Kencan Romantis

1258 Words
“Kamu bilang ciumanku sangat nikmat.” “Apa!” Anna menutup mulutnya terkejut. Jari- jarinya bahkan gemetar mendengar kenyataan itu. “Bohong.” Anna menolak percaya, tidak mungkin dia berciuman dengan Adam saat sedang tak sadar. Tidak mungkin 24 tahun hidupnya hanya berakhir dengan ciuman tanpa sadar. ‘Ciuman pertamaku hilang begitu saja!’ batinnya berteriak. Adam membuka beberapa kancing kemejanya membuat Anna mengkerut dengan tubuh yang mencapai kursi lalu terjatuh disana. “Mau bukti?” Adam membuka sedikit kemejanya dan menampilkan beberapa bekas merah disana membuat mata Anna membelalak. “Tahu kan ini bekas apa? Dan aku gak perlu jelasin ini ulah siapa.” Anna menelan ludahnya kasar. d**a Adam memiliki bercak merah akibat gigitannya. “Tapi se- setelah itu tidak terjadi a—papun, kan?” Anna ingat tidak terasa apapun di tubuhnya. Jadi tidak mungkin mereka benar-benar bercinta. “Bagaimana lagi, kamu terus menempel dan tidak melepaskan aku.” “Maksudnya?” Anna menegakkan tubuhnya. “Tunggu! Kamu bilang meski aku telanjang di depan kamu, kamu tidak akan tertarik. Kenapa sekarang kamu bilang begitu! Jangan bilang itu hanya pura-pura. Sudah aku duga pria mana ada yang tahan, apalagi dengan tubuh telanjang." Adam mendengus dan kembali ke kursi kerjanya. “Jika itu orang lain kamu pasti sudah habis.” Anna tak tahu saja Adam harus menahan dirinya dengan kuat agar tidak menerkam Anna. Sejahat apapun dia pada Anna dia tidak akan mungkin melakukan itu tanpa Anna sadari. Dan apa yang Anna lakukan semalam benar-benar hampir membuatnya kehilangan batasan. Anna jadi gila karena mabuk. Jangan sampai Anna menyentuh kembali minuman terlarang itu. Adam tahu dia adalah suami Anna. Bahkan meski dia melakukannya Itu bukan sebuah dosa. Tapi Adam juga harus memikirkan bagaimana reaksi Anna jika itu terjadi. Dia juga jadi seperti memanfaatkan situasi. “Benarkah?” Anna menghela nafasnya lega. Melihat wajah lega Anna Adam mengerut tak suka setidak ingin itukah Anna bercinta dengannya. “Aku tahu kamu tidak akan mengingkari ucapanmu.” Anna terkekeh dengan perasaan yang semakin lega. Namun saat ini dia juga ingat perkataannya. Jadi Anna berdehem dan berkata, “Aku benar-benar minta maaf soal tadi. Aku benar-benar tidak ingat apapun.” Anna merubah wajahnya merasa bersalah. “Jadi maksudmu ini juga gak apa- apa?” Adam menunjuk dadanya yang merah karena ulah liar Anna. Beberapa bahkan masih ada bekas gigi Anna saking kuatnya dia menggigit Adam. “Itu, anggap saja tidak apa- apa. Lagian kita udah dewasa. Masa gak pernah ciuman.” “Apa!” “Maksudku—” “Kamu benar-benar gak bersyukur ya?” kesal Adam. “Mau bagaimana lagi, aku juga tidak ingat. Aneh, padahal aku tidak minum yang beralkohol jadi kenapa aku bisa mabuk.” Adam mengernyit. “Kamu mana tahu minuman itu buat mabuk atau enggak.” “Karena sebelumnya habis satu gelas aku gak papa. Bartendernya bilang itu rendah alkohol, jadi tidak akan membuat mabuk.” Anna mengernyitkan keningnya. “Yang lain aku gak mau tahu. Tapi kamu tetap harus tanggung jawab.” “Apa yang perlu dipertanggungjawabkan? Lagi pula meskipun terjadi sesuatu harusnya aku yang di rugikan. Memang kalau kita bercinta, terus kehilangan keperawanan yang sudah tidak suci lagi siapa?” Anna menunjuk dirinya. “Aku. Kamu enak, masih bisa menikah lagi tanpa ketahuan, aku? Kalau aku menikah lagi, orang akan tahu aku sudah tidak perawan.” Adam memukul meja membuat Anna berjengit. “Sudah begini masih bilang mau cerai? Masih bermimpi mau menikah lagi?’ Anna memegang dadanya terkejut. “Kamu apa- apaan sih?” “Dengar Anna, aku tidak akan menceraikan kamu.” Anna yang tak terima berdiri dengan menatap tajam. “Terus, maunya apa?! Kamu mau kita terus begini. Hidup dalam status pernikahan tapi jelas kita hidup sendiri- sendiri?” “Aku tidak akan membiarkannya, lagi pula kamu harus bertanggungjawab.” “Hah?” Anna kira Adam sudah gila. Dia saja yang kehilangan ciuman pertama tidak sefrustasi itu. Satu yang dia sayangkan dia justru tak ingat rasa ciuman itu. Bagaimana rasanya berciuman saat sedang sadar. Haruskah dia melakukannya sebelum dia mati? Haruskan dia masukan itu ke daftar keinginannya? Meski dia memasukan kencan romantis bersama pria tampan ada di daftarnya tapi tidak sampai berciuman. Apalagi kalau Adam tak mau bercerai bisa- bisa keinginannya untuk kencan romantis juga gagal total. Anna bahkan berencana untuk menyewa pacar bayaran agar dia bisa melakukan kencan romantis, tapi kalau Adam tetap kukuh apa yang harus dia lakukan?! “Pokoknya aku mau cerai!” Anna hendak pergi saat ponselnya berbunyi begitupun ponsel Adam di atas meja. Keduanya membuka ponsel bersamaan. Jika Anna sebuah pesan, Adam justru menerima panggilan dari Reihan. Namun saat mendengar suara Reihan di seberang sana baik Anna dan Adam membelalakan matanya. “Pak, vidio Bu Anna di klub dan menari dengan banyak pria tersebar.” Sementara Anna merasa syok saat melihat dirinya dalam sebuah vidio tengah menari dengan empat pria yang mengelilinginya. Anna menoleh pada Adam masih dengan wajah pucatnya. …. Anna duduk dengan tak peduli di sofa sementara Adam nampak sedikit gelisah. Adam sudah meminta Reihan untuk menarik semua vidio yang beredar di media sosial agar nama Anna tak semakin tercemar. Tapi tetap saja mereka tak tahu siapa saja yang menyalin dan menyimpan vidio tersebut. Dan jalan satu-satunya adalah melakukan klarifikasi. Lain dengan Adam Anna justru nampak tenang. Meski dia menyesalkan tindakannya. Tapi selanjutnya Anna benar-benar tak peduli. Kenapa dia harus peduli? Dulu mungkin Anna akan selalu memperlihatkan tata krama, keanggunan dan sahaja seorang istri Adam Raid Wirayudha. Tapi sekarang Anna tak peduli. Lagi pula di akan mati. Tak ada yang membuatnya tertarik kecuali melakukan semua keinginannya. Apalagi jika dengan begitu Anna bisa bercerai dari Adam itu akan bagus. “Kamu masih bisa setenang itu?” “Memangnya kenapa?” Adam menatap kesal dengan mata tajam yang menghunus. “Kamu tidak peduli namamu tercemar?” “Aku sedikit kaget, soalnya aku juga gak inget aku kayak gitu. Tapi emang kenapa?” “Astaga Anna!” “Kenapa sih, repot banget. Kalau kamu gak mau nama kamu ikut tercemar kita cerai saja! Mudah, kan?” Adam memejamkan matanya berusaha tenang. “Gak peduli yang lain gak papa. Aku juga gak haus validasi. Tapi Anna apa kamu juga gak peduli perasaan Eyang?” Anna tertegun. “Apa yang akan Eyang pikirkan kalau kita bercerai. Atau dampak dari vidio yang tersebar. Kamu gak merasa bersalah buat Eyang sedih. Kamu cucu menantu pilihannya tapi mengecewakannya? Begitu cara kamu balas kebaikan Eyang—” Anna terdiam dengan tatapan kosong, dan Adam yang menyadari itu memilih menghentikan ucapannya. “Aku tidak bermaksud—” “Aku tahu.” Anna menunduk. Dia lupa dengan wanita tua yang tulus menyayanginya itu. “Permisi, Pak, Bu?” Anna dan Adam menoleh pada Reihan yang sejak tadi ada disana. Pria itu membawa laporan tentang Vidio yang tersebar. “Saya sudah pikirkan solusinya.” “Apa?” “Karena sudah beredar bahwa kepribadian Ibu yang nakal, jadi kita bisa menyangkal dengan kepribadian ibu sebagai istri yang baik.” Anna mencebik dan mendelik pada Adam. “Dari dulu juga sudah memerankan istri yang baik, istri ideal dan selalu anggun. Apa gunanya. Kalau itu dilakukan lagi justru akan terkesan menutupi gosip.” Adam menghela nafasnya. Jelas itu juga seperti sindiran untuk Adam, tapi Anna benar kalau itu di lakukan lagi justru akan membuat nama Anna menjadi jelek dan orang akan mengira selama ini mereka hanya berpura-pura dan menutupi sifat Anna sebelumnya. “Tapi biasanya tidak menunjukan keromantisan kan?” Anna dan Adam mengernyit. “Kita bisa melakukan hal yang lebih intens dari sebelumnya. Jika sebelumnya Ibu hanya tampil saat acara-acara resmi. Kali ini kalian bisa tampil dalam kencan romantis?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD