Menusuk Dari Belakang

1305 Words
Anna berencana untuk pergi ke arena pacuan kuda dengan Lia pagi ini. Tepatnya Lia yang mengajaknya semalam sebelum mereka pergi tidur di kamar masing-masing. Namun saat ini Anna justru tak menemukan keberadaan Lia di kamarnya. Jadi Anna menelusuri lantai satu untuk mencari Lia, namun hingga beberapa saat Anna tidak melihat Lia dimana pun. “Apa di lantai atas?” Anna mendongak menatap anak tangga yang menjadi penghubung lantai satu dan dua. Dengan menghela nafasnya Anna menaiki satu persatu anak tangga. “Lia?” Anna melihat sekelilingnya, suasananya sepi. Ketiga pria yang menempati kamar atas sudah pergi entah kemana. Anna memperhatikan lantai dua ini, namun tak ada tanda- tanda kehadiran Lia disana. “Lagian mau apa Lia kesini?” gumamnya sambil berbalik untuk kembali ke lantai satu. Mungkin Lia sedang keluar sebentar. Lebih baik dia tunggu dia di bawah saja. Baru akan menuruni tangga sayup-sayup Anna mendengar suara dari balik pintu. Anna mengernyit dan mengurungkan niatnya untuk turun dan pergi ke arah suara. Semakin dekat dengan pintu suara itu semakin jelas dan Anna menghela nafasnya saat mendengar dengan jelas kalau itu memang suara Lia. Sepertinya Lia sedang bicara lewat telepon. “Anak itu. Gak tahu apa, aku dari tadi nunggu.” Anna mengangkat tangannya hendak membuka pintu untuk mengejutkan Lia. Dia bahkan sudah ancang-ancang untuk berteriak. Namun baru akan bersuara Anna justru mengatuplan mulutnya kembali saat mendengar suara Lia selanjutnya. Wajahnya tertegun, di depan sana Lia sedang duduk di tepi ranjang dengan menempelkan ponsel di telinganya. “Anna? Cewek bodoh itu?” Terdengar suara Lia mendecakkan lidahnya. “Kalau bukan karena aku mau lebih deket sama Pak Adam, aku gak mau temenan sama dia.” Anna tak percaya dengan apa yang didengarnya, tangannya mengepal erat dengan amarah yang tertahan. “Cewek bodoh. Masih bertahan meskipun Pak Adam cuek banget sama dia. Tapi baguslah akhirnya dia sadar dan mau cerai.” Tangan Anna mengepal dan meremas gagang pintu dengan erat. “Cewek kayak dia gak pantes sama Pak Adam. Masih kalah sama aku yang udah pasti setera. Aku gak sabar nunggu dia di tendang dari keluarga Wirayudha.” Terdengar jeda dari Lia, hingga Anna memilih menekan ponselnya lalu mengarahkan kamera pada Lia. “Aku sengaja ajak dia kesini, awalnya dia mau ke pulau A. Tapi karena aku tahu Pak Adam ada disini, jadi aku ajak dia kesini.” “Gak mungkin Pak Adam nyalahin aku, yang ada dia bakalan makin ilfil sama Anna karena ngira dia ngikutin Pak Adam kesini. Gimana pun lebih masuk akal kalau Anna yang ngajak aku, kan? Dengan begitu Pak Adam akan semakin gak suka sama cewek penguntit kayak Anna.” Mata Anna semakin tajam, amarah dan sakit hati menyelimutinya. Selama ini dia mengira Lia adalah sahabat baiknya. Selain Lia tak ada yang mau mendekatinya, karena statusnya sebagai istri Adam. Tapi rupanya Lia justru memiliki motif tersembunyi di balik sifat baiknya. Lia menyukai Adam dan hanya memanfaatkannya. “Siapa suruh jadi cewek bodoh dan gak punya harga diri, biar saja aku jatuhkan dia sekalian. Oh, ya … rencananya aku mau ajak dia ke pacuan kuda. Aku yakin cewek kampungan kayak dia gak akan bisa naik kuda. Nanti aku mau minta orang buat kasih kuda yang galak biar dia jatuh terus mampus sekalian, hahaha.” Anna memejamkan matanya erat dengan air mata yang tiba-tiba mengalir. Kenapa orang-orang di sekitarnya tidak ada yang baik. Entah itu suami, mertua bahkan orang yang dia anggap sahabat pun mengkhianatinya. “Kamu tahu aku lagi di kamar Pak Adam.” Mata Anna mengernyit melihat Lia yang mengelus permukaan ranjang dengan lembut. “Kamarnya wangi. Parfum Pak Adam nempel disini.” Anna rasa Lia sudah gila. Dia lebih gila dari pada dia yang mengejar Adam selama ini. Anna menyudahi rekamannya, lalu memilih membiarkan Lia yang masih asik bertelepon sambil terus mengelus permukaan ranjang seolah itu benar-benar Adam. Anna mendudukan dirinya di sofa, lalu merenung beberapa saat. Kenapa nasibnya begitu buruk. Bukan hanya tak memiliki keluarga sejak kecil, suami yang acuh bahkan mertua yang jahat, kini dia juga menemukan orang yang selalu dia anggap sahabat justru menusuknya dari belakang. “Kalau bukan karena aku mau lebih deket sama Pak Adam, aku gak mau temenan sama dia.” Anna memejamkan matanya lelah saat teringat apa yang Lia ucapkan tadi. Lia benar-benar memanfaatkannya. “Apa belum cukup penyakit yang menimpaku?” desahnya kesal. Apa dia benar-benar harus meningal dalam keadaan kesepian dan seorang diri? Tanpa suami bahkan teman yang mendoakannya? Terdengar hentakan sepatu beradu dengan lantai. Langkah itu menuruni tangga hingga terdengar mendekat dan semakin dekat lalu berhenti di sebelahnya. “Jadi kan, naik kudanya?” Lia memiringkan wajahnya membuat Anna menoleh. “Rencananya aku mau ajak dia ke pacuan kuda. Aku yakin cewek kampungan kayak dia gak akan bisa naik kuda. Nanti aku mau minta orang buat kasih kuda yang galak biar dia jatuh terus mampus sekalian, hahaha.” teringat kembali ucapan Lia, seolah itu menjadi pengingat untuknya kalau di dunia ini tidak ada yang bisa dia percaya. Anna tersenyum. “Jadi?” “Kalau gitu, ayo! Nanti keburu penuh.” “Tapi, boleh gak ke lapangan padel dulu. Aku mau main itu dulu sebentar.” Terlihat Lia mengerutkan keningnya, namun Anna menunjukkan buku fasilitas yang terletak di meja, dimana disana menunjukan apa saja fasilitas yang ada di villa dan bisa di nikmati semua pengunjung termasuk lapangan padel. “Main Padel?” “Huum, kamu ajari aku, ya?” Anna menggandeng tangan Lia lalu menariknya agar segera pergi. “Aku belum pernah soalnya.” …. Tiba di sana Anna dan Lia memasuki sebuah ruangan ternyata bukan hanya satu. Tapi ada beberapa ruangan untuk bermain padel. Anna dan Lia memasuki salah satu ruangan yang kosong. Bersiap dengan raket di tangannya Anna mengambil sebuah bola lalu mulai memukul, namun saat ini Lia yang belum siap justru terkejut saat bola itu hampir mengenainya. “Anna!” teriaknya terkejut. “Oh, sorry, aku cuma coba. Maaf.” Lia berdecak. “Kalau gitu kamu ajari aku dulu, ya?” pinta Anna dengan tersenyum. “Iya, tapi hati- hati. Kena aku nanti sakit!” Anna mengangguk. “Cewek kampung main begini aja gak bisa.” Lia menggerutu pelan. Meski Anna tak bisa mendengarnya tapi Anna tahu kalau Lia sedang mengumpatnya. Kenapa Anna sampai tidak menyadarinya. Dua tahun ini dia hanya tertipu wajah polos Lia. “Siap ya, liat aku.” Lia mulai memukul bola ke arah Anna, namun belum sempat Anna menggerakan raket, bola itu mengenai bahunya membuanya meringis. “Sorry. Perhatiin dong caranya.” Lia meringis tak enak hati, namun Anna melihat ketidak ikhlasan disana seolah dia memang sengaja membalasnya. Anna tersenyum. “Gak papa. Kalau gitu giliran aku.” Anna mengambil bola lalu memulai ancang-ancang, sementara Lia juga bersiap untuk menangkis. Bukh! “Akh!” Bola mendarat tepat di dahi Lia. “Oh, maaf. Aku kan baru belajar.” Anna kembali mengambil bola dan melakukan pukulan. Bukh! Bukh! “Akh, Anna! Kamu sengaja!” Pukulan kedua dan ketiga mengenai bahu Lia. “Maaf, namanya juga belajar. Sakit gak?” “Sekarang giliran aku,” ucap Lia dengan kesal. Anna mengangguk dan membiarkan Lia mengambil bola. Mata Lia menajam seolah dia memiliki dendam pada Anna, dia berniat mengarahkan bola tersebut untuk membalas Anna. Begitu bola meluncur Anna bersiap dan memukul kembali dengan keras, dan bola menuju Lia. Bukannya memukul Lia justru tertegun saat melihat Anna berhasil menangkis, hingga bola justru memukul sebelah pipinya membuat wajahnya tertoleh dan bola memantul di dinding lalu kembali kepada Anna. Anna kembali memukul balik bola, kali ini mendarat di mata Lia membuat Lia berteriak dan memegani matanya. Anna mendengus. Mau buat aku celaka? Boleh saja, tapi sebelum itu kamu lebih dulu. Sudah mau mati ya mati saja Anna tidak peduli dengan orang-orang yang tak baik padanya. Tapi akan adil kalau setidaknya mereka juga merasakan sedikit kesakitan. Kalau di banding dengannya tentu saja tidak ada apa- apanya. "Astaga, Lia. Kamu gak papa?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD