☆☆☆☆ ☆ Pelukan Arsen membuat tangis gue semakin pecah. Siang ini gue langsung ke cafe Arsen, satu-satunya tujuan paling aman buat gue. Gak mungkin juga gue akan pulang ke rumah dalam keadaan kayak gini. "Hei, Ril. Lo kenapa?" tanya Arsenik sambil mencoba mengurai pelukannya. "Biarin kayak gini dulu, Sen. Tolong!" pinta gue dan semakin erat memeluk Arsen. Arsen memilih tak bersuara lagi, ia ngebiarin menangis di dalam pelukannya. Usapan lembut pulih di gue membuat gue sedikit tenang walau hati gue masih terasa sakit. Begitu isakan tangis gue sedikit mereda, Arsen menuntun gue untuk duduk di kursi. Berulang kali gue menyeka mata gue yang basah dan menahan tangis gue yang ingin ingin meledak lagi. "Ceritain sama gue, lo kenapa?" tanyanya pelan. Gue menarik nafas panjang dan membuangnya

