“Akhirnya sampai juga di rumah…” desisku setelah kami sampai di rumah rasa istana president. “Alhamdulilahnya mana Neng?” tegur suamiku yang bersiap keluar mobil menggendong Tata yang tidur. “Alhamdulilah…” desisku menurut lalu ikutan keluar mobil. Abang kembar juga teler dan di gendong supir masuk rumah. Ayahku juga kelihatan lelah, walaupun kami sempat berhenti di rest area untuk makan siang dan absen zuhur. “Anak anak biar tidur dulu Kez, walaupun Bandung Jakarta tidak terlalu jauh, tetap mereka cape kalo tidur dengan posisi duduk” kata ayah sebelum aku mengekor pak supir yang masing masing menggendong abang kembar yang teler. Ratu Rania pasti aman di urus papanya. Jadi aku mengurus abang kembar yang tepar, dengan membuka sepatu mereka, dan mengganti baju mereka dengan baju bersih.

