Andrepati

5709 Words

Di balik selimut, Nirbita menggeliat dan menguap. Matanya terbuka dan dikerjapkan beberapa kali. Setelah cukup mengumpulkan nyawanya dalam satu tubuh, baru ia bangkit dan memandang dirinya sendiri. Meraba badannya, lantas mendesah lega. “Baguslah kalau mimpi,” gumamnya, lantas memandangku dengan mata memicing. “Ngapain kamu ngelihatin di sana?” Nadanya menyengal penuh selidik. Tak tahukah ia semalaman ini aku menderita gara-gara ulahnya? Sampai pagi ini aku tidak memejamkan mata dan memilih terjaga seraya mengantisipasi kegilaannya—dan teror yang baru datang lagi. “Buruan packing. Setelah ini kita pergi.” Seakan tak memiliki dosa apapun padaku, ia mencibir dan melenggang riang menuju kamar mandi. Pintunya dibanting cukup keras. Di dalam sana aku bisa mendengarnya menyanyi asal-asalan s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD