“Ayo buat anak. Buat yang banyak untuk menemani hari- hari kita kedepannya.” Normalnya ucapan itu tentu membuat terharu dan bahagia. Harapan tentang anak membuat siapa saja menatap masa depan. Tapi, Anna? Tentu saja dia tak melihat apapun, bahkan sebuah mimpi untuk memiliki anak. Usianya mungkin tidak akan sampai untuk memilikinya. Adam tersenyum penuh harap. Berharap dengan ini Anna bisa menatap ke depan dan melihat masa depan lebih cerah. Tapi wajah Anna masih muram membuat senyum Adam surut. “Apa aku terlalu terburu- buru?” tanya Adam dengan wajah khawatir. Dia mungkin terlalu terburu-buru. Tapi bagaimana lagi Anna harus segera melakukan pengobatan. “Baiklah mungkin iya. Tapi itu bisa dipikirkan sejak sekarang, kan? Apalagi Eyang juga ingin segera punya cicit.” Anna menipiskan

