Ervan duduk di rumah makan tempat ia dan Aluna dulu sering menghabiskan waktu makan siang. Diatas meja ada piring kosong dan juga gelas berisi air putih yang tinggal setengah. "Bapak masih mau pesan sesuatu?" tanya Adam. Ervan menggeleng. Ponsel Adam berbunyi. Merogoh benda itu yang ia simpan di saku celana. "Maya, Pak." "Kami terima aja dulu. Tunggu di mobil. Sebentar lagi saya nyusul. "Baik, Pak." Adam berlalu. Tak lama setelah Adam pergi, Ervan menyusul. Terkejut saat membuka pintu rumah makan tersebut dan melihat Aluna sedang jalan bersama Barata. Kini ia tahu alasan wanita itu menolak. Ervan memasang wajah datar. Sedikit pun tidak menoleh pada wanita itu. Bukan karena benci. Hanya menghormati keputusan Aluna. Dan berusaha menerima dengan lapang dadda meski cinta bertepuk sebela

