Reza

1057 Words
Bulan April apakah bulan itu pertanda cinta akan datang padahal sebelumnya Raya nggak pernah kepikiran jika cinta yang ia harapkan pulang karena sebuah rasa yang ia pendam selama bertahun-tahun tidak ada efek mau orang itu pulang atau tidak sekalipun. Raya yang sedang sibuk dengan pelaporan di kantor tiba-tiba ponselnya bergetar ia pikir telpon dari rekan kerjanya ternyata ia salah, "Ray, buka pesan aku cepat!!" teriak wanita dari seberang sana Raya mengikuti instruksi temannya, ia lantas membuka pesan yang baru masuk dan BOOM! wajahnya yang tadi tersirat lelah kini berubah menjadi cerah bagai ia baru saja mendapatkan uang runtuh bermiliar miliar rupiah. "Dia pulang Van?" Tanya Raya yang kembali mengarahkan ponselnya kembali ke telinga "Iya Ray, ya ampun aku senang banget! gimana ya aku mau ketemu sama dia!!" teriak Vani heboh. "Wih, ayo dong meet up kan sudah lama nggak ketemu" ujar Raya, ia tau ia sudah jahat karena menutupi perasaannya pada sahabatnya sendiri. "Tapi aku takut Ray, jatuh dong harga diri aku karena duluan ngajak dia" "Kan ini yang lo mau dari kemarin Van, apasalahnya sih berkorban toh untuk kebaikan hati kamu juga" "Iya sih Ray" "Gimana kalau kita adakan reuni aja, jadikan ada alasan, lagian sekarang lagi zamannya reunian berkedok CLBK" ucap Raya memberi saran. "Nah benar tu, nanti aku chat Angga deh minta bantuin aku buat adain reunian" "Gue doain yang terbaik ya" "Oke terimakasih teman baikku" Vani mematikan telponnya sebelum Raya menjawab, Raya menatap nanar ponselnya dalam hati ia senang karena orang itu pulang namun ia juga sadar bahwa ia teman jahat bagi Vani, karena mencintai pria yang sama. Raya kembali kerutinitasnya walau terkadang masih kepikiran tentang pria itu, pukul 17.00 Waktunya Raya pulang, gadis itu pulang menggunakan sepeda motor. Raut lelahnya benar-benar sirna efek pria itu pulang benar-benar membuat tenaga Raya yang hilang kini terisi full padahal hari sebelumnya kalau ia pulang pasti banyak saja keluhan yang ia ucapkan tiap jalannya. "Assalamu'alaikum" teriak gadsi itu saat masuk kedalam rumah sederhananya yang ditempati juga oleh orang tua dan adiknya. "Waalaikumsalam, kenapa bahagia banget Ray tumben" ucap sang ibu yang ternyata peka dengan perubahan sikap anak sulungnya. Raya yang sedang membuka sepatu ketsnya kini mendongak menatap sang ibu, "Biasanya Raya juga bahagia kok bu" "Mana ada, kamu kalau pulang tu wajahnya sebelas dua belas dengan cucian ibu yang di jemur diluar tu. Lecek!" "Ibu, ngada-ngada masa wajah anaknya yang cantik ini disamain dengan cucian diluar" "Ibu nggak ngada-ngada, kenyataan!" ucap Indri, ibu Raya dengan penuh penekanan seolah tak terima dengan ungkapan manis sang anak. Raya menghela napas pelan, "Ya ya terserah bunda kanduang lah, yang terbaik buat Raya aja" ucapnya lalu segera mangkir dari hadapan sang ibu karena ia akan tau bahwa setelah ini sang ibu akan berteriak tak suka. Sesampai didalam kamar Raya merebahkan tubuhnya di ranjang empuk miliknya, jujur sebenarnya ia lelah namun kilasan wajah orang yang ia tunggu terus berbinar tiap harinya. Bahagia sungguh itu yang sedang ia rasakan kini. "Tuhan, aku tau aku jahat karena membohongi temanku tapi aku sangat mencintai ciptaanmu itu dan aku juga nggak ingin persahabatanku hancur karena pria, maaf aku egois dan serakah tapi tolong kabulkan doaku, agar aku dan dia bisa bersama jika dia emang kau takdirkan menjadi jodohku." "Bisa nggak sih kita bersama saja, sungguh aku mencintaimu aku janji jika kita bersama aku akan mejadi wanita tulus dan sangat-sangat menghargai kamu sebagai priaku" gumam Raya pelan, dua bola mata gadis itu sibuk meratap kearah dek kamarnya yang berwarna putih, berbicara sendiri adalah hobinya. Guling bahkan sudah menjadi sasaran empuknya karena merasa gemas dengan dirinya sendiri. "Belum ketemu kamu aja hati aku sudah demo gini, apalagi saat kita ketemu nanti ya mungkin ambulance akan datang menyelamatkanku oh bukan, bukan ambulance yang membawa orang sakit tapi orang yang sedang mabuk cinta, eaaa" Raya berguling sana sini sungguh ia sudah gila kini, gila karena cinta yang ia harapkan tak memiliki tujuan yang tepat bahkan sebuah prolog pun tidak bisa dituliskan dengan awalan yang benar. Setelah bosan berbicara sendiri kini gadis itu membuka ponselnya mencari aplikasi berlogo petak warna warni, yang mana di aplikasi itu kita bisa membagikan keseharian kita lewat video ataupun sekedar foto. Tujuan Raya kini adalah profil pria itu, ia sibuk menscroll ponselnya sampai pada profil yang ia tuju, Raya segera membukanya dan tampilan pertama yang ia lihat adaah tentang video pemandangan, dimana pria itu mevideokan pemandangan jalan yang mana jalan yang kini ia lewati adalah jalan kota dimana Raya tinggal. Hanya video jalan saja sudah membuat gadis itu senang bukan main, benar cinta bisa membuat orang yang jenius pun menjadi bodoh dalam sekejap. Raya baru akan mengklik ikon merah keluar dari aplikasi tersebut namun tiba-tiba notif yang ia tunggu muncul,grup yang dulu sepi kini sudah penuh dengan kata-kata yang membuat hati Raya berbinar-binar, Bahagia! ia sangat bahagia kini apalagi saat pria itu membalas pesan bahwa ia ikut juga dalam acara Reunian yang akan diadakan besok, Acara dadakan yang tak akan Raya lewati sedikitpun mau malam atau sore ini pun akan diladeni sama gadis itu karena tujuannya sudah jelas yaitu menemui pria yang ia cintai. "AAKKKKKK..."teriaknya senang. "Ada apa kak! kenapa?!" pintunya yang tadi terkunci rapat kini sudah terbuka lebar, engsel pintu yang rapi sudah berbelok tak tentu arah karena adik bungsunya membukanya dengan penuh paksaan. "Apa sih!! ngapa di dobrak, FAIZ!" Amuk Raya yangs udah siap mengeluarkan semua amarahnya. bagai harimau betina yang sudah berubah seutuhnya. "Kakak tu yang kenapa, teriak-teriak nggak jelas!" jawab Faiz adik bungsu Raya "Mana kakak teriak, aneh banget si kamu sudah sana keluar dan tolong pintu kakak di perbaiki. Cantik seperti semula!" Titah Raya telak pada sang adik bungsu. "Nggak mau!" "Berani ka--- "Iya iya nanti adek benarin" ucap Faiz, remaja yang baru masuk Sekolah menengah atas kelas satu itu kini keluar dari kamar Raya dengan terus berceloteh tak senang karena Raya yang memaksanya untuk membenarkan pintu yang ia rusakin tadi, padahalkan ini salah kakaknya jika saja kakaknya tidak berteriak seperti tadi pasti Faiz tidak akan melakukan hal itu. "Kamu kenapa dek, kok mukanya ditekuk gitu baru aja tadi kakakmu yang aneh kini malah kamu yang tambah aneh, ada masalah apa disekolah?" "Adek nggak ada masalah ma disekolah tapi masalah dengan kakak tu" ucap Faiz yang masih kesal dengan Raya setelahnya ia berjalan ke belakang rumah dimana gudang terletak disana ia mengambil palu dan beberapa paku untuk membenarkan engsel pintu dan juga pintu kamar Raya yang ia rusak tadi. ###
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD