Bulan April katanya identik dengan musim jatuh cinta.
Entah karena hujan yang datang tiba-tiba, udara sore yang terasa lebih sendu, atau karena seseorang yang pernah pergi akhirnya memilih pulang kembali.
Dan bagi Raya…
April tahun ini benar-benar terasa berbeda.
Sebab setelah bertahun-tahun memendam rasa sendirian, akhirnya semesta seperti memberi sedikit harapan pada cintanya yang nyaris mati perlahan.
Pria itu pulang.
Pria yang namanya selalu ia selipkan diam-diam dalam doa panjang setiap malam.
Pria yang sampai hari ini masih tinggal utuh di hatinya.
Saat itu Raya sedang sibuk menyelesaikan laporan di kantor. Jemarinya menari cepat di atas keyboard, sementara wajahnya terlihat lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan yang tak ada habisnya.
Namun suara getaran ponsel yang tiba-tiba muncul membuat fokusnya buyar.
Raya menghela napas pelan.
Ia pikir telepon itu berasal dari rekan kerjanya lagi.
Ternyata bukan.
“Ray! Cepat buka pesan aku!”
Suara heboh Vani langsung memenuhi indera pendengarannya.
Raya segera membuka aplikasi pesan yang baru saja masuk.
Dan detik berikutnya
Matanya membulat sempurna.
Wajah lelahnya yang sejak tadi kusut mendadak berubah cerah seketika, seolah baru saja memenangkan undian miliaran rupiah.
“Dia pulang, Van?” tanya Raya cepat sambil kembali menempelkan ponselnya ke telinga.
“Iya, Ray! Ya ampun, gue senang banget! Gimana dong? Gue jadi deg-degan sendiri kalau nanti ketemu dia!”
Raya tersenyum kecil.
Meski ada sesak tipis di dadanya, ia tetap berusaha terdengar biasa saja.
“Ya bagus dong. Ajak ketemu aja, kan udah lama nggak ketemu.”
“Tapi gue malu, Ray. Nanti jatuh dong harga diri gue kalau duluan ngajak dia.”
Raya terkekeh pelan.
“Kan ini yang lo mau dari dulu, Van. Lagian apa salahnya duluan? Kalau buat sesuatu yang bikin hati lo senang, nggak ada yang salah kok.”
“Iya sih…”
“Nah, gimana kalau sekalian bikin reuni aja? Jadi ada alasan buat kumpul. Lagian sekarang lagi tren reuni berkedok CLBK.”
Vani langsung terdengar antusias.
“NAH! Bener banget! Nanti gue chat Angga deh, minta bantuin.”
“Gue doain yang terbaik ya.”
“Oke. Makasih, teman baikku!”
Sambungan telepon itu terputus begitu saja sebelum Raya sempat membalas.
Hening.
Raya menatap layar ponselnya cukup lama.
Di satu sisi ia bahagia karena pria itu kembali.
Namun di sisi lain, ia sadar betul bahwa dirinya mungkin adalah sahabat paling jahat untuk Vani.
Karena diam-diam mencintai pria yang sama.
Raya kembali melanjutkan pekerjaannya, walaupun pikirannya terus melayang pada sosok itu.
Reza.
Bahkan hanya dengan mendengar kabar kepulangannya saja, hati Raya sudah kacau tak karuan.
Pukul lima sore akhirnya tiba.
Raya pulang menggunakan motor kesayangannya melewati jalanan kota yang mulai ramai oleh kendaraan. Anehnya, hari ini ia sama sekali tidak mengeluh.
Biasanya gadis itu selalu mengomel soal macet, capek, atau panasnya jalanan sepulang kerja.
Namun kali ini berbeda.
Raut lelah di wajahnya hilang begitu saja.
Seolah kepulangan Reza menjadi energi baru yang mengisi ulang seluruh semangatnya.
“Assalamu’alaikum!”
Suara nyaring Raya langsung memenuhi rumah sederhana yang ia tinggali bersama kedua orang tua dan adiknya.
“Wa’alaikumsalam.”
Indri, ibunya, menoleh heran dari dapur.
“Tumben banget wajah kamu cerah begitu. Habis dapat bonus?”
Raya yang sedang membuka sepatu langsung mendongak.
“Emangnya biasanya Raya nggak bahagia, Bu?”
Ibunya terkekeh kecil.
“Mana ada? Biasanya muka kamu kalau pulang kerja sebelas dua belas sama cucian ibu yang dijemur di luar. Kusut.”
“Ibu ih… masa anak cantik begini disamain sama cucian?”
“Ibu nggak ngarang. Itu fakta.”
Raya menghela napas pasrah.
“Iya iya, terserah Bunda Kanduang aja deh. Yang penting Raya tetap anak kesayangan.”
Setelah berkata begitu, Raya buru-buru kabur sebelum sang ibu kembali melanjutkan ceramahnya.
Sesampainya di kamar, ia langsung menjatuhkan tubuh ke atas ranjang.
Jujur saja, sebenarnya ia lelah.
Namun hari ini rasa bahagia mengalahkan semuanya.
Bayangan wajah Reza terus berputar di kepalanya seperti film yang diputar ulang tanpa henti.
Raya menatap langit-langit kamarnya lama.
“Tuhan… aku tahu aku jahat karena membohongi sahabatku sendiri.”
Suaranya lirih.
“Tapi aku benar-benar mencintai dia.”
Dadanya terasa sesak saat mengucapkan itu.
“Aku juga nggak mau persahabatan kami hancur cuma karena seorang pria. Tapi kalau memang dia jodohku… tolong dekatkan kami.”
Ia tersenyum kecil, getir.
“Aku janji bakal jadi perempuan yang tulus buat dia.”
Raya memang sering bicara sendiri saat sedang memikirkan sesuatu.
Dan malam ini, guling di sampingnya lagi-lagi menjadi korban pelukannya.
“Belum ketemu aja hati aku udah segini hebohnya…” gumamnya pelan. “Kalau nanti ketemu langsung gimana ya? Jangan-jangan aku pingsan terus dibawa ambulans.”
Ia tertawa kecil sendiri.
“Oh bukan… bukan ambulans buat orang sakit. Tapi buat orang mabuk cinta.”
Raya berguling ke kanan dan kiri sambil memeluk guling erat.
Benar-benar seperti orang yang kehilangan kewarasan karena cinta.
Setelah puas mengoceh sendiri, ia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi dengan logo warna-warni itu.
Tanpa sadar, jemarinya langsung mencari profil seseorang.
Reza.
Begitu akun pria itu terbuka, hal pertama yang dilihat Raya adalah video singkat suasana jalan kota.
Jalan yang sangat familiar.
Jalan di kota tempat Raya tinggal.
Berarti benar.
Reza memang sudah pulang.
Dan hebatnya, hanya video jalanan biasa saja sudah cukup membuat Raya tersenyum seperti orang bodoh.
Benar kata orang
Cinta bisa membuat siapa pun kehilangan logika.
Raya baru saja ingin keluar dari aplikasi ketika notifikasi grup tiba-tiba bermunculan.
Grup yang biasanya sepi kini mendadak ramai.
Dan senyum Raya semakin lebar saat membaca satu pesan yang paling ia tunggu.
Reza ikut datang ke reuni besok.
“AAAAAAK!”
Teriakan melengking Raya langsung memenuhi rumah.
BRAK!
Pintu kamarnya mendadak terbuka paksa.
“Apa sih, Kak?! Kenapa teriak?!” seru Faiz panik.
Raya langsung melotot saat melihat engsel pintunya nyaris copot akibat ulah sang adik.
“Faiz! Lo ngebuka pintu apa ngerobohin rumah orang?!”
“Lah, kakak sendiri yang teriak kayak kesurupan!”
“Mana ada aku teriak!”
Faiz mendelik kesal.
“Keras banget, Kak. Sampai aku kira ada maling.”
Raya berdeham canggung lalu menunjuk pintu kamarnya.
“Pokoknya benerin itu.”
“Nggak mau.”
“Faiz…”
“Iya iya! Nanti adek benerin!”
Remaja itu akhirnya keluar kamar sambil mengomel sendiri.
Di luar, ia langsung bertemu sang ibu.
“Kamu kenapa lagi, Dek? Kok mukanya ditekuk begitu?” tanya Indri heran.
“Adek nggak ada masalah di sekolah, Ma.” Faiz mendesah panjang. “Masalah adek itu sama kak Raya.”
Setelah itu ia berjalan ke gudang belakang mengambil palu dan paku untuk memperbaiki pintu yang tadi hampir ia jebol.
Sementara di dalam kamar
Raya masih memeluk ponselnya sambil tersenyum sendiri.
Besok.
Akhirnya setelah sekian lama…
Ia akan bertemu Reza lagi.
Bersambung..