Merasa Juna Berbeda

1242 Words
Setelah pembicaraan itu selesai, Dita keluar dari kamar Jeno. Dia berjalan menuruni anak-anak tangga kemudian masuk ke dalam kamarnya. Lelah dengan pesta pertunangan yang menguras waktu dan emosi, Dita memutuskan untuk istirahat. Dia berbaring nyaman di atas tempat tidurnya dengan mata menatap langit-langit kamar. Dita mendesah lega karena acara pertunangannya berjalan dengan lancar, tinggal hitungan bulan dan dia akan segera sah menjadi Nyonya Juna. Sekali lagi Dita tersenyum samar, dia menutup wajahnya dengan selimut. "Rasanya tidak sabar ingin segera menjadi Nyonya Juna. Tapi kenapa sikap Juna sangat berubah setelah kami bertunangan? Apa ini yang dinamakan sindrom menjelang nikah?" Dita bergumam kecil pada dirinya sendiri, tanda tanya begitu banyak dalam pikirannya. Namun terlepas dari semua itu, Dita sangat bahagia. Gadis itu mencoba memejamkan matanya tetapi tidak bisa. Entahlah, sejak acara pertunangan berlangsung hatinya sakit dan sedih. Dia tidak tahu apa penyebabnya. Berharap itu kesedihan wajar yang dialami setiap wanita yang dilamar kekasihnya. Tidak dapat menutup mata, kedua netra itu terbuka lebar, kelopaknya naik dengan bulu mata mencuat ke atas. Gadis itu menaikan tangannya, menatap jari manis yang mengenakan cincin yang sangat indah dan manis. Dita terus menatapnya dengan bibir yang tidak bosan-bosannya tersenyum. "Cincin ini adalah simbol cinta kita, Sayang. Aku akan menjaga ini baik-baik, menjaga cinta kita seutuhnya," gumam Dita yang masih terhipnotis kecantikan cincin pemberian Juna. Ketika Dita sedang asyik-asyiknya melamun. Tiba-tiba saja Jeno masuk tanpa mengetuk pintu, tentu saja Dita terperanjat karenanya. Dia tidak mengerti kenapa Juna bertindak tidak sopan dengan masuk tanpa ketuk pintu. Dita pun menegurnya. "Kenapa kamu tidak mengetuk pintunya? Tidak biasanya kamu seperti ini?" tanya Dita yang lagi-lagi heran dengan kelakuan Juna. "Kamu itu tunangan ku. Apa harus seorang tunangan ketuk pintu saat masuk ke kamar tunangannya sendiri?" Jeno menatap, dia menunggu Dita menjawabnya. "Kita memang sudah bertunangan tetapi belum menikah. Bahkan ketika kita sudah menikah sekalipun, kamu harus tetap ketuk pintu. Itu adalah hal biasa yang dilakukan pria-pria sopan dan berbudi pekerti. "Maksud kamu, saya ini tidak sopan, gitu?" Jeno tidak terima dan meminta penjelasan Dita secepatnya. "Tidak tau, kamu pikir saja sendiri. Aku heran kenapa kamu seperti berbeda setelah kita tunangan. Seperti ini salah satunya, kamu tidak sopan dengan main nyelonong masuk kamar orang," protes Dita. "Mm, aku cuma mau kasih tahu jika aku akan keluar. Aku tidak mau kamu mencariku kemudian mengadu kepada orang tuaku," kata Jeno yang sudah tidak kerasan di dalam rumah. "Aku tidak akan cari-cari kamu. Jika kamu mencintaiku, tidak perlu dicari dan kamu datang sendiri," sahut Dita. "Bagus jika begitu," tanpa pamit dan salam Jeno keluar dari kamar Dita, meninggalkan gadis itu di dalam kamarnya. Terbebas dari rumah dan juga Dita, Jeno menyalakan mesin mobilnya. Dia yang suntuk dan biasa hidup di Amerika dengan gemerlap malam menjadi sangat bosan. Sudah jam 5 sore ketika Jeno meninggalkan Dita sendirian. Dia mengemudikan mobilnya ke arah rumah sakit lebih dulu, dia ingin menengok Juna, kakak kandungnya dari satu ayah satu ibu. Umur mereka hanya selisih 10 menit saja. Jeno terus melajukan mobilnya dengan cepat, menyusuri jalanan di pusat kota. Mengamati beberapa bangunan di tempat kota kelahirannya. Ini kali pertama Juna pulang ke Indonesia setelah beberapa tahun menghabiskan waktu di Amerika bersama sang nenek. "Kota ini cukup bagus. Suasananya sangat berbeda dengan Amerika. Hanya saja cuacanya begitu panas di negara ini," gumamnya. Tidak begitu lama mobil Jeno sampai di rumah sakit. Dia memarkir mobilnya kemudian turun dan berjalan masuk ke gedung rumah sakit. Dia ke arah lobby. Mendekati suster jaga untuk bertanya ruang perawatan kakaknya - Juna Artama. Ternyata kakaknya dirawat di ruang VVIP nomor 77 lantai tiga. Segera Jeno masuk kedalam lift menuju kamar perawatan kakaknya. Pintu lift terbuka, Jeno berjalan gagah menyusuri koridor rumah sakit untuk mencari kamar Juna. Akhirnya ketemu juga, Jeno segera masuk tanpa mengetuk pintunya. Pak Artama dan Ibu Diana menoleh ke arah Jeno. Terlebih Ibu Diana yang khawatir dengan keadaan Jeno. "Sayang, bagaimana keadaan kamu, um?" "Aku pegal harus menjadi Juna, Ma. Gadis itu cerewet, nyebelin. Aku tidak tau kenapa Juna menyukai gadis sejelek itu," cibirnya. "Jeno, kamu jangan begitu sayang. Mama tau ini berat untuk kamu, tapi lihat keadaan kakakmu - Juna." "Iya, Jeno. Benar kata mama kamu, kamu harus ikhlas membatu kakak kamu, Juna." Pak Artama menimpalinya. "Iya papa, mama. Oya, bagaimana keadaan Kak Juna. Apa lukanya benar-benar serius sampai Kak Juna mengalami koma?" Kali ini Jeno bertanya serius tentang kakaknya. Seperti apapun sikapnya, Jeno tetap memperhatikan keadaan saudaranya. "Kakak kamu mengalami pendarahan otak yang membuatnya harus terbaring koma di ranjang rumah sakit." Ibu Diana sangat sedih, dia menoleh ke arah tubuh putranya yang terbaring tidak bergerak. Hanya bernafas namun tidak pernah membuka mata atau menggerakkan anggota tubuhnya. "Mama tenang ya, Ma. Jeno yakin Kak Juna akan baik-baik saja. Kak Juna adalah seseorang yang kuat, dia mampu melewatinya," ujar Jeno. Setelah dari rumah sakit, Jeno kembali ke mobilnya. Dia menyalakan mesin mobil kemudian meluncur pergi. Tidak terasa waktu sudah malam saat itu, merasa suntuk Jeno pergi ke Dragonfly untuk bersantai dan minum-minum di bar. Sudah menjadi kebiasaannya di Amerika. Mobil masih melaju ke arah Dragonfly. Tempat dimana ada banyak wanita cantik dan juga DJ. seksi. Tidak lama Jeno sampai di club elit itu. Dia turun dari mobil kemudian masuk ke dalamnya. Jeno yang baru datang ke tempat itu merasa takjub dengan suasananya. Tempat itu begitu nyaman dan meriah. Suara musik dengan gerakan tubuh seorang DJ cantik, tarian orang dan musik yang segar membuat Jeno menikmatinya. Jeno meninggalkan meja bar. Dia turun dan berjoget dengan seluruh kegilaannya. Hari sudah larut malam ketika Jeno memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Jeno yang kesadarannya mulai tipis bahkan tidak tahu lagi dimana dia memarkir mobilnya? Semua tampak blur di penglihatannya. Dia meraba-raba dan menemukannya lalu setelah itu masuk kedalam mobilnya. Jeno yang sedang mabuk sesekali akan menyerempet seorang pengendara motor. Dia menjadi kaget, laju mobilnya menjadi tidak seimbang. Jeno masih menyetir dalam keadaan mabuk, dia menyetir asal dan tidak perduli apapun lagi, tentu saja karena kesadarannya sudah menipis saat itu. Tidak lama Jeno sampai di rumahnya. Dia memarkir mobil kemudian menekan bel-nya. Lama menunggu karena sudah larut malam, Jeno kembali menekan lagi. Segera pintu dibuka dan ternyata itu adalah Dita. Gadis itu membelalak kaget, lagi-lagi Dita dikejutkan fakta aneh tentang kekasihnya. Dia yang kenal Juna sedari kecil, tidak pernah tau jika pria itu minum minuman beralkohol. Tubuh Jeno terjatuh mabuk di depan tubuh Dita. Gadis itu hampir jatuh menahan beratnya badan Jeno. "Juna, kamu kenapa? Kenapa kamu jadi seperti ini? Kenapa kamu minum-minum tidak jelas." Dita cemas dan marah. Dia tau harus bagaimana lagi menghadapi sikap Juna. Seluruh pertanyaan menghujaninya. Dia seperti tidak mengenal Juna dengan baik selama ini. Pikirannya, penuh tanda tanya. Tetapi Jeno tidak juga bangun, dia hanya terus memeluk Dita dan tidak melepaskannya. "Juna, lepaskan! Kamu mabuk juna." Dita menggerutu. "Aku tidak mabuk, siapa bilang mabuk?" "Tidak ada orang mabuk yang mengaku dirinya mabuk. Kamu kenapa Juna? Kenapa kamu berubah seperti ini? Jika aku tahu pertunangan kita akan membuatmu berubah seperti ini, lebih baik kita tidak bertunangan." Dita yang baik hati, di tengah-tengah kemarahannya gadis itu masih bersedia memapah Juna masuk ke dalam kamar. Tubuh Jeno yang berat membuat Dita kewalahan, segera dia jatuhkan tubuh Jeno ke atas tempat tidur. Pria itu nyaman-nyaman saja menerima perlakuan Dita padanya. Dita yang sudah meletakan tubuh Jeno merasa lebih tenang. Dia menghela nafas lega dan panjang. Merasa tugasnya selesai malam itu, Dita bergegas untuk pergi lagi namun tiba-tiba sebuah tangan meraihnya, tangan itu sangat kuat mencengkram pergelangannya. "Juna, lepas! Kamu apa-apaan?!" Dita panik ketika Juna menahannya pergi dari kamar itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD