Anak Baru

1436 Words
Usai lulus sekolah aku lebih tertarik untuk mencari kerja dari pada kuliah. Enam bulan menganggur, aku habiskan waktuku di kota Makassar, tadinya mau nyari kerja di sana tapi kerinduanku pada kota kelahiran ku membuat aku ingin cepat kembali pulang dan memutuskan untuk mencari pekerjaan di Kampung halaman saja. Alhamdulillah, belum ada dua minggu surat lamaran yang ku kirim diterima di sebuah pabrik besar yang baru saja dibuka dan kebetulan letak lokasi pabriknya tidak jauh dari tempat tinggal ku. Setelah proses interview dan lain-lain selesai, aku bertemu dengan orang-orang baru dan suasana yang baru, dan itu adalah salah satu hal yang sangat menyenangkan. Apalagi menjadi orang yang pertama kali menikmati semua fasilitas yang serba baru. Seminggu berlalu hingga terhitung bulan. Diri pelan-pelan beradaptasi dengan hal-hal lain selain dari Apa yang terlihat dan terasa oleh Indra. Ada aura tersendiri saat berada diluar dan di dalam pabrik, meski semua baru, suasana dalam pabrik itu sedikit berbeda, kalo sudah berada di dalam, rasanya seperti berada di tempat lain Itu dari yang aku lihat dan rasakan. Kurasa wajar aja, karena semua masih baru, apalagi letak pabrik bekas hutan belantara dan sangat dekat dengan pesisir laut. ••• Alhamdulillah! Waktu gajian itu adalah hal luar biasa yang aku dan teman aku rasakan saat itu. Meski kecil rasa bangganya luar biasa, apalagi ketika pulang uangnya kita belikan sesuatu untuk orang tua. Rasa lelah tak terasa ketika bertemu teman-teman di area pabrik. Saling bercerita dengan gaji pertama yang kami peroleh akan kami gunakan untuk apa. Karena waktu itu gaji yang kami terima mingguan dan dihitung dari hasil absen hadir dan timbangan, aku dan teman-teman biasa menjadikan ini sebagai topik bahasan di meja kantin tentang siapa pendapatannya yang lebih besar. Entah meski berbeda rasanya suasananya sedikit mirip di sekolah. Selalu ada hal yang menarik untuk dilihat, dibicarakan meski aku tidak begitu terbuka, tapi bukan berarti anti bersosialisasi. ••• Di suasana pagi itu kami asyik menyortir barang, suara mesin sortir lumayan berisik. Aku dan yang lain fokus pada apa yang kami kerjakan. Sesekali kami ngobrol dan tertawa lepas namun pelan, karena setiap gerak gerik kami terpantau CC TV dan juga mata para pengawas yang siap meneriaki kami untuk tidak mengundang kebisingan. Aku sempat menangkap suara langkah anak laki-laki berlari sambil tertawa kecil. Aku sempat terganggu dan mengalihkan pandangan ke asal dari mana suara itu datang. Pikirku apa iya anaknya Bos besar. Biasa mereka suka masuk ke dalam sini, jika mereka datang dari luar kota. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, gak ada apa pun, kecuali semua karyawan yang sedang asyik bekerja di meja mereka masing-masing. Biasa di hari Sabtu, Bos besar pernah mengajak keluarga kecilnya masuk ke dalam ruang produksi. Entah untuk apa, mungkin untuk menghilangkan kepenatan mereka atau hiburan semata. Mungkin saja seperti itu, apa coba kalau bukan, bagaimana mungkin anak-anak mereka yang masih kecil dibiarkan masuk ke dalam, ya gak masalah sih! Kan Bos yang punya pabrik jadi bebas saja mau apa. Suara langkah dan ketawa itu masih terdengar. Apa mungkin aku salah dengar. Ah!! sudahlah. Aku kembali fokus saja. Meski suara mesin-mesin masih terdengar tiada henti, aku tetap masih bisa membedakan jika ada suara yang lain terdengar. Aku bukan cewek yang penakut, aku sedikit tomboi dan pemberani, meski agak pendiam jangan salah ada kalanya aku berubah jadi sedikit gila, terlebih saat ngumpul dengan teman-teman se_genk ku. Iya, aku punya geng dadakan, geng tanpa nama, sesekali kami terlihat kompak, makan siang bareng, bolos kerja bareng atau janjian Shopping bareng ketika jam kerja usai. Suara bel pabrik terdengar nyaring, pertanda jam istirahat makan siang telah tiba. Kami bergegas keluar, melepaskan sarung tangan dan Appron lalu membersihkan diri di ruangan yang khusus dan keluar menuju kantin. Rupanya, kantin sudah dipenuhi dengan para pekerja yang lain. Senda gurau di meja kantin adalah kebiasaan dari geng kami, juga karyawan lain. hal yang menyenangkan untuk melepas lelah setelah setengah hari bekerja. "Ssst ...!!" Teman ku Frida memberi kode pada kami untuk menengok ke arah belakang. Kami yang tengah asyik makan, menghentikan sejenak suapan sendok yang nyaris sudah hampir masuk ke dalam mulut kami. "Ada apa sih?! tanyaku. Serentak kami berempat menoleh mengikuti lirikan mata Frida. Oh! mas Run, sama siapa dia, sepertinya anak baru, posturnya tinggi, berkulit putih dan matanya sedikit sipit. "Wah, ada anak baru, cakep lagi," sahut Rara. "Sudah tunggu apa lagi Da" kata Tuti. "Kamu kan kalo ada baru, langsung dijadiin gebetan, ya, kan?" timpal Rara. Frida memang terkenal super berani, meski look-nya wanita banget tapi gerak geriknya udah kayak cowok gitu, pokonya beranilah, termaksud berani menahan malu, Frida itu nekatan apa pun akan dia lakukan selama dia ingin melakukannya, dan dia cewek yang super berani. "Aku sudah kenal!! Kalian aja yang lambat!" jawab Frida dengan santainya. Tentu saja kami semua kaget mendengar pernyataan dia. Tapi sejak kapan? Bukannya dia anak baru terus kapan dia kenalannya? "Wah!!Hebat memang kamu Da, selangkah lebih maju," sahutku "Nama dia Ganing Liam tapi dipanggil Ganing. Dia anak mekanik, dan tinggal bareng kakak sepupunya. Hobi dia menyendiri sambil baca buku. Biasa kalau jam makan siang begini, kalo gak di kantin belakang, dia ada di menara atau di bawah tangki air sambil mendengarkan musik dan baca komik." ucap Frida menjelaskan seolah-olah sudah sangat mengenal siapa si anak baru itu. Hmm ... Begitu mendengar kata komik, wahh satu hobi kayaknya denganku. "Dan dia itu super pendiam, jarang ngomong, sampai teman-temannya menganggap dia itu manusia aneh, jadi sulit buat didekati kayaknya." Lanjut Frida masih terlihat serius saat menjelaskan, sambil sesekali menyeruput kopi instan buatan bule Sur. "Hm ... tapi buktinya kamu bisa dapat info sedetail itu dari mana?" tanya Tuti. "Dari mas Run lah." jawab Frida sambil senyum-senyum tipis memperlihatkan bahwa dia bisa mendapatkan info apa saja yang ingin dia ketahui soal Ganing. "Ah!! Masa kamu gak bisa taklukan hatinya Da, Apa sih yang kamu gak bisa, kamu kan dikenal cewek yang pemberani dan super bisa," sahut Tuti. "Iya Da , masa hal sepele gitu kamu gak bisa." celetuk ku menimpali. "Emang kamu bisa?!" Frida tiba-tiba balik nanya ke aku. "Loh, kok jadi aku sih!? Kan kamu yang mulai!" Refleks ku membalas tatapan Frida. "Kata kamu sepele, coba buktikan." tantang Frida. "Iya Linn, jangan ngomong aja, buktikan dong kalo sepele." "Atau gini aja, kalo salah satu dari kalian berdua bisa jadi pacar anak baru itu, gaji kita satu bulan kita kasih siapa yang menang, gimana, setuju gak ?!" ucap Tuti dan yang lain mengiyakan termaksud Frida sendiri "Gila ide mu Tut, masa anak orang dijadiin taruhan." ucapku pelan. "Kan buat seru-seruan aja Lin, siapa tahu bisa jadi pacar benaran, ya nggak!" sahut Tuti lagi. "Okey tapi gak adil kalo cuma kami berdua, kalian juga dong, baru aku mau," tantang ku dan langsung diiyakan oleh mereka. Dan deal tanpa basa-basi kami semua menyetujui perjanjian itu. "Okey, siapa takut!' teriak kami kompak bersamaan. Obrolan kami siang itu hanya membahas soal Ganing. Si anak baru, cowok keturunan China yang beragama Konghucu dan semua info itu bagian dari cerita Frida tadi, yang menjadi poin buat kami. Sesekali kami ngakak tertawa lebar apalagi saat Wida mengatakan .... "Mana mungkin cowok itu mau, paling kalo di dekati kamu dia kabur menjauh, soalnya kamu lebih macho dari dia." Ejek Wida ke Frida yang membuat kami semua tertawa. "Sebentar ya?!" Frida berdiri dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan kami yang tengah asyik tertawa karena nya. "Wah! mau kemana dia?!" sahut Tuti. Kami melihat Frida menuju ke belakang ke pintu kantin, pintu yang tadi dilalui mas Run dan anak baru itu. Siapa anak kecil itu, mataku tiba-tiba tertuju pada anak kecil yang duduk di sudut meja kantin dekat wastafel. Dia memakai kaos putih dan terlihat lusuh, dia hanya diam menunduk dan sesekali balas menatap ke arahku. "Linn!!" Sialan!! Tepukan Rara di bahuku membuat aku kaget. "Sudah gak usah di pikirin, gak mungkin anak baru itu suka sama Frida, yang ada anak itu takut sama dia. Kalo sama kamu, aku sih yakin Ganing pasti bisa jatuh hati ke kamu, kan kamu satu hobi dengannya. Suka baca komik, penyendiri dan pandai main gitar, ya kan ...?? Ucap Wida yang sudah mengetahui sedikit banyak tentang ku. Namun apa hubungannya dengan di anak baru. Rara dan yang lain kembali ngakak, sementara aku, hanya senyum-senyum saja, sambil mencari kemana anak laki-laki tadi. Tidak begitu aku tanggapi ucapan Tuti, karena pikiran ku tiba-tiba teralihkan oleh si anak kecil itu. Apa dia salah satu anak petugas kantin atau dia adalah .... Hemm ... entahlah!! Suara bel kembali berbunyi nyaring, pertanda jam makan siang sudah berakhir. Kami semua bergegas membersihkan peralatan makan dan membuang sisa bungkusan sayur, dan yang lain-lain ke dalam tong sampah. Dan segera masuk ke dalam sebelum Sekuriti cewek meneriaki kami untuk segera masuk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD