Cobalah untuk melihat, dunia itu begitu luas. Jangan dunia, lihatlah dulu Indonesia.
Di sinilah mereka. di gunung, mereka sedang mendaki sesuai dengan jadwal. Perjalanan pendakian gunungnya cukup membuat Dhiya kagum meskipun panas. Tapi itu terbayar oleh keindahan alamnya yang indah. Dhiya tak henti hentinya berdecak kagum dengan ciptaan Tuhan yang maha Esa.
"Mau aku bawain ransel nya" Arkan menawarkan diri, berhubung dia hanya membawa ransel yang tak terlalu besar.
"Tidak perlu, kak. Aku kuat." jawab Dhiya, sambil tersenyum di akhir.
Arkan membalas ucapan Dhiya dengan senyuman juga. Ia tak salah mengangumi wanita sederhana seperti Dhiya. Itulah sebabnya, sampai kemarin sebelum Arkan menembak Dhiya, dia tak pernah berpacaran. Menurutnya wanita di luaran sana yang pernah ia temui sangat ribet. Terlalu banyak gaya tanpa usaha, itu bukanlah tipe Arkan.
Mereka segera melanjutkan perjalanan kembali, setelah di beri istirahat lima menit.
"Kenapa lo deket banget sih sama kak Arkan?" tanya Sinta pada Dhiya saat ini keduanya sedang berjalan berdampingan. Sinta yang sengaja mendampingi Dhiya.
"Wajar dong, orang dia pacar gue." jawab Dhiya ketus sambil terus berjalan. Sedangkan Arkan dia berjalan di bagian belakang.
"Kurang ajar!" gertak Sinta terlihat marah.
Dia menyunggingkan senyum, tiba-tiba saja ide gila terlintas di pikirannya. Sinta sengaja mendorong tubuh Dhiya, untung saja Dhiya sedikit berlari karena akan menyusul Indah. Jadilah Sinta yang sekarang terjatuh. Senjata makan tuan rasain lo.
"Arggh"
Teriak Sinta terdengar nyaring. Sontak mereka yang sedang berjalan pun langsung menghentikan langkah, dan melihat ke belakang.
"Lo kenapa?" tanya Indah pada Sinta.
"Lo buta apa gimana sih! Udah jelas gue jatuh!" ujar Sinta dengan marah.
"Kak Arkan..tolongin. Hiks~" rengek Sinta. Lagi semua yang melihat itu berdecak, dan merutuki takdir dalam hati. Kenapa harus satu kelompok dengan wanita rempong seperti Sinta. Hanya menghambat perjalanan saja.
Begitupun juga dengan Arkan, Sinta tak ada sopan-sopannya, lihat saja dia akan memberikan nilai merah nantinya. Namun Arkan harus terlihat tenang. Meskipun Arkan tahu kronologis nya tadi Sinta yang akan mencelakai pacarnya.
Setelah menghela nafas, karena menahan amarahnya. Dengan wajah datar Arkan berniat berjongkok untuk membantu Sinta namun tangannya di tahan langsung oleh seseorang, setelah menoleh Arkan tersenyum. Karena yang menahannya adalah Dhiya.
"Biar Dhiya aja, kak. Lagi pula ini pekerjaan Ketua. Bukan tentara." ujar Dhiya sedikit ketus.
Sinta segera mencebikkan bibirnya kesal. sementara Arkan, ia semakin terkekeh. Ia yakin kekasihnya itu pasti sedang cemburu.
Arkan mempersilahkan Dhiya untuk mengobati luka Sinta. Dhiya langsung menyiapkan kotak P3K. Namun sebelum mengeluarkan peralatan dan obat, Sinta langsung berdiri dan berjalan begitu saja seolah tidak kenapa-napa.
"Sudah ku duga" ujar Indah, sambil geleng-geleng kepala. Semua orang pun begitu, mereka merasa Sinta begitu kekanakan.
Setelah menempuh perjalanan hampir hampir empat jam, sesuai yang guru perintahkan. Dhiya dan rombongannya sampai juga di puncak, Dhiya tak henti-hentinya memandang takjub pada keindahan alam yang disuguhkan. Meskipun awalnya Dhiya ketakutan karena gunung ini memiliki kecuraman yang sangat miring. Di tambah lagi Dhiya sangat takut ketinggian, tapi melihat Arkan yang menggenggam tangannya erat akhirnya Dhiya memutuskan membuka matanya tetapi masih berpegangan pada tangan ali dengan erat.
"Ini sangat indah." ujar Dhiya, membuat Arkan tersenyum.
Kelompok yang lain pun berangsung angsur datang, sampai terakhir ada kelompok lima yang baru saja datang.
***
Kini waktu menunjukkan pukul empat sore, semua kelompok sudah berkumpul di bibir pantai. Karena baru saja pulang dari gunung.
"Oke anak-anak. Kalian sudah melakukannya dengan baik, pergunakan waktu kalian ini dengan baik. Karena nanti malam akan di adakan acara kembali. kalian mengerti?" jelas Rini.
"Mengerti, Bu."
"Oke bubarkan."
Semua siswa-siswi bubar setelah ada intruksi. Berhamburan ke villa nya masing masing. Untuk istirahat, atau mungkin menunaikan ibadah shalat Dzuhur di sambung Ashar, bagi yang beragama Islam.
***
Sore hari telah menyapa. waktu menunjukan pukul jam lima lebih tiga puluh menit. Semilir angin sangat menusuk ke tulang tulang punggung Dhiya. Namun semuanya bukan seberapa, dibanding dengan rasa sakit dan betapa rapuhnya hati dhiya.
sakit yang selama ini ia tahan,
Rapuh yang selama ini ia kuat-kuatkan, dan
beban yang selama ini ditanggungnya. Tak menjaminkan benteng itu kuat. Dan sekarang pertahanan itu runtuh kembali.
Dhiya terus mengingat kejadian satu jam yang lalu, disaat Herman membentak Dhiya dia dihadapan teman-temannya dan Arkan.
"Coba kalau ada bunda, aku pasti akan sangat bahagia." lirih Dhiya, sampai-sampai tidak ada yang mendengarnya. Setelah mereka semua melihat drama yang di tayangkan di salah satu station tv swasta.
Di sana menceritakan seorang anak yang sangat akrab dengan bundanya. Sampai dewasa anak itu akan menikah. bunda nya terus memperlakukan anak itu dengan manja
Memetik bunga bersama
Berjalan bersama
Makan bersama
Dhiya sangat ingin seperti itu.
"Kalau aku punya bunda, aku pasti seperti anak itu kan ayah" tanya Dhiya riang. Yang berada disana pun langsung menoleh ke arah Dhiya dengan iba.
"Kenapa harus bahas bunda lagi sih Dhiya, Ayah kan selama ini memberikan apa yang kamu mau, kenapa harus mengharapkan bunda lagi? Apakah ayah kurang memberikanmu kebahagiaan?" tanya Herman. Ada nada tak suka dan sedikit membentak di dalam ucapan nya Herman.
Dhiya hanya diam. Benar, tak seharusnya ia berbicara seperti itu, selain menyinggung ayah nya. Dhiya juga sudah membuat ayahnya marah.
"selama ini ayah selalu sabar untuk menjawab semua pertanyaan yang kamu tanyakan. Dan kamu juga sudah tau dengan jelaskan jawaban dari pertanyaanmu itu." ucap Herman yang suaranya sudah melembut kembali
"Kamu udah besar nak, nanti akan ada saatnya kamu ketemu sama bunda kamu. bersabarlah." ucap Herman lembut sambil mengusap kepala Dhiya dengan sayang.
"Aku minta maaf ayah" lirih Dhiya sambil menahan tangisnya, setelah meminta maaf Dhiya langsung bergegas pergi meninggalkan tempat itu meskipun banyak orang yang memanggilnya.
Indah dan Siska berusaha untuk mengejar Dhiya, namun Dhiya menjawab dirinya hanya ingin sendiri dulu.
"Apakah Tuhan tidak kasihan padaku, aku pengen ketemu bunda." lirih Dhiya.
"Sudah ku bilang. Laut akan ikut bersedih jika bidadarinya bersedih juga." ucap Arkan tiba-tiba dan langsung duduk di samping Dhiya.
Dhiya tak berniat untuk mengahapus air matanya, seperti kejadian di hari lalu. Percuma saja. Toh Arkan sudah tahu jika dirinya sedang menangis.
Dhiya langsung menyandarkan kepalanya di bahu Arkan. Dengan senang hati Arkan tak menolam dan malah mengelus pucuk kepala Dhiya yang tertutup hijab berwarna krem.
"Anak manja, gak usah cengeng!" ucap Arkan.
"Aku kan dari dulu emang selalu cengeng kalau di hadapan kakak." Dhiya terkekeh, perkataannya di angguki oleh Arkan.
"Tentu saja, kamu sangat cengeng dari dulu." jawab Arkan membenarkan.
"Jangan nangis lagi, kakak gak suka." sambung Arkan.
"Ada syaratnya loh.." jawab Dhiya.
"Dengan senang hati kakak akan mengabulkannya."
Dhiya tersenyum penuh menang kepada Arkan, "Mungkin sesekali mengerjai Arkan tidak masalah" batinya
"Kita pergi sekarang. Dan beli coklat yang banyak. Bagaimana kak?" tanya Dhiya dengan sangat antusias.
Arkan mengangguk setuju sebagai jawabannya dan berdiri di ikuti dengan Dhiya. Mereka bersama pergi, dia menunggu di depan, sedangkan Arkan mengambil kendaraan. Dhiya tak ingin mengundang fitnah karena kedekatannya dengan salah satu abdi Negara.
**
Benar saja, Dhiya memborong cokelat dengan banyak. Tentu dia tidak akan memakannya sendiri, Dhiya pasti membagikan cokelat itu kepada teman-temannya.
"Kakak gak bakalan bangkrut, kan kalau aku palakin gini?" Dhiya berbicara sambil terkekeh. Kini keduanya sudah berada di dalam mobil.
Arkan menstater mobilnya, dan menjalankannya.
"Kamu palakin tiap hari juga kakak gak bakalan miskin karena ngasih kamu jajan." jawab Arkan terkekeh sambil menerima suapan cokelat dari Dhiya.
"Ahh benarkan?" Dhiya berpura-pura antusias mendengar itu. Padahal sebenarnya Dhiya sudah tahu, dia hanya ingin menggodanya saja. Lagipula ia tahu bahwa Arkan adalah anak orang kaya. Papa nya dan papa Arkan-Romi bersahabat sejak dulu. Dhiya tahu, baik keluarga dirinya maupun Arkan di pandang sebagai keluarga terpandang. Usahanya saja dimana-mana.
"Tenanglah sayang, aku punya posisi aman dalam dunia Tentara." jawab Arkan, kali ini Dhiya tertawa, karena tak dapat menahannya lagi.
Setelah menghabiskan cokelatnya Dhiya bersandar di lengan Arkan yang tengah sibuk menyetir. Membuat Arkan tersenyum simpul.
"Manjanya kumat lagi nih."