Memulai untuk Hidup yang baru

1322 Words
“Oi Rael, kusarankan kau mencari pekerjaan atau sesuatu hal yang bisa kau kerjakan. Sepanjang hari dirumah mengurung diri dikamar dan tidak kemana-mana selain membeli sabun cuci dan peralatan mandi, Itupun hanya sebulan sekali saja momennya. Apa kau tidak jenuh?.” Tanya Razzak pada sepupunya itu. “Hah, ceramahmu tidak ada yang lain? Setiap hari selalu itu saja yang kau bilang.” Jawab Rael sambil menguap dan masih berbaring diatas kasurnya sambil menonton TV. “Ayolah, mulai sekarang belajarlah jadi manusia. Sudah sekian lama kau tidak pernah keluar. Aku mengerti soal trauma dan ketakutanmu. Tetapi kalau begini terus juga bukannya bagus, malah kau terlihat seperti manusia yang tak punya kehidupan. Kalau sudah begitu lebih baik tidak usah hidup sekalian. Bukankah pada akhirnya kau bisa terbebas? Jadi mulai sekarang ayo nikmatilah hidupmu dan jalani kehidupan Normal seperti manusia pada umunya.” Razzakh tak menyerah untuk menceramahi sepupunya itu. Genap sudah 4bulan Razzakh menceramahi Rael setiap harinya agar sepupunya itu punya semangat untuk kembali menjalani kehidupan manusia Normal. “Yalah yalah. Besok aku akan mulai keluar rumah dan mencari pekerjaan. Sudah? Kau senang? Sekarang kau lebih baik pulang saja jika masih ingin mengomel.” Jawab Rael yang akhirnya menuruti nasehat Razzakh meski terpaksa. “Yasudah, aku harus kembali ke Gerai. Ada meeting dan penyuluhan untuk para karyawan.” “Ya, itu lebih bagus. Pergilah. Jadilah bos yang baik.” “Cih, dasar kau. Yasudah, itu bir pesananmu ku letakkan disamping kulkas. Nanti kau masukkan saja sendiri.” Razzakh pun pergi beranjak dari rumah Rael. .. Keesokan Harinya Rael benar-benar bersiap-siap rapi memakai kemeja dan ia benar-benar ingin mencari pekerjaan. “Hah, hari yang membosankan dimulai.” Ucap Rael. Ia keliling berjalan kaki dan berharap bisa mendapat kerjaan yang tempatnya tidak jauh dari rumah. Ia sangat pelit dengan tenaga dan tergolong hemat energi dan minim pergerakan. Di tempat pertama ia melamar menajdi penjaga toko dan ia ditolak dengan alasan ia tidak memiliki bakat dalam hal promosi. Namun ditempat kedua di sebuah Cafe yang bernama Cafe astoria ia diterima menjadi pelayan. Ia pun sudah bisa memulai debut kerjanya besok. Keesokan harinya ia datang dan mulai bekerja, tetapi ia merasa sedikit kesulitan karena ini pengalaman pertamanya menjadi pelayan cafe. Belum lagi ia dintuntut harus ramah dan murah senyum, itu sungguh sangat bertolak belakang degan dirinya. “Hey Rael, kalau menyapa pelanggan ataupun ngantar pesanan mereka kau harus senyum dan ramah.” Ucap Selvi, seorag Wanita berusia 24tahun yang sudah 4tahun bekerja di cafe itu. “Oh..iya.” jawab Rael singkat. “Ahaha, tidak usah kaku begitu kawan. Santai saja, jangan memberikan tatapanmu yang seram itu pada pelanggan. Nanti mereka pada takut mau makan disini lagi. Ahehehe.. “ Ujar John lelaki berusia 26tahun yang bekerja di bagian dapur. “Oh, iya-iya.” “Hah, ternyata menjadi pelayan Cafe itu merepotkan.”- Sudah genap seminggu Rael bekerja di Cafe itu dan semuanya tampak tidak ada kendala yang berarti. Beberapa orang pun mulai dekat dengannya dan sering berinteraksi dengannya, meskipun seperti biasa Rael hanya menaggapi mereka seadanya saja. “Bagaimana Rael? Apakah kau merasa betah kerja disini.” Tanya Selvi. “Oh, ya kurang lebih.” “Hmm, kau ini selalu saja jutek. Oh iya, besok hari liburmu, kau sebaiknya laporan dulu ke Sarah sana.” “Sarah? Siapa itu?” Tanya Rael dengan wajah yang agak bingung. “Ya ampun, kau ini. Kau sudah seminggu bekerja disini tetap kau masih belum tahu juga nama-nama rekan kerjamu? Sepertinya kau harus di beri pelajaran.” “Mau bagaimana lagi? Aku memang tidak tahu siapa dan yang mana orang yang bernama Sarah itu.” “Itu..tuh! Yang cantik langsing kayak model yang jadi kasir kita. Dia Sarah, kurasa dia mirip sepertimu. Kalian sama-sama berwajah datar dan hampir tak pernah senyum.” “..?? O..oh, iya. baiklah kalau gitu.” Tanpa basa-basi Rael langsung pergi meninggalkan Selvi dan menuju kasir untuk mengkonfirmasi Hari liburnya kepada Kasir. “Dasar anak itu. Orang belum siap ngomong, dianya malah main pergi aja.” Gumam Selvi yang kesal melihat sifat Rael. .. Rael pun berhadapan dengan Sarah didepan Konter pembayaran. “Anu, besok aku libur.” Ucap Rael tanpa basa basi lagi. Sarah pun jadi ikut bengong dan heran dengan sikap Rael itu. “Iya? Lalu?” Jawab Sarah dengan datar. “Itu saja. Aku disuruh melapor kesini.” “Oh, baiklah.” “Oke.” Rael pun pergi begitu saja meninggalkan Sarah. “Haa?! Orang ini? Yang benar saja!. Menjengkelkan sekali, dasar songong.” Batin Sarah yang kesal. .. “Yow Bro Rael, kau besok libur ya?” Tanya John yang tiba-tiba mengajak Rael mengobrol. “Iya. Kenapa ?” “Ha, besok aku kan pulang sore. Bagaimana kalau kita nongkrong bersama?. He?He? Gimana? Gimana?. Kau mau kan?. Kita bisa cuci mata di dekat Cafe Anggrek yang di dekat Taman itu. Disana banyak sekali cewek yang datang dan berfoto-foto serta berkumpul. Pasti kau akan ketagihan jika sekali saja kesana, banyak cewek-cewek cantik dan bohay-bohay. Gimana gimana Bro Rael?.” John sepertinya berusaha membangung hubungan yang lebih dekat dengan Rael. Karena John sering memperhatikan Rael yang sepertinya John menyadari kalau Rael sangat jarang berinteraksi dengan orang lain. “Oh, makasih. Tapi aku tidak mau. Kau bisa pergi saja sendiri tanpa aku.” Rael pun langsung pergi meninggalkan John begitu saja. Begitulah sifat Rael terhadap orang-orang. Bukan ia sengaja, tetapi ia sudah terbiasa dengan hal yang pokok. Jadi menurutnya inti dari percakapan itulah yang paling penting, bukan cara penyampaiannya meskipun sebagian besar orang tidak setuju dengan cara Rael bersikap. “Ya?.. Yasudah kalau begitu. Mungkin lain kali saja ya.” Ujar John yang berbicara pada Rael namun Rael sudah balik badan dan pergi. Entah Rael mendengar John atau tidak. Rael pun pergi mengambil Jaketnya lalu bergegas pulang, tanpa tegur sapa ataupun berpamitan. Sikapnya yang seperti itu membuat dia dicap sebagai karyawan paling songong di Cafe itu. “Hah, sulit sekali mendekati anak itu. Dasar, sepertinya dia anti-sosial. Aku jadi prihatin padanya.” Ujar John yang melihat ke arah Rael yang berjalan meninggalkan Cafe. “Kurasa dia bukan hanya anti sosial, tetapi sepertinya dia juga tidak pandai bergaul.” Tambah Selvi. “Hah, semoga dia cepat sadar.” .. Hari itu pun terlewat digantikan dengan Hari berikutnya. Di hari Jum’at siang yang tenang namun cuacanya cukup panas, Rael yang terlihat masih saja rebah di kasurnya. Namun ia baru ingat kalau ia harus belanja untuk keperluan bulanan, dan dengan berat hati iya terpaksa bangun dari tidurnya yang nyaman. Rael sejenak merenung dan akhirnya ia bangun dari ranjangnya dan bersiap-siap untuk mandi dan berpakaian. Kurang dari 30menit ia pun sudah selesai mandi dan sudah berpakaian santai. Rael kali ini akan keluar rumah karena ini akhir bulan, seperti biasa ia akan ke toserba untuk berbelanja keperluan rumah. “Panas sekali hari ini. Seharusnya aku tadi minta layanan antar ke rumah saja.” Gumam Rael yang terlihat sedang berjalan kaki menuju Toserba yang tak jauh dari rumahnya. Sesampainya disana ia pun melihat ada promo menarik yang diadakan tiap bulan di toserba itu. tidak berlama-lama, ia pun membeli banyak cemilan dan makanan kalengan untuk stok kebutuhan hariannya. Lalu ia pun menuju kasir untuk membayar. “Ini saja kak? Ada tambahan lain?” ucap seorang kasir Cantik yang baru pertama kali dilihat Rael. Rael terpaku dan terdiam karena fokus melihat wajah Kasir itu. “Kak?. Hello?..” Kasir pun mencoba menyadarkan Rael yang sedang bengong menatap ke arahnya. “Ah..aa.. iya tolong rokoknya MarlXYZ nya dua bungkus.” “Baik, totalnya jadi 240ribu ya kak.” “Ah, iya..” “Ini kembaliannya. Terimakasih dan silahkan datang berbelanja lagi ya.” Ucap Kasir dengan semboyannya saat setelah menyelesaikan transaksi dengan customer. Namun belum sempat kasir itu selesai bicara, Rael tiba-tiba sudah pergi dari sana dengan tergesa-gesa. .. “Sial..siaal. Kenapa aku malah terbengong melihat wajahnya? Memalukan sekali. siaall!. Kenapa aku tidak mati saja?” kata Rael dalam hati yang merasa kejadian tadi memalukan baginya. Seolah harga dirinya tercoreng karena bisa sampai terpesona dengan sesuatu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD