Kabut duka masih meliputi keluarga Arlan, terlebih untuk tiga bocah kesayangan Arlan yang saat ini masih duduk di meja makan dengan kepala yang menempel di meja makan. Arlan yang masih berada di rumah masa kecilnya setelah satu minggu berada di rumah tersebut pun hanya menghela napas saat melihat anak-anaknya masih sangat lesu setelah kepergian Metha. Arlan menghampiri anak-anaknya dan mengusap kepala gadis kecilnya yang masih terlihat sangat cemberut.
“Anak-anak Papa kenapa ini?” tanya Arlan saat berada di dekat anak-anaknya.
“Aku enggak mau sekolah. Nenek enggak mau pulang!” keluh Ana pada ayahnya.
“Nenek bukan enggak mau pulang, Dik. Nenek selalu ada di hatinya Adik, meski Adik enggak bisa lihat Nenek, Nenek selalu sama Adik. Percaya sama Papa kalau Nenek selalu ada di samping Adik dan menemani Adik,” kata Arlan mencoba menghibur anak gadisnya.
Ana mengerucutkan bibirnya. Gadis kecilnya itu memang sangat manja kepada Metha. Di depan Metha, tidak akan ada yang berani memarahi Ana, kecuali kedua orang tuanya sendiri. Ana memilih untuk memeluk ayahnya karena tidak bisa menahan tangisnya. Berbeda dengan Ana, Icam hanya diam menundukkan kepalanya tidak berani mengeluarkan suara apa pun.
“Kak, Kakak juga enggak salah kok. Papa sudah bicara berapa kali tentang itu, Kak? Kakak enggak salah, enggak ada yang salah sama Kakak yang masuk ke kamar Nenek buat lihat Nenek. Enggak salah karena Kakak enggak tahu kalau Nenek pergi. Sudah ya, enggak boleh ditangisi terus Neneknya. Nenek mau masuk surga, kalau kalian enggak kasih doa, gimana Nenek bisa masuk surga?” kata Arlan yang membalas pelukan Ana.
“Kalau kita kirim doa, berarti Nenek masuk surga?” tanya Icam.
“Iya dong. Doakan Nenek biar bisa masuk surga dengan mudah ya,” kata Arlan tersenyum dengan menenangkan Ana yang masih memeluknya erat.
“Ini masih mau pelukan apa gimana? Enggak mau makan masakan Mama?” tanya Farin yang membawa masakannya ke meja makan dan melihat keluarganya yang masih berselimut kabut duka.
Perasaan anak-anaknya memang tidak mudah untuk diobati. Rasa sayang dan kedekatan mereka dengan Metha membuat Farin dan Arlan perlahan menjelaskan agar mereka mau merelakan Metha, terlebih untuk Ana dan Icam yang masih sangat kecil. Raka memejamkan matanya sejenak dan menyambut masakan ibunya dengan wajah bahagianya.
“Kalau masalah masakan Mama, enggak ada yang bisa kalahkan. Enggak mungkin aku enggak mau makan masakan Mama. Terima kasih tetap masak buat kita, Ma.” Raka tersenyum melihat ibunya yang tengah menaruh nasi goreng ke meja makan.
“Sudah tugas Mama merawat anak dan suami Mama. Dimakan, Mama ambilkan bekal kalian di belakang dulu.” Farin meninggalkan keluarganya kembali.
Arlan pun melepaskan pelukan Ana dan menghapus air mata gadis kecilnya yang mengalir di pipi anaknya itu. Arlan tersenyum dan mengecup pipi gembul anaknya. Arlan membenarkan duduk Ana sebelum dia duduk di kursinya sendiri. Farin kembali dengan membawa tiga kotak makan dan menaruhnya di meja makan. Farin mengambilkan makan satu persatu anggota keluarganya.
***
Arlan yang masih sibuk dengan pekerjaannya melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Hari ini dia tidak bisa menjemput anaknya karena pekerjaan yang cukup banyak dan membuat dia beberapa kali harus bertemu dengan client. Arlan sudah meminta Roland untuk menjemput anaknya dan membawanya ke kantor, jika anaknya memintanya.
Ketukan pintu membuat Arlan mengangkat kepalanya dan melihat Raka yang masuk ke ruangannya bersama dengan Roland. Arlan mengucap terima kasih pada Roland, sebelum pria itu keluar dari ruangannya kembali. Arlan berdiri dan ikut duduk di sofa dekat anaknya yang langsung menjatuhkan diri di sofa.
“Sudah bilang Mama, kalau mau ke sini?” tanya Arlan pada anak sulungnya.
“Sudah, Papa. Aku bilang mau kerjakan tugas sama Papa,” jawab Raka.
“Bohong atau benar mau kerjakan tugas di sini sama Papa?” tanya Arlan kembali.
“Bohong, Pa. Maaf, aku enggak ada tugas. Aku mau kita sungguh beli hadiah buat Mama. Enggak mungkin aku bilang mau beli hadiah ke Mama, ‘kan, Pa?” ucap Raka pada ayahnya.
“Enggak harus bohong juga ‘kan sama Mama. Nanti minta maaf sama Mama. Papa enggak suka kalau Kakak bohong sama Mama. Kapan ujian, Kak?” Arlan mulai membicarakan masalah sekolah anaknya yang memang harus dia pikirkan dengan matang.
“Bulan depan, Pa. Semuanya sudah selesai diurus. Mama sudah kasih uang buat bayar uang sekolah yang sering Kakak tinggal,” ucap Raka yang menunjukkan deretan giginya yang rapi.
“Kebiasaan buruk kamu itu. Uang sekolah, kalau Mama sudah kasih langsung masukkan tas dan dibayarkan. Bukannya ditinggal di kamar sampai ganti bulan, Kak.” Arlan menggelengkan kepalanya melihat anaknya yang sedang menatapnya dengan wajah tanpa dosanya.
Sering sekali dia mendengar Farin mengeluh karena Raka lupa membayarkan uang sekolah dan menyimpannya hingga berujung uang itu masuk kembali ke dompet Farin karena kekesalan wanita itu. Raka memang selalu punya cara sendiri untuk menguju kesabaran kedua orang tuanya. Hanya saja Raka adalah orang yang pandai menabung, meski pada akhirnya dia akan terlihat boros, jika menginginkan sesuatu.
"Papa kerja dulu, setelah selesai semua baru kita cari hadiah buat Mama," ujar Arlan setelah membicarakan sekolah anaknya.
Raka menganggukkan kepalanya dan bersedia menunggu ayahnya menyelesaikan pekerjaannya. Raka mengeluarkan bukunya karena Arlan sedang melarangnya sering bermain game. Raka tahu kedua orang tuanya tidak ingin dia kecanduan game seperti teman-temannya.
Cukup lama Raka menunggu Arlan menyelesaikan pekerjaannya hingga dia selesai mempelajari satu bab pelajaran yang sedang dia buka. Arlan selesai dan menyuruh Raka untuk membereskan buku yang dibaca. Mereka pun segera keluar dari kantor Arlan.
Dua pria beda generasi itu memukau pengunjung mal yang lain selama berjalan bersama. Arlan tidak pernah melepaskan rangkulannya pada Raka yang sedang mendeskripsikan apa yang ingin dia berikan pada Farin. Raka menggunakan hoodie, meski celananya masih menggunakan celana panjang seragamnya.
"Menurut Papa, Mama suka enggak?" tanya Raka setelah mendeskripsikan semua.
"Pasti suka kok. Apa pun yang Mama dapat dari orang pasti Mama suku, apalagi dari anaknya yang sekarang sudah besar kaya gini," kata Arlan menjawab pertanyaan anaknya.
"Kemahalan enggak, Pa? Mama bakal ngomel dulu enggak?" tanya Raka kembali.
"Kalau Papa sih, enggak. Karena menurut Papa, Mama lebih mahal dari semua yang ada di dunia ini. Kalau untuk Mama yang ngomel, ya pasti Mamamu bakal ngomel dulu," jawab Arlan pada anaknya yang sedang menoleh ke arahnya.
"Menurut Papa, selain dikasih tas, Mama bisa dikasih apa lagi?" tanya Raka pada ayahnya yang terlihat ikut berpikir.
"Kalau dulu Kakak masih kecil, Papa suka tiba-tiba kasih action figure, album atau apa yang belum pernah Mama punya, tapi Mama mau punya itu waktu muda. Kalau sekarang, Papa sering bingung sendiri mau kasih Mama, Kak. Kakak kasih hoodie oversize kaya yang sering Mama beli aja juga enggak papa kok, Kak," kata Arlan pada anaknya.
"Boleh, aku beli juga ya, Pa." Raka menatap Arlan dengqn wajahnya yang memohon.
"Iya. Ayo segera cari sebelum semakin malam, Kak." Arlan mengajak anaknya untuk segera mencari apa yang dicari oleh anaknya.
***
Farin menyambut suami dan anaknya di pintu dengan keinginan mengomel, karena terlalu terlambat. Namun, itu tidak lagi berjalan sesuai dengan rencananya saat Raka memeluknya dan meminta maaf terlebih dahulu. Raka mengecup pipinya dan mengangkat paper bag di depannya. Farin menoleh ke arah Arlan yang hanya mengangkat bahunya seolah tidak tahu apa yang sedang anaknya lakukan.
“Ini buat Mama,” kata Raka saat Farin tidak juga mengambil paper bag yang dia bawa.
“Atas dasar apa ini? Ada acara penting? Perasaan Mama enggak ulang tahun deh,” curiga Farin.
“Enggak ada acara apa-apa. Ini cuma bentuk kasih sayang aku ke Mama, Ma. Aku mau kasih hadiah ke Mama, ya, karena cuma mau kasih Mama. Enggak harus ada acara apa-apa ‘kan, Ma? Mama rawat aku aja enggak cuma karena ada Papa aja, terus kenapa aku mau kasih sesuatu harus tunggu ada acara?” balas Raka membuat Farin menerima hadiah dari anak sulungnya itu.
“Oke, terima kasih, Kak. Lain kali enggak usah buang uang kaya gini ya. Papa cari uang buat sekolah Kakak sama Adik, enggak usah dipakai kaya gini. Mama enggak pernah minta apa-apa kok dari Kakak atau Adik, but Thank you, Kak.” Farin membawa anaknya ke dalam pelukannya kembali dan mengecup pelipis anaknya.
Bersambung …