Bab. 71

1432 Words

“Aku minta maaf, Rania, tetapi pas liat Tuan Liem, aku merasa dia adalah jodohku.” Aku tergelak. Apa Jeni sudah tidak waras sekarang? Kupikir begitu, dia kesurupan hatu Wisma. “Ambil aja kalau kamu bisa,” tantangku, “aku orang pertama yang akan ucapin selamat kalau kalian bener-bener jadian.” Aku berkata sinis, kutahu Jeni hanya ingin membuatku kesal. Permintaan maafnya saat jalan-jalan kami ke Villa waktu itu rupanya tidak serius. Lagi, lagi dia membuatku kesal. “Oke.” Jeni bersemangat, lalu dia melanjutkan, “Jangan menyesal kalau Tuan Liem berhasil kudapatkan.” *** Jeni benar-benar membuktikan kata-katanya, hampir semalaman ini dia seakan tak pernah putus asa mencoba mencuri perhatian Tuan Liem. Kurasa urat malunya sudah hilang malam ini. dia seperti gadis liar dan murahan, benar-be

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD