" Anjani, tolong bawakan beberapa berkas yang harus Gerald tanda tangani ke rumah sakit ya" pesan Arini melalui panggilan teleponnya pada Anjani. " Baik Ma. Nanti saya titip ke Rivo." " Loh kok Rivo. Rivo harus stand by di kantor Jani. Dia harus mastiin kondisi Gerald tidak mempengaruhi proyek dia. Orang lain nggak boleh tahu kalau Gerald lagi kehilangan memori nya. Memorinya lagi jadi pengecut dan itu nggak baik untuk perusahaan." sindir Arini pada putra yang kini disuapinya. " Jangan lama ya. Ma--... Saya punya acara lain." Arini selalu keceplosan menyebut dirinya Mama pada Anjani. Anjani menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Kini setiap kali melihat Gerald ia akan menjadi marah. Padahal ia sangat merindukannya. Yah, mungkin karena ia sedang hamil muda. Hormonnya masi

