ENAM

1203 Words
Sebelum jam pelajaran berakhir, Miss Jane memberi tugas kepada para siswa untuk membuat sebuah artikel berbahasa Inggris dengan tema World Icon’s. Setiap siswa harus menulis tentang sesuatu yang menjadi ikon di suatu negara. Athena memutuskan untuk menulis tentang Parthenon. Parthenon adalah sebuah kuil yang terletak di Kota Athena, Yunani. Dahulu kala saat Yunani tunduk dalam kekuasaan Turki Utsmani, Parthanon pernah difungsikan menjadi masjid yang megah selama dua ratus tahun. Kini selain dijadikan simbol kejayaan dewa-dewa dalam mitos Yunani, Pemerintah Turki juga menjadikan Parthenon sebagai ikon wisata Yunani. Saat jam istirahat Athena mengajak Dean ke perpustakaan guna menambah referensi dalam menulis artikel. Dean sendiri belum tahu ingin menulis tentang apa, ia berharap bisa mendapat inspirasi saat di perpustakaan nanti. Sebenarnya Athena dan Dean bukan tipe anak yang suka pergi ke perpustakaan, apalagi harus lama-lama berdiam diri di sana. Namun demi tugas yang diberikan oleh Miss Jane keduanya rela mengorbankan jam istirahat. Miss Jane memang terkenal objektif dalam memberi penilaian. Ia tidak segan-segan memberikan nilai di bawah KKM pada siswa yang tidak mengerjakan tugasnya dengan baik. “Gue yakin cuma kita doang nih yang jam istirahat gini pergi ke perpus.” Ucap Athena. “Iya lah. Siapa juga orang yang mau ngabisin waktu santainya dengan baca buku. Udah mumet ya kan berjam-jam belajar di kelas.” Balas Dean. Athena mengangguk setuju. Begitu keduanya membuka pintu perpustakaan, kesan pertama yang di dapat adalah dingin dan sunyi. Seperti karakter seseorang, batin Athena. Sejauh ini mereka berdua hanya melihat dua pustakawan, yang satu sedang menginput data di komputer, dan yang satunya lagi sedang merapikan buku di rak depan. Tidak ada pengunjung. Tidak ada siswa. Sampai akhirnya Athena pergi ke bagian rak buku yang berisi sejarah negara-negara di Eropa bagian tenggara. Rak tersebut berada di paling belakang ruangan. Athena nyaris menjatuhkan buku yang sedang dipegangnya saat tahu ada seseorang yang duduk di pojok. Athena berpikir itu adalah penampakan, seperti misalnya sosok hantu penasaran penunggu sekolah yang dulunya adalah seorang siswa di sekolahnya. Athena berpikir begitu karena sosok tersebut mengenakan seragam yang sama seperti dirinya. Wajah sosok itu tidak terlihat karena tertutup buku yang sedang dibacanya. Ragu-ragu Athena menghampiri sosok itu setelah memastikan bahwa kakinya napak atau menyentuh lantai. Saat itu yang Athena bayangkan kalau memang itu adalah hantu setidaknya ia tidak lagi dibuat penasaran dengan wajah dari hantu tersebut. Syukur-syukur kalau ternyata dia bukan hantu. Kini jarak Athena dan sosok tersebut semakin dekat. Sebelum mengucapkan kalimat salam, sosok itu sudah lebih dulu menyadari kehadiran Athena. Saat ia menutup buku dan menunjukkan wajahnya, Athena menghembuskan napas lega. “Archen! Bikin kaget aja deh.” “Lo pikir gue hantu?” Athena mengendikkan bahu, “Habis ngapain coba duduk sendirian di pojok gitu.” “Kebanyakan khayal sih hidup lo.” Archen kembali membaca sebuah buku yang sejak tadi sedang ia baca. Itu adalah buku terjemahan yang ditulis oleh Mark Manson dengan judul “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat.” Secara sederhana inti dari buku tersebut adalah mengajak para pembacanya untuk lebih santai dalam menjalani hidup. Setiap orang mempunyai hak untuk bahagia. Untuk itu, maka tidak salah kalau seseorang harus memilah-milah mana hal yang penting untuk dipikirkan, mana yang tidak penting dan wajib untuk diabaikan. Dengan begitu, hidup akan terasa lebih ringan. Tidak ada beban. Athena menduduki kursi yang ada di hadapan Archen, “Gak salah seorang Archen baca buku begituan?” “Kenapa?” “Lo kan manusia paling cuek di muka bumi. Gue yakin sikap bodo amat lo udah melebihi apa yang disampaikan dalam buku itu.” Archen tidak menghiraukan perkataan Athena. Lelaki itu masih sibuk membaca buku. Lembar demi lembar ia selesaikan. Jujur, Athena sangat terkejut melihat Archen cepat sekali dalam membaca. Sementara dirinya, baru baca buku dua lembar saja rasa kantuk sudah datang menghampiri. Dan ujung-ujungnya… yap buku ditutup dan Athena akan tertidur dalam hitungan detik. Athena benar-benar bosan, ia tidak sanggup untuk tidak berbicara. “Archen, gue boleh minta nomor handphone lo ga?” “Gue gak punya handphone.” “Bohong banget, emangnya lo manusia purba?” “Lagian kalau gue punya handphone, gue gak akan kasih nomor handphone ke sembarang orang.” “Jadi maksud lo gue orang sembarangan??” Archen tidak menjawab, ia hanya mengangkat satu alis sebagai tanda bahwa di belakang Athena ada orang lain. “Na, ayo ke kantin, gue udah laper banget nih.” Ucap Dean. “Ih bentar, gue belum nyari buku yang bahas Parthenon.” “Ah elo, udah deh entar aja pulang sekolah kita balik ke sini lagi, nanti gue temenin.” Dengan berat hati Athena mengiyakan permintaan Dean, lagi pula sejujurnya perut Athena memang sudah merengek-rengek minta diberi asupan. Setelah berpamitan dengan Archen—yang tentunya tidak dihiraukan sama sekali—Athena dan Dean pun bergegas keluar perpustakaan. Saat Athena dan Dean memasuki kantin, kondisi kantin sangat ramai. Hampir tak ada meja yang tersisa. Tetapi kemudian seseorang melambaikan tangan dengan heboh. Siapa lagi kalau bukan Kheanu. Di meja depan tukang nasi goreng sudah ada Kheanu, Dimas, dan Panji yang sedang melahap makan siangnya. Setelah dibujuk berkali-kali oleh Athena, Dean akhirnya mau bergabung bersama 3 sekawan si tukang rusuh. Lagi pula tidak ada pilihan lagi. Bagi Dean lebih baik menahan celotehan mereka bertiga daripada mati kelaparan saat jam pelajaran matematika nanti. “Darimana aja kalian, kok jam segini baru ke kantin?” tanya Kheanu ramah. “Kalian? Lo ngomong sama gue?” jawab Dean sinis. “Buset dah, sinis amat lo, dasar nenek lampir.” Sambung Dimas. “Nenek lampir??? Ihhh, ngeselin banget. Jujur ya Dimas, di antara kalian bertiga, lo tuh orang yang paling nyebelin.” Dimas tidak menghiraukan perkataan Dean, ia malah sibuk melahap suapan terakhir nasi gorengnya. Panji yang sejak tadi diam saja, kini angkat bicara, “Bener juga sih, kalau dipikir-pikir kayaknya selama ini lo yang paling semangat deh Dim kalo ngeledekin si Dian. Tiati loh entar malah naksir sama dia.” Mendengar perkataan Panji tiba-tiba saja Dimas tersedak es teh manis yang sedang diminumnya. Wajah Dimas berubah jadi pucat, namun Dimas mengelak, “Apaan sih lo asal aja kalo ngomong.” Kheanu tidak menghiraukan percakapan antara Dean, Dimas, dan Panji, ia malah sibuk menawarkan jajanan kepada Athena. “Jadi lo maunya apa?” “Gue mau yang pedes-pedes, bakso enak kali ya.” “Oke gue pesenin. Weh Dean, lo mau apa?” “Tumben lo….” “Gak mau nih? Yaudah.” Kheanu langsung bangkit dari kursinya. “Ehhh mauuu, gue samain aja kayak Athenaa.” Jawab Dean sedikit teriak karena Khenua sudah pergi meninggalkan meja. Panji dan Dimas yang saat itu sudah selesai makan langsung pergi meninggalkan kantin. Tentu mereka akan pergi ke halaman belakang sekolah untuk menghabiskan sebatang rokok. Murid-murid nakal di SMA Pelita Bangsa memang sering diam-diam merokok di halaman belakang sekolah atau toilet yang sudah tak terpakai. Tidak jarang Pak Subagyo, guru Bimbingan Konseling, mengadakan razia mendadak. Jika baru ketahuan sekali, maka hukumannya adalah membersihkan kamar mandi, beberapa ruang kelas, bahkan lapangan sekolah. Namun jika sudah sering ketahuan, pihak sekolah bisa saja memanggil orangtua atau memberi skorsing. “Lo gak ikut ngerokok bareng mereka?” tanya Dean terang-terangan. “Enggak, gue mau di sini aja nemenin si Gadis Nomanden.” Athena memutarkan kedua bola matanya, “Heehhh, Athena, bukan Gadis Nomanden. Btw, lo ngerokok?” Kheanu hanya menaikkan alisnya. Athena hanya meng”oh”kan isyarat Kheanu. Ia tidak ingin bertanya lebih jauh, takut salah bicara. “Eh, ngomong-ngomong, study lapangan kita yang ke Bosscha jadi gak sih?” Tanya Athena. “Gak tau, makanya nanti pas pelajaran Geo, gue mau tanya lebih detail ke Bu Siska.” “Kalian ngebet amat sih mau ke Bosscha? Emang ada apaan sih di sana? Lebih asik kalau study lapangan kita ke Dunia Fantasi.” “Yehh, itu sih bukan study lapangan namanya tapi liburan. Gue sih gak tau mau ngapain di Bosscha, pokoknya yang penting gue mau jalan-jalan, bosen tauk sekolah terus.” Jawab Dean asal. “Gue mau lihat bintang pake teropong raksasa, pasti indah!” ucap Athena antusias. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD