20. Winter or Spring

2172 Words
Kami turun di halte berikutnya. Sayang sekali padahal aku suka naik bus. Apalagi ada Aron disini. Baru saja kami turun dari bus, ada dua orang anak kecil berlarian. Mereka sepertinya tengah memperebutkan mainan. Aron menarik ku dalam dekapannya. Hampir saja, jika ia tidak menarik ku maka pantatku akan jatuh ke aspal. Aku sudah akan marah-marah. Inilah alasan aku tidak terlalu suka anak kecil. Nakal dan tidak bisa di atur, tidak tahu sopan santun. Aron menarikku menjauh. Membuat perhatianku dari mereka teralihkan. Tangannya yang menggenggam jemariku bersemayam di saku mantelnya. Hangat. Kami berdua berjalan di trotoar. Banyak pejalan kaki lainnya tapi aku rasa hanya ada kami di sini. Seluruh dunia milik kami, mereka hanya menumpang. Aku terkikik sendiri dengan pikiran anehku. Aron menyadarinya. "Kenapa? Ada yang lucu?" Aku menggeleng. "Enggak. Nggak ada haha." Dia hanya mengangguk sementara kami terus berjalan. Entahlah dia ingin mengajakku kemana. "Kamu bisa naik sepeda? Maksudku kamu mau naik sepeda?" Aku memutar bola mata. "Ya bisalah. Mau. Soalnya dulu aku sering naik sepeda tapi ujung-ujungnya di marahin kakek. Katanya takut jatuhlah, takut aku luka lah. Banyak banget larangannya." "Aku punya sepeda." "Aku tahu." "Maksudku mau nggak naik sepeda bareng aku?" Aku mencubit pinggangnya. Membuatnya mengaduh. "Apaan, sih? Kita kan pernah sepedahan bareng." Dia malah tersenyum kecil. "Mau tanya aja, siapa tahu kamu trauma gara-gara naik sepedaku." "Bisa aja. Nggak lah, malahan mau naik lagi. Tapi di belakang. Soalnya kalau di depan sakit." Dia mengangguk. Kami duduk sebentar di sebuah bangku trotoar. Aku yang meminta. Kakiku pegal. Tidak terbiasa berjalan kaki sejauh ini. "Apa mau naik taksi aja?" Aku menggeleng tidak setuju. Meskipun aku lelah, aku tidak selemah itu. Lagi pula aku juga sudah menyetujuinya dari awal. "Nggak. Mau jalan aja." "Tapi lumayan jaraknya." "Nggak apa-apa. Nanti kalau pingsan kamu yang gendong." Senyumku tersimpul. Wajahnya langsung berubah. "Nggak Aron. Bercanda. Nanti kalau capek istirahat aja." "Kalau beneran pingsan juga bakal aku gendong, kok." Aku tidak menanggapi lagi. Kami hanya duduk memandangi pejalan kaki yang lewat. Ponselnya berdering. Setelah menilik layarnya, dia mematikan panggilan tersebut. Aku pikir hanya orang yang salah sambung. Tapi polanya sama. Ponselnya berdering lagi hingga dua kali, dia juga melakukan hal yang sama. "Siapa? Barangkali penting." Dia menggeleng. "Nggak penting." Aku hanya mengangguk singkat. Kemudian ponsel kembali berdering. Kali ini dengan wajah sebal, Aron mengangkat sambungan. Aku tidak berniat menguping tapi mungkin karena jarak kami yang yang sedekat ini, aku bisa mendengar dengan samar. "Gue nggak punya." Aron hanya menjawab singkat. "Udah gue bilang nggak punya. Lo paham bahasa manusia nggak? Semuanya udah gue tabung." Aron menjauhkan ponselnya dari telinga. Sepertinya orang di seberang sana berteriak marah. Setelahnya Aron mematikan sambungan. Dia melirik ke arahku. Aku diam saja. Aku tidak mu mencampuri urusannya. "Itu kakakku." Dia berkata singkat. Aku hanya mengangguk. Aku mendengar sedikit tentang mereka, makanya aku juga maklum kenapa hubungan mereka tidak baik. Sepertinya panggilan tadi begitu berpengaruh. Kali ini wajah Aron menjadi suram dan tidak bersemangat. Aku juga bingung harus melakukan apa. Aku tidak pandai menghibur orang. "Mau ke suatu tempat nggak?" Aku menawari. Dia melirik sekilas. Mencoba tersenyum padaku. "Kemana?" Aku tersenyum. Aku akan membuat Aron bersemangat lagi. "Rahasia. Tapi kita harus naik taksi, tempatnya jauh. Kamu nggak apa-apa?" Aron mengangguk. "Ayo." Kami berdiri di bahu jalan. Menunggu taksi untuk menepi sebelum melanjutkan ke tempat tujuan. Aku hanya berharap Aron akan menyukainya. *** Lima belas menit kemudian kami sampai di sebuah gedung olahraga. Ini adalah salah satu properti keluarga kami. Beraneka ragam lapangan untuk olahraga indoor. Yang aku tahu Aron begitu menyukai hal yang berbau fisik itu. Aku harap kali ini bisa mengembalikan semangatnya. "Taraaaa.... Selamat datang!" Aku berseru. Biasanya tempat ini selalu ramai, tapi semalam aku dengar bahwa sedang ada renovasi di gedung belakang. Makanya hari ini steril dari pengunjung. Anggap aku sudah memesan jauh-jauh hari. Karena tempat ini cukup ramai, sulit sekali kalau ingin booking gedung ini. "Loh?" Aku paham keterkejutannya. "Ini punya kakek. Dan hari ini ada renovasi di gedung belakang jadinya nggak ada yang lain. Cuma kita. Mau ajarin aku main basket?" Aron tersenyum. Aku semakin bersemangat karena kini senyumnya terbit. "Boleh." Aku menarik lengannya untuk memasuki pelataran gedung olahraga. Sedikit berlari kecil. Aku lupa kalau hari ini adalah kencan dengan tema romantis, tapi kami malah ke sini. Sesampainya di dalam gedung, ada petugas penjaga di depan pintu masuk. Dia mengenaliku, mempersilahkan aku masuk. "Kamu keren." Aron bertanya di sela langkah kami. "Kenapa?" "Kalau punya gedung ini, kamu bisa olahraga tiap hari. Nggak harus bingung karena lupa sewa tempat atau nggak ada uang." Aku menggeleng. "Enggak. Aku nggak suka olahraga. Kalau kamu mau, kesini aja kalau mau olahraga. Ajak John atau Lea juga boleh. Atau yang lain. Kapanpun kamu mau." Aron tertawa kecil. "Wah, jadi gini ya rasanya punya relasi sama orang dalam." Kami tertawa. Tidak menyadari bahwa kami sudah berada di lapangan basket indoor. Ruangannya biasa saja menurutku karena aku tidak begitu paham. Tapi Aron berbeda. Dia tidak hentinya memuji setiap interior yang ada. "Kamu mau main?" Aku bertanya melihat rasa penasarannya. Aron segera mengangguk. Aku memintanya melepas mantel, dia menurut dna memberikannya untuk ku bawa. Aku memilih untuk duduk tribun penonton. Mengamatinya yang terlihat mengoper bola ke sana kemari. Dia berlari dari satu sudut ke sudut lain. Kemudian memutar badan sebelum mengoper bola ke keranjang. Masuk! Aku tertawa. Aku berseru. Aron luar biasa. Dia tertawa melihatku. "Aron keren!" Aku bersorak. Aron kembali mendribble bola. Sebelum melemparnya dari jarak jauh. Setelah puas bermain sendirian, dia berlari ke arahku. Dahinya sudah di penuhi peluh. Aku seketika ingat bahwa aku membawa sapu tangan di tas ku. Aku memintanya sedikit menunduk. Menyapu keringat yang membasahi dahinya. "Keren! Aron selalu keren. Kamu sebenernya atlet basket atau futsal, sih? Kenapa pintar semuanya?" Dia tertawa. Menyombongkan dirinya sendiri. "Mau coba main?" Dia menawari sementara aku menggeleng. Aku tidak bisa. Di sekolah saat ada pelajaran olahraga, nilai praktekku adalah yang terendah. Aku tidak ahli dalam olahraga. "Ayo, kan ada aku." Aku mengangguk. Kami kini berada di tengah lapangan. Siap di posisi kami. Setelah dia memberikan bola kepadaku, aku menjadi gugup. "Kamu dulu. Aku mau lihat kamu dulu." Dia terkekeh. Kemudian menerima bola dari tanganku. Aron bersiap melempar dan bam. Satu bola memasuki keranjang. Dia terlihat menakjubkan dari dekat. Aku kembali bertepuk tangan. "Masa nggak di kasih hadiah? Kan udah keren." Aku tertawa. Mengangguk. "Boleh. Kalau kamu bisa masukin bola itu ke keranjang. Nanti aku kasih hadiah." Aku menunjuk bola yang masih menggelinding. Dia bergerak mengambilnya. Setelah bola dalam pelukan dia bertanya, "hadiahnya apa." Aku tersenyum menampilkan deretan gigiku. "Ada. Nanti aku kasih tahu kalau bisa masuk." Dia segera bergerak. Setelah melirikku singkat dia terlihat serius melempar bola. Dan happ! Satu lagi bola masuk ke keranjang. Aku bertepuk tangan. Dia berlari ke arahku. Menagih dengan segera hadiahnya. "Mana hadiahku?" Aku menepuk puncak kepalanya. "Anak baik. Aron anak baik, kamu keren." Dia terlihat sebal. "Ini hadiahnya?" Aku tertawa melihat wajah kesalnya. Dia mencebikkan bibirnya lucu. Aku kembali mengusap puncak kepalanya. Tentu saja sambil berjinjit. Aku menarik lengannya, menyuruhnya untuk menunduk. Dia sudah tersenyum girang. Aku paham pikirannya, mungkin dia berpikir bahwa aku akan menciumnya. Setelah jarak kami terkikis, aku mendekat. Mencium pipinya sekilas. "Ini hadiahmu." Dia mematung di tempat meski aku sudah berlari ke tribun penonton. Aku malu sekali s****n. Wajahku memerah. Aku masih berlari menuju tas dan mantelku, setelah berada di genggaman aku berlari ke luar ruangan. Aku mendengar teriakannya. "Hei? Tanggung jawab, Ra. Harusnya aku yang lari!" Aku tidak peduli, aku malu sekali. Aku mendengar dia memanggilku, segera berlari menyusulku di belakang. *** Tidak terasa kini malam sudah menyelimuti langit. Waktu cepat sekali berlalu ketika bersama Aron. Padahal aku berharap waktu bisa berhenti walau sebentar. Kami memilih duduk di sebuah tenda makan. Kami sempat bersepeda mengelilingi area taman. Bukan dengan sepeda Aron, kami menyewa. Tapi itu sama menyenangkannya. Aron juga bilang akan sering mengajakku bersepeda. Katanya dia lebih sayang sepeda daripada mobilnya dulu. Kini kami duduk berhadapan. Tenda ini lebih seperti rumah makan sementara yang kalau pagi tendanya akan di bongkar dan akan di pasang lagi kalau malam. Tenda ini menyajikan berbagai jajanan, mulai dari ramyeon, olahan kue beras dan lainnya. Kali ini pengunjungnya banyak sekali, jadi kami memutuskan untuk duduk di bagian luar tenda. Semangkuk mi yang kami nikmati masih hangat. Uapnya membumbung tinggi. Aku masih takjub, belum pernah makan di pinggir jalan seperti ini. Mungkin jika kakek tahu, beliau akan mengomel karena tidak higienis. "Belum pernah makan di tempat kaya gini ya?" Aron bertanya. "Belum. Ini pertama kalinya." Aron tersenyum. "Ya udah, di coba dulu. Rasanya enak kok. Nggak kalah sama restoran yang sering kamu kunjungi." Aku mengangguk. Mengambil sumpit dan bersiap menyantap mi ku. Benar kata Aron. Rasanya memang seperti mi kebanyakan tapi sedikit berbeda. Mungkin karena aku bisa menikmati udara luar atau karena aku lapar, tapi aku tidak bisa berhenti memakan mi ku. Aron terkekeh. "Pelan-pelan makannya. Nanti kalau kurang nambah lagi." Aku mengangguk. Padahal aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, tapi mi ini memang berbeda. "Kamu sering ke sini?" Aron belum menyentuh mi nya sementara milikku tinggal setengah. Apa dia tidak lapar? Padahal rasanya enak sekali. "Sering. Biasanya kalau lupa belum makan nanti pulang kerja mampir kesini." "Memang pulang kerja biasanya jam berapa?" Aron mengedikkan bahunya. "Tergantung. Kan kadang ada tambahan part time." Sementara itu mi ku sudah habis, cepat sekali. Aku bahkan belum merasa puas. Aku melirik milik Aron. Dia benar-benar tidak menyentuh mi nya, dia tidak lapar? "Aku udah kenyang. Mau?" Tidak menunggu dua kali untuk diriku mengangguk. Aron menyuguhkan semangkuk mi miliknya ke hadapanku. Segera mungkin aku melahapnya. Seperti tidak makan tiga hari. "Enak banget ya mi nya?" Aku mengangguk. "Rasanya menurutku sama kaya makanan di rumah. Tapi nggak tahu kenapa cocok banget sama lidah dan perutku. Aku ngerasa lapar." Aron terkekeh. "Kamu kelaparan kayanya." Aku mengangguk lagi. Kembali menyantap mi ku. "Maaf ya, aku nggak bisa ngajak kamu ke restoran mewah. Aku cuma bisa ngajak kamu makan di tempat sederhana." Aku menggeleng tidak setuju. "Nggak ada bedanya, Ron. Lagi pula bukan dinilai dari nilai dan tempat. Tapi dari niatnya." Aku tersedak mi. Aron mengulurkan segelas minuman kepadaku. s**l ini pedas sekali. Tenggorokanku seperti terbakar, mataku berair. Aku menepuk dadaku beberapa kali, Aron juga berdiri. Membantu mengusap punggungku. "Pelan-pelan, Ra. Nanti kita kesini lagi. Lagian kamu makan sambil ngomong sih." Aku ingin sekali memukulnya. Lagipula siapa yang mengajakku berbicara dari tadi? Aku menenggak habis soda yang ada di depanku. Sedikit lega karena sudah terbebas dari rasa terbakar meski masih menyisakan pedas. "Habis ini mau kemana lagi?" Aron mengatakannya seraya membersihkan sudut bibirku dengan tisu. Tidak tahukah dia bahwa jantungku hampir jatuh? Bahwa diriku hampir terjungkal karenanya? Aku malu karena masih belepotan ketika makan. Apalagi dia menatapku dengan intens seperti ini. "Mau pulang." Aku menjawab datar. Dia mengangguk singkat. "Aku anterin pulang ya." Setelah memanggil pelayan untuk membayar makanan ini, Aron menautkan jemari kami. Menuntunku untuk berjalan menyusuri bahu jalan. Beberapa meter lagi untuk kami sampai di halte. Kami duduk di halte. Beberapa orang terlihat menunggu bus datang sama seperti kami. Kata Aron, menurut jadwal bus akan datang lima menit lagi. *** Kami sampai di depan gerbang rumahku. Jariku masih menggenggam erat jemarinya. Enggan melepaskan Aron. Aku masih mau menikmati hari ini bersamanya. "Udah malam. Masuk sana." Aku menggeleng. Mengerucutkan bibir. "Masih mau sama Aron." Dia terkekeh. "Tadi siapa yang minta pulang?" "Aku. Soalnya kata Mama nggak boleh pulang larut." Dia mengusap puncak kepalaku. Aku juga baru menyadari kenapa aku berubah kekanakan sekali bersamanya. Sifat manja ku yang memalukan keluar. "Pintar. Nara anak baik. Sekarang masuk ya? Dingin di luar." "Bentar. Lima menit lagi." Aku menawar. "Emangnya mau ngapain?" "Mau lihatin kamu. Mau aku hafalin wajahnya biar nanti malam mampir ke mimpiku." Lihatlah, Aron bersemu. Dia salah tingkah sendiri. Aku tersenyum menatapnya. "Udah masuk sana. Makin malam malah makin ngaco." "Kamu sayang nggak sama aku?" Dia mengangguk beberapa kali. "Sayang, sayang banget. Makanya sekarang masuk ya, nanti kamu sakit." "Sayang berapa? Besar apa kecil? Sedikit apa banyak?" Aron kembali tertawa. "Banyak. Pokoknya banyak dan lebih besar dari sayangmu ke aku." Aku menggeleng. "Enggak. Aku lebih sayang sama kamu daripada kamu sayang sama aku." "Kata siapa?" "Aku." "Kamu emang siapanya Aron? Kok bisa sayang sama Aron?" Aku merasakan telingaku memerah. Pipiku juga memanas. Dia menatapku tanpa berkedip, seakan menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutku dengan cermat. Aku melepas tautan kami. Bergerak membuka pintu gerbang. Setelah tertutup aku berteriak padanya. "Pacarnya Aron! Nara pacarnya Aron!" Setelah melihat wajah datarnya dihiasi senyum lebar, aku berlari meninggalkan pelataran. Terburu membuka pintu utama karena malu sendiri. Saat bersandar di pintu aku menetralkan napas dan degup jantung. Baru juga akan melangkah, aku di kaget kan dengan kehadiran Mama yang duduk di sofa ruang tamu. "Kenapa teriak-teriak? Kamu sama siapa?" Astaga jangan bilang Mama mendengar teriakan ku yang memalukan? Aku mengelak, berlari menyeberangi ruang tamu dan menapaki anak tangga. "Nggak ada Ma. Nara ngomong sendiri tadi!" Aku mendengar teriakan Mama. "Hayo! Nara ada pacar ya?" Aku mengabaikan Mama. Setelah sampai di kamar, dengan segera aku mengubur diri di balik selimut. Hari ini begitu luar biasa. Musim dingin ini seperti musim semi bagiku. Karena banyak sekali kupu-kupu yang berterbangan di balik taman bunga milikku ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD