Bab 2. Dia baik, tapi dia...

1035 Words
Keesokan paginya ketegangan melingkupi meja makan, antara Julian dan Milea saling menunduk tanpa berani bersitatap. Terutama Milea karena masih terbayang-bayang ulahnya semalam, bahkan ia seperti masih menggenggam benda tersebut. “Apa maksudnya?” Julian akhirnya angkat bicara, dari nada suara dan raut wajah jelas menyiratkan kemarahan. Milea kian merunduk menekuri piring yang ada di depannya. Ia belum menjawab saja lidahnya sudah kelu, dengan takut-takut ia mengangkat wajah menatap Julian tetapi sedetik kemudian kembali menunduk. “Jawab, Milea.” Kedua tangan Julian mengepal erat, menahan emosi. “Aku hanya ingin tahu,” sahut Milea akhirnya, ia berdehem memasang wajah menantang. “Memangnya salah? Aku hanya memegang, bukankah kita sudah menikah?” ucapnya enteng. Gigi Julian gemeletuk dengan mata yang terpejam singkat, berusaha tenang menghadapi gadis kecil di hadapannya ini. ”Kau bukan anak kecil yang perlu kuberitahu ‘kan? Masalahnya tidak sesederhana itu,” tukas Julian tegas. “Masalahnya dimana? Kau suamiku, kalau bukan aku yang memegang mau diberikan ke siapa?” Milea tetap tegak tanpa menunduk, ia pun tiba-tiba merasa kesal karena Julian berbicara dengan nada tinggi. “Sudah, kita tutup obrolan ini sekarang. Jangan ulangi perbuatanmu semalam!” tutur Julian memilih bangkit, meninggalkan meja makan lalu mengambil topi miliknya yang ada di kamar. Milea yang diperlakukan seperti itu jelas marah, ia menggenggam kedua tangannya begitu kuat menahan rasa sakit yang tiba-tiba mendera. Iya, ia tahu pernikahan mereka hanya didasari perjodohan. Tapi apa salahnya mencoba membangun rumah tangga itu menjadi lebih baik? “Aku sudah mengirim uang jajanmu selama seminggu, jaga dirimu baik-baik,” kata Julian sedikit lembut, pria itu sudah siap dengan tas ransel besar dan seragam dinas kebanggaannya. Alih-alih menjawab Milea justru menundukkan wajahnya. Julian menyadarinya, wanita itu tengah menangis. Ia menghembuskan napas kasar, meletakkan kembali tas ransel miliknya kemudian berdiri di samping wanita itu. “Aku membuatmu menangis.” “Memang sejak kapan kau membuatku tersenyum, kau jahat!” Tangis Milea semakin keras sampai sesenggukan, ingusnya hampir jatuh dan segera ditepis. Julian bisa saja mengabaikan Milea saat ini namun ia tahu, ia yang paling bertanggung jawab atas wanita ini karena Milea datang bersamanya. Sudah 1 tahun mereka hidup di Shanghai, China. Ia yang sedang menjalankan tugas belajar mengizinkan istrinya untuk kuliah kedokteran seperti cita-cita Milea. Semua itu bukan tanpa alasan, sebelumnya Julian memang sudah sering keluar masuk negara ini untuk pendidikan Militer. Sedangkan 1 tahun silam ada sesuatu yang membuatnya harus menikahi Milea. Ia pun tidak ada pilihan selain mengajak sang istri pergi untuk pendidikan, toh hal itu sah-sah saja untuk Anggota yang sudah berkeluarga. Tetapi Julian memilih untuk sering menginap di posko, daripada pulang ke Apartemen tempat Milea berada. “Maunya gimana?” tanya Julian pada akhirnya. Milea mengangkat pandangannya, seluruh wajah telah penuh air mata tetapi ada sedikit binar di matanya. “Lusa sudah natal, aku ingin mengajakmu melihat Night Festival,” jawab Milea jujur. “Kau—” Milea yang tadinya sudah berbinar-binar berubah cemberut lagi, bahkan bibir wanita itu sudah berkedut seperti ingin menangis. Julian mengepalkan tangan ingin memukul udara. “Pekerjaanku lebih penting dari malam festivalmu," sahut Julian, tanpa menoleh lagi ia langsung menyambar tas miliknya dan pergi begitu saja. *** Shanghai bagaikan kanvas raksasa yang dihiasi dengan kuas cahaya. Jalan Nanjing Road dan Bund berubah menjadi pameran seni cahaya yang tak terhingga, memukau setiap mata yang melihat. Lampion-lampion merah dan emas menggantung di udara, menerangi wajah-wajah bahagia yang berkerumun di bawahnya. Patung-patung cahaya berbentuk naga, bunga sakura, dan simbol-simbol keberuntungan Tiongkok menghiasi setiap sudut, menciptakan suasana yang magis dan penuh harapan. Sungai Huangpu menjadi panggung bagi pertunjukan cahaya yang disinkronkan dengan musik, memantulkan keindahan kota Shanghai yang tak pernah tidur. Namun, di antara kemeriahan itu sosok Milea duduk di sebuah kursi yang menghadap ke arah sungai. Tangannya menyangga makanan dengan bibir yang terus mengunyah, tetapi air matanya tak henti mengalir. “Kali ini dia sudah benar-benar keterlaluan, Si!" Milea ingin sekali berteriak, meluapkan rasa sesak di dalam hatinya. “Ouh udah dong berhenti nangisnya. Lihat deh, bentar lagi acara di mulai. Nanti minta sama Tuhan supaya suamimu lebih perhatian.” Sisi mengelus-elus lengan sahabatnya itu untuk menenangkan. Milea masih manangis kemudian menghentikan makannya, meraih bir kalengan yang baru dibeli dan ditegak dengan kasar. “Dia perhatian, dia baik, tapi dia ..." Ucapan Milea terhenti begitu saja, tak tahu bagaimana ia mendeskripsikan sikap Julian padannya. Jika disebut jahat pun sepertinya tidak, Julian tidak pernah kasar atau melupakan tanggungjawab. Setiap Milea membutuhkan sesuatu yang penting, Julian pun selalu sigap memberikannya. Tetapi, dikatakan baik pun ada minusnya. Julian tak pernah benar-benar ingin berinteraksi dengannya selain formalitas. “Kenapa ya, Si? Apa dia punya wanita lain?" gumam Milea menebak segala kemungkinan. Mungkin awalnya tak ada yang perlu dicurigai, tetapi dalam 1 tahun tak ada kontak fisik? Bukankah itu lucu? “Bisa jadi sih." Sisi mengangguk membenarkan. “Mana banyak yang jual sembarangan, kalau dia pulang seminggu sekali minta jatah nggak?” tanya Sisi kepo. “Ih apaan sih?" Milea menggerutu dengan wajah bersungut-sungut kesal, seperti tersindir akan ucapan itu. “Aku masih Virgin.” “Hah? Demi apa?” Kedua mata Sisi melotot sangking kagetnya. “Satu tahun kalian ngapain aja? Cuma tiduran doang, cuma lihat-lihatan?” Sisi semakin heboh, mencerca Milea dengan penuh semangat. “Udah ah, jangan bikin mood aku makin berantakan dong,“ rengek Milea memanyunkan bibirnya merasa frustrasi dengan situasi yang dihadapinya ini. “Kalau ini kau patut curiga. Kenapa tidak mencaritahu tentang Julian lebih dalam?" usul Sisi membuat Milea melirik. Seulas senyum tipis terbit di bibirnya, kemudian membisikkan sesuatu di telinga Milea. “Hah? Enggak ah, gimana kalau dia marah?” Milea menggeleng tak setuju, kepalanya sudah cukup pusing karena sejak tadi terus minum. “Oh my Lea, kali ini menurut sama aku! Bawa sini ponselmu!" * Julian merebahkan tubuhnya di atas matras setelah membersihkan diri. Ia melihat ke arah jam yahh sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ponselnya bergetar. Ia melihat nama Milea di layar. Sebelum membaca pesan itu, ada benda yang jatuh dari atas nakas. Dompetnya terbuka di lantai, isinya berhamburan. Julian menghela napas pendek, meraih dompet itu. Saat dia mulai memasukkan barang-barang kembali, tangannya terhenti di sebuah foto. Foto itu adalah foto seorang wanita cantik dengan senyum cerah, Julian tertegun, matanya terfokus pada wajah di foto itu. “Bagaimana kabarmu, Yura?” Bersambung~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD