Lantai 1 | Episode 26

1432 Words
"Gue duluan, Ris." Disha menyandang ranselnya. "Hati-hati, Mbak." Sahut Aris seiring dengan Disha yang melewati pintu ruangan. Jam tangan sport yang melingkar di pergelangan tangan kirinya hampir menunjukkan pukul sembilan saat Disha keluar dari gedung kantornya. Ia terpaksa jalan kaki hari ini karena ban sepedanya bocor. Bagian paling sial saat ini adalah ucapan Henry kemarin malam tentang bertemu di tanggal dua puluh lima. Disha tidak tahu kenapa laki-laki yang pacaran hanya setahun dengannya itu sampai tidak bisa melupakannya. Disha tidak tahu kenapa ada laki-laki sebrengsek Henry yang masih menyebut soal cinta padahal hubungan mereka termasuk dalam kasus Kekerasan dalam Pacaran—Dating Violence yang belakangan menjadi kasus nomor satu di beberapa negara termasuk Indonesia. Kepingan sialan setahun hubungannya dengan Henry itu sukses membuat kepalanya diserang pusing mendadak. Ingatan tentang bagaimana perlakuan Henry padanya saat mengetahui Disha banyak berteman dengan laki-laki seolah enggan beranjak dari kepala untuk saat ini. Bukan hanya itu, keputusan Disha untuk mencalonkan diri sebagai karyawan yang akan di transfer ke kantor cabang yang baru juga menjadi alasan lain Disha memutuskan hubungannya dengan Henry. Disha mengacak rambutnya, melenyapkan kepingan ingatan yang muncul tanpa bisa dicegah. Langkahnya berhenti, menunggu lampu lalu lintas menyala merah lalu menyeberang. Lelah yang semula terpancar dimatanya, tergantikan oleh emosi yang perlahan merayap naik. Henry bersandar pada Ninja Hitamnya, beranjak setelah Disha sampai di trotoar. Hal paling sial saat ini adalah jalanan itu sudah cukup sepi. "Kamu kelihatan capek, Dis," ujar laki-laki b******k itu dengan senyum ramah yang terlihat sangat-sangat menjijikkan di mata Disha. Belum sempat tangan itu mengusap puncak kepalanya, Disha sudah lebih dulu menepisnya kasar. Henry terkekeh lalu mendekat, menantang mata Disha. "Apa arti cinta buat kamu, Dis?" Henry begitu tenang, tidak seperti terakhir kali mereka bertemu saat Henry mengancamnya habis-habisan karena memutuskan hubungan yang baru berjalan satu tahun. Disha tergelak, "orang kayak kamu nggak pantes ngomongin soal cinta," jawab Disha tanpa ragu. "Maaf karena waktu itu aku bikin kamu sakit hati, jawaban kamu tadi nunjukkin kalau kamu belum bisa lupain aku, lupain kenangan kita." Tai babi! "Dis, aku masih sayang sama kamu. Selama ini, aku nggak bisa jatuh cinta sama siapapun, aku masih cinta sama kamu. Aku mau kamu jadi yang terakhir, Dis." Henry meraih pergelangan tangan Disha, tapi dengan cepat Disha menepisnya. Tatapan tajam Disha tidak menyururutkan niat Henry, laki-laki itu menangkup wajah Disha, melumat bibir gadis yang masih dia cintai sampai sekarang. Disha menahan d**a laki-laki itu, berusaha mendorongnya sekuat tenaga sampai tubuh Henry akhirnya terdorong mundur nyaris terjatuh. "Aku tahu aku g****k, Dis!" Henry berteriak memukul dadanya sendiri, "tapi tolong, kasih aku kesempatan sekali lagi!" Bugh! Disha melepaskan tinjunya menghantam pipi kanan Henry. Sesaat, laki-laki itu tertunduk merasakan nyeri merayapi wajahnya sampai ke kepala. "Jalang b******k! Aku sayang sama kamu! Aku nungguin kamu selama ini! Berkorban buat kamu dan kamu anggap aku anjing sekarang!" Teriak Henry di depan wajah Disha. Amarah Henry sudah memuncak, ia menarik kerah kemeja Disha. Tanpa mempedulikan status Disha yang tetap seorang perempuan seganteng apapun dia, Henry memukul Disha tepat di sudut bibir. Belum sempat Disha membalas, Henry kembali memukulnya dan kali ini pelipis yang menjadi korban bogem mentah itu. Disha nyaris terjungkal saat Henry melepaskan tangannya dari kerah kemeja. Disha mundur tiga detik sebelum pukulan Henry kembali mengenai wajahnya. Kaki kanannya terangkat menghatam keras kepala Henry. Laki-laki itu jatuh ke trotoar, Disha lepas kendali. Diinjaknya d**a laki-laki yang pernah menemaninya selama setahun bekerja di Jogja sebelum delapan bulan kemudian dia dipindahkan ke Surabaya. Tanpa disangka, kaki kiri Henry berhasil menjangkau dan menjegal kaki kiri Disha. Perempuan itu jatuh dengan posisi punggung menghantam trotoar sangat keras, nafasnya sesak dalam hitungan detik. Pandangan Disha buram, samar-samar ia melihat Henry bangkit lalu seseorang datang melepaskan tinjunya begitu cepat sampai Henry kembali jatuh. Ia berusaha menangkap wajah seseorang yang kini ada di sampingnya. Perlahan, teriakan demi teriakan masuk ke telinganya. Semakin jelas. "Disha!" Pandangannya semakin jelas. "Dis! Disha!" Mita, Disha menatap Mita yang menahan tubuhnya di pangkuan. Perlahan, Disha bangun, menangkap Rei yang duduk di atas perut Henry, menghajar laki-laki itu tanpa ampun. "Cukup!" Teriak Disha susah payah karena nafasnya yang memburu. "BERHENTI REI!" Teriak Disha sekali lagi, berhasil membuat Mita bungkam dan Rei berhenti melayangkan tinjunya. Disha bangkit, Mita masih menahan lengannya, takut kalau Disha tiba-tiba jatuh pingsan. Rei beranjak, menjauh dari Henry yang terlentang di trotoar dengan wajah babak belur. Disha merogoh saku celana laki-laki itu, menemukan ponselnya yang ternyata tidak dipasangi passcode. Beruntung ada banyak pesan dari orang yang bernama Satria masuk ke ponsel keluaran Oppo itu. Disha menekan ikon call disudut layar. "Jemput temen lo ke sini sebelum polisi lewat dan dikira mayat." Hanya itu yang dikatakan Disha setelah Satria menjawab telepon dengan panik. Disha memutus sambungan telepon, melempar ponsel itu pada Henry yang tertawa dengan darah yang mengalir dari hidungnya. "Gue minta maaf, tapi gue nggak segoblok itu balik lagi sama lo, sekalipun lo dateng bawa pisau tadi," ujar Disha sebelum meninggalkan Henry bersama Rei dan Mita. Suara panik warga yang lewat mulai terdengar setelah Disha, Rei dan Mita berjalan semakin jauh. Ketiganya berbelok ke arah barisan gedung Surabaya Townhouse, tak ada percakapan, hanya isakan Mita yang terdengar di samping Rei. Disha berhenti, lututnya lemas, tubuhnya jatuh terduduk di trotoar dan berhasil membuat Rei panik setengah mati. Perempuan itu menepis tangan Rei yang berusaha membantunya berdiri. "Kalian udah lihat sendiri, kan?" Suara Disha bergetar, bukan karena menangis tapi karena rasa takut yang akhirnya muncul. Mita menyeka air matanya, Rei diam, keduanya memberi kesempatan pada Disha untuk mengeluarkan isi kepalanya saat ini. "Aku korban kekerasan pacaran." Butuh keberanian luar biasa untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi diantara dia dan Henry, apa penyebab hubungan keduanya rusak dan Henry dendam setengah mati pada Disha. Mita menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya kembali mengalir. Jantungnya bagai ditikam pisau saat ini. Tak jauh berbeda dengan Rei yang membeku di tempatnya. Disha masih duduk di trotoar, nafasnya mendadak sesak, segala kenangan sialan tentang Henry menghantam kepalanya bersamaan. Mengakui kalau dirinya adalah korban kekerasan dalam pacaran bukan hal mudah. Bukan kekerasan seksual melainkan pembatasan segala kegiatan dan kehidupannya, tapi hal itu menjadi satu-satunya alasan kenapa Disha tidak bisa mempercayai siapapun. Laki-laki yang dulu dia kira bisa mengulurkan tangannya, menariknya dari dasar jurang kehidupannya yang hancur akibat keluaraganya, justru menjatuhkannya semakin dalam ke dasar jurang. Menghajar beberapa sahabat laki-lakinya, membentaknya habis-habisan kalau sampai ia ketahuan pergi tanpa pamit, bahkan mengancam Disha saat ia berusaha menghentikan hubungan mereka yang semakin tidak wajar. "Disha." Rei tidak berani mendekat, kenyataan tentang Disha yang dia terima saat ini membuatnya tak bisa mendekat untuk sekadar meyakinkan kalau dia ada untuk perempuan itu. Kalau dia ingin jadi pelindung perempuan itu. "Kalian ngapain? Itu Disha ngapain duduk-duduk di situ?" Suara Arbi memecah segala suasana menyedihkan diantara mereka. Rei mencekal kuat lengan Arbi sebelum laki-laki itu mendekati Disha. Perlahan, Disha bangkit, berjalan susah payah masuk ke dalam gedung lalu naik ke rumahnya. Arbi menoleh, mendapati Mita yang sudah banjir air mata dengan kedua tangan menutup mulut seolah ia bisa menjerit sekarang. "Kenapa? Ada apa sama kalian? Sama Disha?" Arbi bertanya, masih tidak mengerti kenapa Disha masuk ke rumahnya seperti itu, Mita menangis dan Rei yang membatu tanpa berniat menjawab. Arbi memperhatikan Rei dan Mita yang masih tidak bergerak dari tempat mereka, ingatannya berputar pada kejadian beberapa menit lalu. Beberapa warga berkerumun di perempatan arah ke Gramedia, yang diperhatikannya adalah Ninja Hitam yang terpakir di tepi trotoar, motor yang tidak asing baginya itu. Ingatan tentang obrolan Disha dan mantan pacar bajingannya menjelaskan semua secara tidak langsung. Arbi yakin seratus persen kalau Disha baru saja bertemu dengan Henry. "Jangan ganggu Disha untuk sementara, Bi, dia butuh waktu." Rei melepaskan tangannya dari lengan Arbi, menarik Mita yang berusaha menghentikan air matanya. Butuh waktu? Ada sama dia dan si b******n itu? *** Derit pintu terdengar, Raga keluar dari kamar setelah memakai t-shirtnya. Matanya membulat sempurna melihat pelipis kiri Disha berwarna merah keunguan sementara sudut bibir adiknya itu luka mengalirkan darah. "Kamu berantem sama siapa!" Teriak Raga yang tak menyangka melihat Disha pulang dalam kondisi wajah lebam seperti itu. "Henry," suara Disha bergetar. Raga menghampiri Disha yang berhenti tak jauh dari pintu rumah. Dalam beberapa detik, Disha sudah berada dalam pelukan Raga. Tangisan Disha menghancurkan pertahanan dirinya, tangis itu berhasil membuat puluhan pisau menancap di tubuhnya bersamaan. Raga tahu apa yang terjadi diantara Henry dan Disha, tapi dia tidak tahu kalau si b******n itu akan bertindak sejauh ini. Terlambat kalau Raga bertanya, kenapa Disha tidak memberitahunya lebih awal. Yang bisa dilakukan Raga sekarang hanya memeluk Disha, meyakinkan adiknya itu kalau dia tidak akan menghadapi semuanya sendirian lagi. Kalau Raga tak akan pernah membiarkan siapapun kembali menyakiti Disha. "Abang minta maaf udah ninggalin kamu selama ini." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD