SEMBILAN

1272 Words
Saat malam hari kondisi Athena tak kunjung membaik. Puncaknya adalah saat jam 11 malam Athena tubuh sangat menggigil, wajahnya sangat pucat. Malam itu juga orangtua Athena memutuskan untuk membawa Athena ke rumah sakit. Setelah diperiksa oleh dokter, Athena dinyatakan terkena tifus. Ia diminta untuk dirawat di rumah sakit selama beberapa hari sampai kondisinya membaik. Satu hal yang saat itu Athena pikirkan adalah bahwa sudah pasti ia tidak bisa ikut study lapangan ke Observatorium Bosscha.     Bunda Athena yang sudah sangat mengenal putri satu-satunya itu pun berkata, “Gak usah khawatir soal study lapangan, nanti bunda akan serahkan surat keterangan dari rumah sakit kepada gurumu.” “Tapi Bund, Athena pengen banget ke Bosscha.” Ucap Athena pelan. “Iya, nanti kalau kamu sembuh kita ke Bosscha ya, iya kan, Pa?” Papa Athena yang saat itu baru saja selesai mendengar penjelasan dari sang dokter langsung menghampiri Athena, “Iya, kamu tenang aja, yang terpenting sekarang kamu fokus dulu sama kesembuhanmu ya, Nak.” “Gak yakin aku Papa bisa ikut, akhir-akhir ini kan Papa sibuk banget, banyak jadwal Sidang.” Papa Athena adalah seorang Hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Pekerjaan itulah yang menyebabkan keluarganya sering berpindah-pindah kota. Papa Athena memiliki kinerja yang baik, oleh karena itu ia sering dimutasi dari Pengadilan Negeri yang satu ke Pengadilan Negeri yang lain. Puluhan tahun menjadi seorang Hakim membuat Papa Athena sudah menangani banyak kasus. Papa Athena adalah seorang hakim yang bertanggungjawab dan memiliki integritas yang tinggi. Tak jarang beberapa orang mencoba untuk memberikan “uang pelicin” kepada Papa Athena agar kasusnya diselesaikan dengan “baik’, namun tentu saja ia selalu menolak. Karena integritas yang tinggi itu jugalah yang membuat Papa Athena beberapa kali mendapat ancaman bahkan terror dari orang tak dikenal. Baginya, tak masalah jika hanya ia yang diteror, asal jangan sang Istri dan anaknya, ia tahu ia tidak akan selalu bisa berada di samping keluarganya. Oleh karena itu, selama ancaman hanya diberikan kepada dirinya, ia akan berusaha untuk mengabaikannya. “Ya kalau Papa tidak bisa kan masih ada Mas Faiz.” Jawab sang Bunda. Athena hanya memanyunkan bibirnya. Tentu ia tak sungguh-sungguh marah dengan sang Papa, gadis itu hanya sedikit kesal, dan beberapa menit kemudian rasa kesalnya akan hilang. Begitulah Athena, tidak bisa marah terlalu lama pada siapapun. Malam itu Bunda menemani Athena di rumah sakit, sedangkan sang Papa pulang ke rumah untuk mengemas barang-barang yang dibutuhkan selama Athena dirawat di rumah sakit. Pagi hari sebelum kembali ke rumah sakit, tidak lupa sang Papa pergi ke sekolah Athena untuk menyerahkan surat keterangan dari rumah sakit. Ini pertama kalinya beliau ke berkunjung ke SMA Pelita Bangsa, sebab yang mengurus semua kepindahan Athena ke SMA tersebut adalah istrinya. Pagi itu Archen sedang berada di koperasi sekolah untuk memfoto copy beberapa bahan pelajaran. Hingga kemudian ia melihat seorang pria yang tak asing sedang berjalan menuju ruang guru. Memori Archen seolah memberi tahu dengan cepat siapa pria yang ia lihat saat itu, ia adalah Pak Hakim Syarif. Entah kenapa Archen langsung saja menghampiri pria tersebut. “Pak Syarif?” Ucap Archen ragu, jujur saja Archen takut salah menyapa orang. Yang disapa kebingungan, “Eh?” “Saya Archen, Pak, anak almh Ibu Sita.” Syarif mengingat-ngingat siapa Archen dan almh Sita, namun kemudian ia teringat salah satu kasus yang pernah ditanganinya beberapa tahun lalu, “Maaf kalau tidak salah apa kamu anaknya Pak Teriyanto?” Archen benci pertanyaan itu. Lebih tepatnya benci terhadap kenyataan bahwa ia adalah seorang putra dari seorang Teriyanto. Namun Archen tetap harus menghormati seseorang yang ada di hadapannya saat ini. Bagaimana pun juga ia salah satu orang yang memiliki peran dalam hidup Archen. “Iya, Pak, benar.” “Wah, sudah lama sekali kita tidak bertemu, Nak, bagaimana kabarmu?” “Baik, Pak. Maaf kalau boleh tau, bapak ada keperluan apa di sini?” “Ini saya mau kasih surat izin sakit ke wali kelas XII IPS 1, anak saya kebetulan sekolah di sini juga, dan sekarang dia sedang sakit.” Mendengar kelas XII IPS 1 disebut, Archen langsung teringat pada Athena. “Sini biar saya yang menyampaikan kepada wali kelasnya, Pak.” “Oh begitu? Bener nih? Kebetulan saya harus buru-buru kembali ke rumah sakit dan sebentar lagi akan ada jadwal sidang. Saya titip ya, Nak, tolong sampaikan siswi atas nama Athena sedang sakit tifus dan dirawat di rumah sakit.” “Anak Pak Syarif namanya Athena?” Archen kembali bertanya untuk memastikan bahwa dirinya tak salah dengar.  “Iya benar, Athena Dewi Yunani, kamu kenal?” “Kenal, Pak.” Jawab Archen singkat. Setelah menyerahkan surat sakit kepada Archen, Papa Athena, Syarif, langsung bergegas pergi ke rumah sakit. Sementara kepala Archen kini dipenuhi dengan berbagai macam pikiran. Archen pun bergegas menuju ruang guru, namun saat itu Bu Siska sudah masuk kelas XII IPS 1. Sesampainya di kelas XII IPS 1 Archen langsung menyerahkan surat tersebut kepada Bu Siska, dan langsung kembali ke kelasnya. “Anak-anak ibu baru saja mendapat kabar bahwa salah satu teman kita, Athena, saat ini sedang dirawat di rumah sakit, mari kita berdoa bersama-sama untuk kesembuhan Athena, berdoa dimulai.” Dean dan Kheanu sangat terkejut mendengar kabar tersebut. Selesai berdoa Kheanu langsung melempar kertas ke arah Dean dan berbicara pelan, “Kemarin lo anterin Athena sampe rumah, kan?” “Iya, gue anterin kok bareng supir utusan lo.” Ucap Dean sambil melihat ke arah Dimas. Kheanu tidak mengeri apa yang dimaksud “supir utusan”, namun itu tidak penting, yang terpenting bagi Kheanu adalah kemarin Athena pulang ke rumah dengan selamat. Saat jam istirahat Kheanu mengajak Dean untuk menjenguk Athena seusai pulang sekolah. Dean menyetujui, karena memang ia berencana untuk menjenguk Athena hari ini. Tapi dengan syarat bahwa hanya ia dan Kheanu saja. Setelah percakapan dengan Dimas di dalam mobil kemarin, Dean kini merasa canggung, apalagi jika Panji tahu, habis sudah ia akan menjadi bahan olok-olokan dari manusia super nyebelin itu. Kheanu setuju, lagi pula hari ini Panji dan Dimas ada turnamen futsal, kebetulan keduanya mengikuti ekskul futsal di sekolah. Setelah mendapatkan informasi tentang ruangan tempat Athena dirawat dari sang Bunda, Dean dan Kheanu langsung meluncur ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, sudah ada Athena yang sedang disuapin makan oleh Bunda. Bunda Athena langsung mempersilahkan keduanya untuk masuk. Jujur saja, Athena tak menyangka Dean dan Kheanu akan menjenguk hari ini, mengingat baru sehari Athena tidak masuk sekolah. Namun kedatangan mereka berdua merupakan salah satu hiburan baginya. Jujur saja, Athena sudah merasa kesepian selama dirawat di rumah sakit, padahal belum genap 24 jam. Ia merasa bosan, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan selain mengobrol dengan Bunda dan menonton tv. Ia butuh berinteraksi dengan banyak orang, ya, itulah Athena. Dean langsung menghampiri dan memeluk Athena, “Ih, lo sakit apa sih?” tanya Dean. “Tifus nih.” Bukan Kheanu namanya kalau tidak melawak, ia menghampiri Athena dan bertingkah seolah-olah ingin memeluk Athena, tentu saja itu hanya bercanda, ia tidak cukup bodoh untuk memeluk Athena di depan sang Bunda. “Heh jangan macem-macem lo.” Ucap Athena. “Bercandaaaa, lagian kok lu sakit gak ada lemes-lemesnya sih, tetep aja ceria kayak biasanya, jangan-jangan lo pura-pura sakit ya biar gak masuk sekolah?” guyon Kheanu. “Yeh enak aja lo, abis disuntuk vitamin nih gue, makanya udah lumayan enakan.” Jawab Athena. “Lagian yang biasanya pura-pura sakit supaya gak masuk sekolah mah elo kali, Nu.” “Hah? Serius? Gimana-gimana?” tanya Athena antusias. Dean pun menceritakan salah satu kejadian yang menurutnya paling lucu. Saat kelas 11 Kheanu pernah tidak masuk sekolah selama 3 hari berturut-turut, karena khawatir dengan keadaan Kheanu, sang walikelas dan beberapa teman sekelas menjenguknya, namun saat mereka sampai di rumah Kheanu, mereka memergoki Kheanu lagi main Play Station di kamarnya. Mama Kheanu sedang kerja, jadi tentu saja ia tidak tahu kelakuan sang anak. Setelah diintograsi oleh Bu Guru, Kheanu mengaku pura-pura sakit untuk menghindari ujian praktik bahasa Inggris. Kheanu memang sama sekali tidak menyukai pelajaran bahasa Inggris. Hingga saat ini Dean masih selalu tertawa jika mengingat kejadian tersebut. “Teruuus teruuuus, bongkar aja teruuus aib gue di depan Athena.” Athena, dan sang Bunda tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Dean dan melihat respon Kheanu saat itu. Kedatangan Dean dan Kheanu saat itu benar-benar menjadi hiburan tersendiri bagi Athena. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD