebenarnya gue sedih gak sekelompok sama kalian" jawab Siska terdengar sendu. Indah segera langsung memeluk Siska erat, membuat sang empu mendengus kesal. "Kalau lo mau, gue bisa aja nuker lo sama si Sinta" jawab Dhiya. Siska terdengar menghela nafas kasarnya. "Gue tau lo pasti mudah tuker gue, tapi disini gue punya tanggung jawab. Gue gak percaya kalau si Sinta yang megang kelompok. Gue yakinin gak akan berjalan lancar juga. Lagian gue harus bilang apa sama guru?" jawab Siska, nadanya masih terdengar tak bersemangat. "Ya memang bener sih," Indah menimpali. "Gue juga ogah kali ngegantiin lu jadi ketua." ketus Sinta bersama antek-anteknya yang tiba-tiba datang. Bisa diyakini mereka mendengar percakapan Dhiya dengan teman-temannya. Namun Dhiya merasa tidak peduli. Toh memang kenyataannya mereka berdua selalu beradu jontos dimana pun mereka punya kesempatan. "Tadi lo kan yang mau jadi ketua kenapa sekarang berubah pikiran?" tanya Indah. "Yah benar tapi itu tadi, sekarang gue gak mau karena gue pengen berduaan sama kak Arkan, iya gak sayang." jawab Sinta enteng yang di hadiahi pelototan dari Dhiya. Ah wanita itu genit sekali, dasar cabe! "Lagi pula kalau lo jadi ketua. Anak anak kasihan, bisa-bisa nanti kalau mereka terluka dijalan lo obatinnya pake lipstik sama bedak." cibir indah sontak yang berada disana pun langsung tertawa tak terkecuali dengan Arkan dan Dhiya. Tanpa berniat menjawab, Sinta berjalan kearah Arkan sambil memanyunkan bibirnya kesal, tak tahu malu dia langsung bergelayut manja pada lengan Arkan. sontak saja dhiya membulatkan matanya tak terima "Ahh bisa bisanya sinta begitu, gue aja pacarnya gak berani. Awas ya lo gue gak akan biarin ini!" batin dhiya "Sayang masa mereka kayak gitu, kamu janji kan bakalan lindungin aku di gunung nanti." Sinta berbicara dengan nada manja, membuat siapapun yang mendengar mual, dan jijik. Begitupun juga dengan Arkan, ingin sekali dia mencaci maki wanita yang lancang menggandeng tangannya. "Saya gak minat sama modelan badut kayak kamu" ketus Arkan sambil melepaskan rangkulan tangan Sinta dengan cukup kasar. Mereka yang ada disana tertawa puas, bahkan antek-anteknya Sinta terlihat menahan tawa. "Ih kak Arkan kok gitu sih, sama Sinta." jawab Sinta cemberut sambil memasang wajah sok imut yang malah menjadi menjijikan jika Dhiya lihat. "Jijik saya sama kamu. Pergi kamu sekarang!" Arkan berbicara dengan sinis, setelah rangkulan terlepas dia segera mendekati Dhiya. Sinta terkejut, dan tak terima kala Arkan mentah-mentah menolaknya. Dan malah memilih berdekatan dengan Dhiya. Sementara Dhiya, mengangkat bahunya acuh kala melihat Sinta pergi di ikuti Viola dan Oliv. "Ka malvin jagain Siska ya." ujar Dhiya yang dibenarkan oleh Indah. "Kamu tenang aja, selama Siska deket sama saya, dia aman." jawab Malvin sambil memandang Siska lekat. Yang di pandang hanya tersenyum sumringah saja. "Cie ciee bau bau pedekate nihhhh." ujar Indah, membuat Malvin menyunggingkan senyumnya. "Yasudah, lima menit lagi kita berangkat. kalian sudah siap?" tanya Arkan. Dhiya mengangguk tanda siap, lalu mereka berkumpul bersama kelompoknya masing-masing, sebelum itu guru membekali mereka dengan wejangan lagi. Arkan merasa bahagia, baru kali ini dia mendapatkan tugas seperti ini. Yang ia kira akan sangat membosankan ternyata melesat jauh dari pemikirannya. Tugas ini sangat menyenangkan, walaupun dia harus merelakan masa liburnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD