"Saya baru tahu kalau acara ini cuma ajang buat saling menghina?” Semua orang diam bahkan beberapa dari mereka tak berani menatap Adam.
“Nak, istri kamu sudah gak sopan, wajar kalau Mama minta dia minta maaf. Lagian istri datang pake pakaian kayak gitu kenapa kamu gak tegur? Apa lagi rambutnya.” Rima mulai menjelaskan.
“Kamu repot sekali mengurusi istriku?” Adam menarik pinggang Anna agar merapat ke arahnya, dan menatap Rima dengan dingin, lalu beralih pada tantenya yang mulai mengerutkan tubuhnya. “Kayanya Tante Mira senggang ya? Gimana kalau aku kasih Tante kerjaan lebih? Bantuin Om susun data keuangan dari dua tahun lalu? Dan jangan ada selisih angka seperti sebelumnya. Tante kira aku gak tahu apa yang suami Tante lakuin selama ini?” Mata wanita itu membelalak lalu menggeleng.
“G—ak, Dam. Lagian Tante cuma bercanda.”
“Bercanda tante keterlaluan. Lagi pula kenapa harus mencampuri urusan keluargaku?” Adam meraih tangan Anna lalu mengangkatnya ke udara. “Mulai sekarang kalau kalian mengganggu istriku, akan berurusan denganku!” Setelah itu Adam menarik Anna menjauh dan keluar dari rumah besar itu. Meninggalkan keterkejutan dimata semua orang terutama Rima yang tak menyangka jika Adam akan membela Anna, sebab dari yang dia tahu Adam tak pernah peduli dengan Anna sama sekali.
Anna menatap tangannya yang masih di genggam Adam. Pria itu menariknya pergi dengan langkah lebar membuat Anna kewalahan mengimbanginya. Dengan dahi yang masih mengernyit Anna menatap bingung punggung lebar Adam.
Ada apa dengan pria itu? Kenapa membelanya di depan semua orang. Sementara biasanya dia hanya akan acuh tak peduli, bahkan meski Rima mengejeknya.
Adam mendorong Anna dengan kasar memasuki mobilnya, lalu menghimpitnya hingga tubuh Anna hanya bisa mengkerut di sudut.
“Ma—u apa?” Anna bertanya dengan tergagap saat tubuhnya tak bergerak di bawah kuasa Adam.
“Kamu bilang aku tidak mampu, ya?” Tatapan Adam menelusuri tubuh Anna yang masih tak berdaya di bawahnya, membuat Anna memeluk dirinya demi menutupi bagian tubuhnya.
Pria itu mendengar ucapannya?
Adam mendengus menatap pada buah d**a yang kini ditutupi Anna. “Melihat kamu, aku gak selera.” Adam bangkit dan duduk dengan angkuh setelah merapikan jasnya.
Mata Anna melotot tajam, “Gak selera? Bilang aja kamu impoten dan gak mampu melakukannya. Takut malu karena gak bisa bikin aku puas?” Anna mendudukan dirinya dan merapikan gaunnya, namun saat ini dia justru terperanjat saat Adam kembali mengurungnya.
“Oh, Astaga!” Anna mengusap dadanya karena terkejut. “Gak bisa apa bicara yang normal!” Anna bahkan harus menahan d**a pria itu agar tidak terlalu menekannya.
Pria sialan! Kenapa juga jantungnya serasa ingin melompat. .
Anna mendorong Adam menjauh meski tubuh itu tidak bergeming sama sekali. Jangan sampai pria itu mendengar detakan jantungnya yang berdebar- debar saat ini.
“Seperti apapun aku, kamu pikir melihat kamu aku akan mau? Aku bukan pria yang hanya mengandalkan nafsu. Bahkan meski kamu telanjang sekalipun aku gak tertarik. Bukannya itu membuktikan kamu gak sehebat yang kamu katakan.”
Wajah Anna menjadi merah karena marah. Anna tahu alasan Adam tak menyentuhnya karena tidak mencintainya. Tapi bisakah pria itu jangan menghinanya.
Anna memalingkan wajahnya agar tak menampakan mata merah dan hampir menangis. Tidak! Sudah cukup semua tangisnya selama ini. Dia tidak akan pernah lagi menangisi pria menyebalkan ini.
….
Anna memasuki sebuah pusat perbelanjaan, di sana dia menemukan sahabatnya yang tengah menunggunya.
“Lia,” panggilnya dan dengan segera merangkul bahu Lia.
“Hai, kenapa nih, tumben ngajak belanja? Biasanya juga sayang uang. Bilang ‘kasihan suamiku kerja capek- capek masa aku hamburin uangnya’.”
Anna tersenyum. “Aku sadar kalau selama ini aku terlalu naif. Padahal suamiku kaya. Jadi sudah sewajarnya aku menikmatinya.”
Lia memicingkan matanya curiga. “Kenapa? Kamu ada masalah sama Pak Adam?”
Anna merangkul tangan Lia. “Karena besok aku mau kita liburan kita harus beli beberapa peralatan.”
“Ini juga, yang aneh. Sejak kapan kamu mau ikut liburan setiap aku ajak selalu bilang sibuk mengurusi Pak Adam. Anna, kamu terlalu memaksakan diri. Udah tahu Pak Adam gak suka kamu, sebaiknya kalian cerai deh.”
Lia benar, saking hafalnya dengan kisahnya yang selalu mengejar Adam dan tak pernah mendapat tanggapan, beberapa kali temannya itu menyarankannya bercerai.
Anna membawa Lia ke sebuah toko yang menyediakan alat-alat renang. Namun baru akan memilih baju renang Lia menahannya.
“Anna kemari!” Lia menariknya untuk duduk di sebuah sofa yang sengaja disediakan untuk para pengunjung toko. “Bukan apa- apa aku meminta kamu cerai sama Pak Adam. Dia itu pria yang dingin, gak peduli sama kamu setelah semua hal yang kamu lakuin buat dia—“ Anna tersenyum dan menepuk tangan Lia.
“Aku tahu. Aku selama ini memang bodoh. Dan aku udah putusin buat bercerai.”
Wajah Lia nampak antusias dengan senyum mengembang di bibirnya. “Beneran?” Anna mengangguk.
“Selama ini aku memang sangat bodoh. Masih bertahan dan menyiakan hidupku, sekarang aku mau melepaskan semuanya. Dan menjalani hidupku dengan baik.” Lia memeluk Anna membuat Anna tersenyum. Merasa temannya ini begitu tulus.
“Itu keputusan yang bagus.” Lia mendorong bahu Anna dengan pelan lalu menampakkan wajah murung. “Tapi ngomong- ngomong soal liburan kayaknya aku gak bisa.”
Anna mengerutkan keningnya. “Bukannya kita udah sepakat? Kamu bilang setuju.”
“Aku sibuk. Maaf.”
Anna menghela nafasnya. “Padahal aku mau ajak ke pantai di pulau A, disana kita bisa renang terus menyelam juga.”
Saat ini ponsel Lia berbunyi pertanda sebuah pesan masuk. Lia membuka tasnya dan mengeluarkan benda pipih tersebut. Saat pesan terbaca Lia tak bisa tak tersenyum.
“Dari siapa?” Anna melongokan wajahnya untuk melihat pesan tersebut, namun Lia dengan cepat menyembunyikannya.
“Bukan siapa-siapa, gak penting. Oh, ya … kalau ke pulau A aku gak bisa. Tapi gimana kalau kita ke villa King Queen?”
Anna mengerutkan keningnya, itu adalah villa milik keluarga Wirayudha. Villa yang luas dan memiliki arena pacuan kuda juga sarana tembak, lapangan golf, dan banyak lagi hiburan yang bisa mereka nikmati termasuk danau buatan yang indah. Villa yang memiliki banyak unit dan sengaja disewakan bagi para turis juga keluarga kaya yang sekedar ingin menikmati suasana sejuk dan asri.
“Bagaimana? Kita bisa ke pulau A saat liburan akhir tahun nanti?” tawar Lia lagi.
Anna menunduk. Akhir tahun masih empat bulan lagi, dan hidupnya mungkin tidak akan sampai akhir tahun. Padahal dia ingin pergi ke beberapa tempat lain setelah pergi ke pulau A nanti. Tapi, dia juga tak bisa egois, bagaimana kalau Lia memang benar-benar sibuk.
“Baiklah.”
Lia tersenyum. “Baiklah, ayo kita belanja. Apa saja yang kita perlukan disana.” Lia menarik Anna untuk melanjutkan niat mereka berbelanja. Lia mengikuti langkah Anna masih dengan senyuman, beberapa saat kemudian senyum itu berubah menjadi senyum sinis dengan mata yang memicing tajam.