Bab. 49

1103 Words

“Aku bosan nungguin dia,” kataku, sambil mendesah panjang. “Menunggu itu kegiatan sangat membosankan.” “Aku juga senang akhirnya pernikahan kamu dan kakakku batal,” sambung Kim, “untuk apa nungguin yang gak pasti. Ya, kan? Yang pasti-pasti ajalah. Kalau kamu kesepian, kamu bisa datang kapan pun. Atau kita bisa ngabisin waktu bersama semau kita. Lupain aja, Liem. Dia sok sibuk, sok pintar, sok berkelas!” umpatan itu akhirnya keluar dari mulut Kim, hingga membuat perutku terasa mual. Yang sebenarnya aku tak bisa mendengar Tuan Liem dijelek-jelekkan. Aku kini banyak mendengarkan keluhannya, kami sudah berada di balkon yang luas, duduk di sebuah kursi yang bak kursi raja menghadap ke pemandangan di luar sana. Angin berembus cukup kencang menerbangkan anak-anak rambutku yang bergelombang. Ki

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD