Bab 5 - Cabin Crew Upgrade Training

1687 Words
Seruni's PoV Patah hati tak membuat semangatku hilang untuk meraih sesuatu yang memang aku impikan, naik tingkat ke penerbangan internasional. Sedih memang dikhianati oleh kedua orang yang terdekat, akan tetapi hidup harus terus berjalan. Apa lagi, aku adalah anak pertama yang tak boleh terlihat lemah hanya karena cinta. Ada adikku yang masih membutuhkanku—banyak hal lain yang harus aku pikirkan ke depannya, tak boleh stuck pada sesuatu yang telah menyakitiku itu. Email yang masuk pada pagi hari ini membuat jantungku berdebar lebih cepat. Subject: International Cabin Crew Upgrade Training. Tanganku sampai berhenti menggulir layar ponsel. Berkali-kali aku membaca isi email tersebut untuk memastikan diriku tidak salah baca. Aku memang telah menerima tawaran tersebut sebelumnya, tapi tetap saja ada penilaian lain, sebelum memulai upgrade training. Selamat. Berdasarkan hasil evaluasi performa, disiplin kerja, jam terbang, serta rekomendasi dari inflight supervisor, Anda dinyatakan lolos seleksi tahap administrasi untuk mengikuti International Cabin Crew Upgrade Training. Sudut bibirku perlahan terangkat. Merasa bangga atas diri sendiri dan juga terharu, perjuangan selama 5 tahunan sebagai pramugari domestik akhirnya membuahkan hasil. Yang aku pikir awalnya hanya akan terbang di dalam negeri saja. Aku menutup mata sejenak. Membayangkan banyak hal telah aku lalui, mulai dari training hingga lulus. Dan setelah resmi menjadi pramugari, ladang aku harus bangun jam 2 pagi untuk penerbangan awal, delay berjam-jam karena kondisi cuaca yang tak kondusif atau pesawat yang sedang bermasalah, lalu ditambah lagi penumpang yang marah tanpa alasan, hingga penerbangan penuh turbulensi. Perjalanan panjang yang ada pahit manisnya, tak sia-sia semua itu. Senang tentunya dipercaya untuk naik ke kelas yang lebih tinggi dari sebelumnya. Upgrade training ini bukan sekadar pelatihan biasa. Banyak peserta yang gagal dan harus kembali terbang di rute domestik sampai ada kesempatan berikutnya. Tidak mudah, tapi aku aku berusaha keras untuk itu. Seulas senyuman mengembang di bibirku, orang tuaku di sana pasti akan ikut senang melihatku saat ini. Tak apa gagal perihal asmara, asalkan rezeki dan segala urusanku lainnya dilancarkan. Layar ponselku menyala dan menampilkan nama Vania di sana. Satu-satunya teman yang bisa aku percaya saat ini adalah perempuan itu. Dia terlihat tulus, hanya saja memang aku belum bisa rasanya bercerita mengenai apa yang aku alami. Mungkin suatu saat nanti. "Ya, Van?" "Run, lo kapan jadinya mulai training? Eh, udah lulus administrasi, 'kan? Udah apa belum, sih?" "Udah, Van. Baru pagi ini dan infonya mulai training 2 minggu lagi. "Dua minggu lagi, ya? Gue ikut senang dengarnya, Run. Tapi, sedihnya, lo enggak bisa hadir di acara lamaran gue." Aku menepuk jidatku. Duh, iya. Baru ingat jika Vania akan lamaran. Dia sudah resign, hanya fokus pada usaha cafenya saja dan rencana pernikahannya. "Gue izin libur deh!" "Jangan!" sahut Vania cepat. "Lo harus fokus training aja, jangan sampai enggak mengikuti walau cuma sehari aja. Kan penilaiannya itu dari berbagai macam aspek. Jangan sampai lo gagal cuma karena datang ke acara lamaran gue. Enggak apa-apa, gue minta do'anya aja supaya lancar acara gue." Vania ada benarnya. Mengikuti training bukan berarti bisa langsung lolos, tentunya ada penilaian saat training berlangsung. "Maaf ya, Van? Yap... gue pasti do'ain acaranya berjalan lancar. Lo dan captain Tama dijauhkan dari hal-hal buruk, dilancarkan jalan kalian menuju pernikahan nanti." "Aamiin. Nanti kalau ada waktu, kita meet up sebelum lo mulai training, ya?" "Iya." "Run... " "Hmmm?" "Lo ada yang mau diceritain sama gue, ya?" Aku mengernyit. "Kenapa nanya gitu?" "Enggak kenapa-napa. Ingat lo sedih aja waktu itu, yang lo bilang inget orang tua lo. Run, kalau ada apa pun, jangan sungkan utuk cerita sama gue. Walau mungkin gue enggak bisa membantu, setidaknya beban lo akan berkurang saat berbagi cerita." "Iya, Van. Thank you. Nanti gue akan cerita." Nanti... nanti aku akan bercerita jika merasa harus, tidak untuk saat ini. *** Seminggu pertama mengikuti International Cabin Crew Upgrade Training terasa jauh lebih panjang dari yang kubayangkan. Pengalaman 5 tahun sebagai pramugari domestik ternyata tidak membuatku lebih unggul dibanding peserta lain. Justru sejak hari pertama, aku merasa seperti kembali menjadi seorang trainee yang baru mengenakan seragam untuk pertama kalinya. Semua kebiasaan yang selama ini kulakukan seolah dihapus, lalu diganti dengan standar baru yang jauh lebih tinggi. Setiap pagi kami diwajibkan sudah berada di ruang pelatihan 30 menit sebelum kelas dimulai. Satu per satu penampilan kami diperiksa oleh instruktur. Mulai dari sanggul yang harus benar-benar rapi, scarf yang tidak boleh bergeser sedikit pun, make-up yang sesuai standar perusahaan, hingga sepatu yang harus bersih dan mengilap. Tidak ada toleransi untuk hal-hal kecil. Bahkan ketika posisi scarf-ku sedikit miring, instruktur langsung memintaku merapikannya sebelum aku diperbolehkan masuk ke kelas. "Mulai hari ini, anggap kalian belum pernah menjadi awak kabin," ucap salah seorang instruktur dengan suara tegas saat membuka sesi pertama. "Pengalaman memang penting, tetapi pengalaman tidak boleh membuat kalian merasa sudah cukup tahu. Di sini kalian akan belajar memenuhi standar penerbangan internasional." Kalimat itu terus terngiang di kepalaku sepanjang minggu. Materi pertama membahas standar pelayanan internasional. Awalnya kupikir pelayanan yang selama ini kulakukan sudah cukup baik. Aku terbiasa menyapa penumpang dengan ramah, membantu mereka menyimpan bagasi, dan berusaha memenuhi kebutuhan mereka selama penerbangan. Namun ternyata, pelayanan internasional tidak hanya dinilai dari keramahan. Cara berdiri, arah pandangan mata, posisi tangan, intonasi suara, hingga jeda saat berbicara semuanya memiliki standar yang harus dipatuhi. Kami diminta melakukan simulasi menghadapi berbagai karakter penumpang. Saat giliranku tiba, seorang instruktur berperan sebagai penumpang yang marah karena kursinya berubah. "Maaf, Pak. Izinkan saya memeriksa terlebih dahulu agar saya bisa membantu mencarikan solusi terbaik," kataku berusaha tetap tenang. "Berhenti." Suara instruktur lain menghentikan simulasi. "Kalimatmu sudah tepat," ujarnya sambil menatapku. "Tapi ekspresimu masih terlihat gugup. Penumpang bisa merasakan kepanikan hanya dari raut wajahmu. Senyummu juga belum natural." Aku mengangguk pelan. Aku sadar bahwa aku memang agak gugup barusan. "Coba ulangi." Aku mengulanginya lagi, dan lagi, hingga akhirnya instruktur menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa caraku melayani sudah sesuai. Di hari berikutnya, kami mulai memasuki kelas komunikasi berbahasa Inggris. Selama ini aku cukup sering menggunakan bahasa Inggris untuk melayani wisatawan asing di penerbangan domestik, tetapi ternyata standar komunikasi di penerbangan internasional jauh lebih kompleks. Kami harus mampu memberikan safety announcement, menjelaskan prosedur keselamatan, menangani keluhan penumpang, hingga menghadapi situasi darurat menggunakan bahasa Inggris yang jelas dan mudah dipahami. Ketika diminta memperagakan safety announcement, aku sempat beberapa kali dihentikan karena pelafalanku dianggap kurang tepat. Aku kembali mengulang setiap kalimat hingga pengucapannya benar-benar sesuai standar. Menjelang pertengahan minggu, kami memasuki sesi praktik di mock-up cabin, ruangan simulasi yang dibuat menyerupai kabin pesawat berbadan lebar. Di sanalah aku benar-benar merasakan tekanan yang sesungguhnya. Instruktur sengaja menciptakan berbagai situasi dalam waktu bersamaan. Ada penumpang yang membawa bagasi melebihi kapasitas, ada yang meminta pindah kursi, ada yang mengeluhkan makanan, bahkan ada yang berpura-pura tidak bisa berbahasa Inggris. Kami dituntut mengambil keputusan dengan cepat tanpa kehilangan sikap profesional. Belum selesai membantu seorang penumpang menyimpan koper, instruktur lain memanggilku. "Cabin crew, penumpang di 14A mengeluh pusing." Aku segera menghampiri. Baru beberapa langkah, terdengar lagi suara lain. "Penumpang di baris depan meminta bantuan." Semua berlangsung begitu cepat. Aku harus membagi fokus, menentukan prioritas, sekaligus tetap menjaga ekspresi agar terlihat tenang. Setelah simulasi selesai, kami kembali menerima evaluasi. "Prosedurmu sudah benar," kata instruktur. "Namun setelah membantu penumpang menyimpan bagasi, kamu lupa mengucapkan terima kasih. Detail sekecil itu tetap menjadi bagian dari penilaian." Aku hanya bisa mengangguk sambil mencatat semua masukan yang diberikan. Semakin banyak materi yang kami pelajari, semakin kusadari bahwa menjadi awak kabin internasional bukan hanya tentang jam terbang atau kemampuan berbicara dalam bahasa asing. Yang dinilai adalah konsistensi dalam memberikan pelayanan terbaik, bahkan pada hal-hal yang sering dianggap sepele. Menjelang akhir minggu, rasa lelah mulai terasa. Betisku pegal karena hampir seharian berdiri. Bahuku kaku akibat terus membawa modul dan perlengkapan praktik. Seusai kelas, aku biasanya langsung kembali ke asrama untuk mandi sebelum melanjutkan belajar hingga larut malam. Sore ini, ketika baru saja tiba di lobi asrama, petugas resepsionis memanggil namaku. "Mbak Seruni?" Aku menghentikan langkah, menoleh ke arah resepsionis tersebut. "Ada titipan." Aku mengernyit. Aku pun melangkah mendekat ke meja resepsionis. Petugas tersebut terlihat mengeluarkan paper bag dengan di depannya tertera logo sebuah restoran yang cukup terkenal. Aroma makanan hangat langsung tercium bahkan sebelum kantong itu kubuka. "Dari siapa, Mbak?" "Enggak ada nama pengirimnya, Mbak. Tapi, itu ada tulisan di kartunya." Aku mengangguk. Aku meraih paper bag tersebut, lalu mengambil kartu kecil yang tergantung pada talinya. Jangan sampai telat makan. Berusaha keras boleh, tapi pola makan tetap dijaga. Semangat cantiknya aku!! Ur secret admirer, L Aku geleng-geleng kepala. Entah siapa inisial 'L' itu. Ini kali kedua aku menerima makanan, setelah sebelumnya dia mengirim ke rumah. Dia yang entah siapa, menggunakan akun anonim pada media sosial dan mengirimiku pesan sesekali. Tak hanya melalui media sosial juga, dia juga mengirimiku pesan pasa salah satu aplikasi chat. Lelaki itu tidak menyerah walau aku tak respon pesan-pesan yang dia kirimkan. Aku tahu, itu bukan Mas Malik. Tapi ada seseorang lain yang tahu tentang ceritaku dan Mas Malik, tak hanya tentang aktivitasku saja. Dia memintaku untuk risih, katanya tak bermaksud jahat. Hanya ingin mendekatiku perlahan, telah mengagumiku sejak setahunan yang lalu. Ada-ada saja, perempuan keras kepala sepertiku ini, kok bisa-bisanya dikagumi? "Wah, dapat kiriman makanan dari ayang ya, Run?" tanya salah satu trainee juga yang sekamar denganku. Aku menggeleng dan tersenyum tipis. "Bukan. Mau nggak?" "Mau lah!" Via, perempuan yang wajahnya mirip orang timur tengah itu mengangguk. "Makanan mahal itu, ya mau gue." Aku terkekeh. "Ya udah, nanti makan bareng di kamar." Sayang-sayang juga makanan dibuang. Kalau katanya Endang, rezeki tak boleh ditolak walau berupa makanan. Lagi juga, aman-aman saja setelah memakan pemberian yang entah dari siapa itu. Baru saja tiba di dalam kamar asrama, aku mengeluarkan ponsel dari dalam laci dan menyalakannya. Ada pesan masuk dari nomor yang belakangan ini cukup sering menghubungiku. 08129796xxxx Aku kirimkan makanan untuk kamu. Semangat terus trainingnya! Perempuan hebat, I’m proud of you :) Jangan bosan ke depannya kalau sering diperhatikan atau mendapatkan hal-hal kecil dariku. Aku tau kamu bisa melakukan apa pun sendiri, mendapatkan apa yang kamu inginkan. Tapi, tolong biarkan aku ini masuk ke dalam kehidupanmu untuk menemani setiap langkahmu. Barangkali, kamu membutuhkan sosok sepertiku ini hehehe Like u 99%, karena kesempurnaan itu cuma milik Tuhan. Sudut bibirku terangkat, lalu menggelengkan kepala. Bisa-bisanya aku tersenyum membaca pesan random yang entah dari siapa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD