Aluna mendelik sebuah ke arah pria di samping. "Kalau kamu nggak mau maafin, aku nggak akan pulang," ujar Ervan lagi. Aluna menghela napas panjang. "Maaf." Ervan menatap penuh harap. Memasang wajah ingin dikasihani. "Iya ...." "Iya apa?" "Iya aku maafin." Pria itu tersenyum. "Makasih." "Kenapa masih di sini?" "Lalu?" "Tadi katanya mau pulang kalau udah aku maafin." Ervan membuang pandangan ke arah lain, salah tingkah kemudian kembali duduk di kursi teras rumah. Tanpa peduli dengan tatapan sang wanita yang terarah padanya. Tentu saja Aluna bingung. Pria itu bukannya pulang, tetapi justru kini duduk lagi dengan santai. "Mas, katanya mau pulang? Ini udah malam loh. Papa dan mama mas juga pasti udah sampai rumah." Ervan mengangkat tangan kemudian melihat jam yang melingkar di p

